WASPADALAH TERHADAP PENYESATAN TERSELUBUNG
( By David Yehuda, Interdenomination Mission School )
Artikel ini bukan dimaksudkan untuk menyerang gereja lain atau individu. Juga bukan bermaksud untuk meninggikan diri seolah-olah kami adalah pribadi yang paling benar dan sempurna. Bila kita berpikir demikian itu berarti kita telah tertipu oleh iblis dan dalam penguasaan kuasa kegelapan. Sangat memprihatinkan, dalam kenyataannya kita temukan kecenderungan sikap demikian. Terdapat orang-orang yang suka menyerang pihak lain, baik terhadap individu perorangan atau gereja sebagai kelompok atau komu-nitas. Kita harus berhenti bersikap demikian. Kita harus menerima bahwa mereka yang memiliki kekurangan atau bahkan penyimpangan sesungguhnya juga saudara kita. Dengan doa dan tindakan kasih, kita seharusnya mengembalikan mereka ke jalan kebenaran tentu disertai Roh yang lemah lembut.
Sementara itu kita harus tetap menjaga hati kita agar tidak terjebak oleh sikap arogan atau kesombongan, seolah-olah kita pribadi atau gereja yang paling benar dan sudah sempurna. Seolah-olah hanya kita yang dikasihi Tuhan, yang mendapat tempat paling terhormat di hadapan Tuhan, lebih suci dari orang lain, lebih diberkati. Lebih parah lagi kalau kita berpikir dan bersikap seolah-olah, hanya kita yang memiliki Tuhan Yesus, hanya kita yang memiliki kuasa Roh Kudus dan kehadiranNya. Memang ternyata terdapat pula pelayan Tuhan yang berusaha menjadi “juara’ di antara pelayan-pelayan Tuhan yang lain, mau menjadi terkemuka. Hendaknya kita kembali kepada prinsip pelayanan Tuhan Yesus: “Barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”. Bila tindakan kita kurang dari prinsip ini berarti dari iblis. Iblis oknum yang memiliki atribut jelas sebagai oknum yang penuh dengan kesombongan. Pemberitaan suara kebenaran ini memiliki tujuan yaitu agar kita terus-menerus mengembangkan pikiran cerdas oleh tuntunan Roh melalui FirmanNya, memeriksa diri sebagai individu dan gereja sebagai lembaga atau komunitas apakah terdapat penyusupan pekerjaan kuasa gelap. Pekerjaan kuasa gelap yang biasanya menyesatkan melalui pengajaran salah yang menciptakan semangat atau spirit ini, menghalangi jemaat Tuhan tidak kunjung jadi rohani.
Realitas Penyesatan
Gereja Tuhan bertumbuh di tengah-tengah dunia ini dengan berbagai pergumulan karena berbagai tantangan dan tekanan. Tantangan atau tekanan itu datang dari dalam maupun luar gereja. Dari luar gereja berupa penganiayaan, penindasan yang berupaya menghambat laju Injil. Dari dalam bentuk pertikaian, penduniawian yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Kristen yang tidak dewasa dan pengajaran sesat atau penyesatan. Dari berbagai tantangan dan tekanan yang dapat menghambat bahkan menghancurkan laju gereja Tuhan, penyesatan atau pengajaran sesat salah satu bahaya yang harus ditanggapi serius. Hal pengajaran sesat ini telah menjadi pergumulan Tuhan sejak gereja pertama atau ketika rasul-rasul masih hidup (Ibr. 13:9; Why. 2:14 dll).
Dari apa yang telah dipaparkan Tuhan Yesus dalam Matius 13:24-30 dapat ditemukan beberapa kebenaran rohani berkaitan dengan penyesatan ini :
1. Penyesatan adalah sesuatu yang pasti ada di dalam gerak kehidupan gereja Tuhan.(ay. 25–bdk. Mat. 18:7).
Gereja Tidak dapat meniadakan penyesatan sebab penyesatan pasti ada, tetapi gereja dapat mengantisipasi dengan bijaksana, sehingga penyesatan tidak menyesatkan gereja dan tidak memberi peluang berkembang.
2. Penyesatan masuk ke dalam gereja tidak terang-terangan (Mat. 13:25).
Harus diperhatikan bahwa penyesatan masuk ke dalam gereja tidak jelas sebagai penyesatan. Penyesatan atau pengajaran sesat secara diam-diam dan terselubung menyusup masuk ke dalam gereja Tuhan. Dikatakan dalam perumpamaan ini bahwa "waktu semua orang tidur musuh menaburkan benih. Dalam hal ini mengertilah kita terhadap apa yang dikatakan Paulus ke pada Timotius anak rohaninya: “Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu.” (1Tim. 4:16) Ayat ini jelas memberi indikasi kepada kita agar sunggguh-sungguh memberi perhatian yang serius terhadap pengajaran sesat di dalam gereja (Mat. 24:4-5; Kol. 2:8 dll)
3. Penyesatan berakibat fatal (ay. 29-30)
Akibat pengajaran sesat atau penyesatan di dalam gereja Tuhan :
a. Tidak dapat mudah tercabut.
b. Menghasilkan orang-orang jahat.
Tentu ajaran yang benar atau benih Firman Tuhan menciptakan anak-anak kerajaan sorga yang akan beroleh kemuliaan Tuhan, tetapi sebaliknya, orang-orang yang "tidak mengerti" Firman Tuhan, sebaliknya menggunakan filsafat hidup dunia ini akanmenjadi manusia jahat yang tidak akan menerima kemuliaan Tuhan.
Kita mengerti betapa sukarnya seseorang mempunyai "pengertian yang benar" tentang Firman Tuhan yang membawanya kepada kehidupan yang benar. Dalam hal ini peranan jemaat dalam menyambut Firman sangatlah penting. Ia harus memiliki hati yang haus dan lapar akan kebenaran dengan rendah hati menyambut Firman Tuhan, di pihak lain hamba Tuhan harus benar-benar menaburkan kebenaran Firman Tuhan bukan ide atau pikirannya sendiri (bdk. 1Kor. 2:4-5)
Sumber Penyesatan Dalam Dunia
Kalau gereja secara terang-terangan menghadapi pengajaran agama lain atau filsafat dunia, mudah mengantisipasinya secara frontal, tetapi kalau yang kita hadapi sesuatu yang dikemas dengan baik, tidak menunjukkan secara nyata-nyata sebagai penyesatan, maka akan lebih sukar mengenali dan mengantisipasinya. Hal ini dapat terjadi di dalam gereja Tuhan yaitu pengajaran dan khotbah yang nampaknya didasar kan pada ayat-ayat Alkitab, tetapi sebenarnya tidak Alkitabiah. Khotbah dan pengajaran yang tidak Alkitabiah ini disebabkan oleh kesalahan tafsir atau pengertian terhadap pokok-pokok yang diajarkan Alkitab. Penyesatan ini bisa terjadi melalui hamba-hamba Tuhan yang berada pada posisi sebagai berikut:
a. Hamba-hamba Tuhan yang belum layak mengajar. Mereka belum diperlengkapi dengan kebenaran yang cukup.
b. Hamba-hamba Tuhan yang berhenti belajar.
c. Hamba-hamba Tuhan yang terkena "polusi dunia". Hamba-hamba Tuhan yang motivasinya tidak murni lagi melayani Tuhan dan hidup tidak benar.
Dalam Mat. 18:6-9 Tuhan Yesus mengancam berat kesalahan para penyesat ini. Kata anak kecil di sini bukan anak sekolah Minggu, tetapi orang percaya yang "seperti anak-anak" (ena ton mikron touton ton pisteuonton eis eme - one of these little ones which believe ini me). Ini menunjuk kepada orang-orang Kristen yang suka dengar-dengaran, mau belajar, mau taat/ seperti "paidion" (hub: Mat. 18:3). Pada masa kini banyak orang Kristen seperti ini . Mereka kurang selektif dalam memilih pengkhotbah. Mereka belum dapat membedakan dusta atau kebenaran, jerami atau rumput hijau, lalang atau gandum. Bila sebuah jemaat sudah terbiasa terkena "virus" ajaran yang kurang sehat ,maka sebagai akibatnya mereka tidak lagi menyukai pengajaran yang benar (bdk. 1 Tim 4:9-11)
Kecerdasan Roh
Iblis oknum yang tidak berhenti bekerja guna menghancurkan pekerjaan Tuhan. Iblis adalah oknum yang cerdik. Lebih cerdik dari apa yang kita duga. Tentu pula lebih jahat dari apa yang kita bayangkan. Tanpa “kecerdasan Roh”, yaitu pengertiankebenaran Firman Tuhan kita bukan saja tidak mengenali tipu daya iblis tetapi kita juga tanpa sadar melawan Tuhan dan kebenaranNya. Dalam hal ini kita temukan pembicara-pembicara di mimbar yang tanpa sadar menyerang kebenaran Tuhan oleh karena kebodohannya. Hal itu dilakukan juga demi membela “ajarannya sendiri”. Tentu segala ajarannya tidak berlandaskan Alkitab melalui penafsiran yang benar adalah ajarannya sendiri. Ajaran-ajaran itulah yang menjadi senjata iblis untuk merusak kehidupan gereja Tuhan dan anggota jemaat yang tulus mau mengerti pengajaran Alkitab. Dengan cara demikian iblis meletakkan dasar-dasar pemalsuan yang membuat pondasi iman orang percaya menjadi rentan atau lemah. Inilah yang membuat orang percaya tidak mampu melihat kebenaran yang sesungguhnya. Pemalsuan demi pemalsuan akan membangun kebutaan rohani sehingga seseorang tidak mengenal kebenaran yang sejati. Bila hal ini terjadi maka seseorang tidak pernah menjadi orang Kristen yang benar-benar rohani. Tentu ia tidak mengerti bagaimana melayani pekerjaan Tuhan dengan benar.
Banyak orang berpikir kebangunan rohani luar biasa yang terjadi di dalam gereja di masa lalu mereka menganggap sudah kebal terhadap tipu daya kelicikan iblis. Perlu diketahui bahwa Ananias dan Safira yang dipukul Tuhan di depan semua orang terjadi di tengah suasana kebangunan rohani dikota Yerusalem (Kis. 5:1-11). Mereka telah tertipu oleh iblis yang menyusup di tengah-tengah suasana kebangunan rohani. Sisi lain yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa terdapat kenyataan seseorang atau gereja memulai pekerjaannnya dengan roh artinya dalam tuntunan Tuhan tetapi berakhir pada daging artinya tertipu oleh kuasa kegelapan sehingga menyimpang dari kebenaran (Gal. 3:3). Dalam Galatia 3:5, salah satu penyesatannya adalah orang-orang Galatia yang berpikir bahwa merekamemperoleh anugerah karunia Roh oleh karena perbuatan baik atau melakukan hukum Taurat, pada hal keselamatan terjadi karena mereka percaya Injil. Ini bukan berarti perbuatan baik tidak perlu. Keselamatan yang menjadi awal dari pencurahan RohNya secara berlimpah-limpah, diberikan kepada kita oleh sebab kasih karunia semata-mata. Setelah kita menerima keselamatan dan bertumbuh dalam Tuhan perbuatan baik kita bertumbuh pula. Jadi kalau ada ajaran bahwa seseorang dikasihi Tuhan dan menerima keselamatan karena “telah berbuat baik”, sekalipun belum percaya Yesus, maka pengejaran ini bertentangan dengan isi Injil. Inilah Injil “yang lain” yang disebut-sebut Paulus dalam Galatia 3 tersebut. Jelaslah itu adalah injil Palsu.
Bahaya besar kalau kita berpikir bahwa iblis sudah tidak berdaya sama sekali. Inilah yang terjadi dewasa ini, banyak orang Kristen berpikir bahwa oleh karena kebangunan rohani terjadi secara luar biasa, gereja bertumbuh menakjubkan, kuasa Roh Kudus dicurahkan begitu dahsyat sehingga melahirkan banyak tanda-tanda ajaib dan mujizat maka iblis dikira atau dianggap sudah kalah dan tersingkir. Ini merupakan bahaya besar kalau kita berpikir bahwa kita terlalu cerdik dan berhikmat, sehingga iblis tidak bisa menipu kita. Pada hal iblis memiliki banyak cara tipu daya dengan segala kecerdikan untuk menyesatkan banyak orang. Inilah cara lain yang dilakukan iblis untuk menyesatkan manusia yaitu dengan membisikkan suara kepada mereka dan meyakinkan bahwa mereka orang suci, berhikmat, penuh Roh Kudus, sudah berdoa, sudah sekolah Alkitab, dll sehingga tidak dapat ditipu oleh iblis. Pernahkah saudara berpikir mengapa Salomo pada hari tuanya bisa menjadi sesat (1Raj. 11). Bukahkah ia adalah seorang yang berhikmat, bahkan memiliki hikmat yang lebih dari kebanyakan orang. Iblis ternyata masih bisa atau mampu menjatuhkan Salomo. Betapa cerdiknya iblis itu. Oleh sebab itu seorang yang dipenuhi Roh Kudus juga belum tentu kebal terhadap serbuan tipu daya iblis. Ia harus terus berjaga-jaga hidup dalam kepenuhan Roh Kudus dan Firman Tuhan. Jangan kepenuhan Roh yang dialaminya membuat ia menjadi sombong dengan demikian ia dapat dijatuhkan iblis. Harus dicatat bahwa kepenuhan Roh atas seseorang tidak mengambil kehendak bebas individu tersebut.
Untuk menanggulangi tipu daya iblis yang kita butuhkan “kecerdasan Roh”. Kecerdasan Roh adalah hikmat yang dimiliki oleh seseorang hasil dari pengertiannya akan Firman Tuhan dan kepekaan mendengar suara Roh Tuhan. Kecerdasan Roh setiap individu harus dikembangkan, sebab hal ini sangat menentukan perilaku dan tindakan hidup seseorang. Perkembangan atau pertumbuhan kecerdasan rohnya akan menjadikan ia cerdas seperti Yesus cerdas yang dapat mendeteksi sempurna setiap tipu daya iblis, sehingga iblis tidak dapat memperdayaNya. Untuk ini Roh Kudus akan mengasuh kita guna mengembangkan kecerdasan Roh (Yoh. 16:13).
Serbuan Pasukan Iblis
Iblis tidak akan berhenti menyerang orang-orang saleh sampai orang-orang dapat disesatkan dan hidup dalam kendalinya. Berbahaya sekali kalau kita tidak menyadari peperangan dan serbuan yang begitu dahsyat atas gereja Tuhan. Dalam hal ini kita dapat menemukan pelayan-pelayan jemaat dan anggota jemaat yang telah terkena tipu daya kelicikan iblis. Gereja sebagai lembaga mengalami kegagalan rohani, kalau tidak dapat mengenali tipu daya iblis yang bekerja dalam diri pengerja-pengerja dan anggotanya. Bila terjadi demikian maka terdapat aktivitas-aktivitas di dalam gereja yang sebenarnya digerakkan oleh kekuatan dari kerajaan kegelapan. Di sini banyak pelayan-pelayan jemaat dan anggotanya menjadi permainan iblis tanpa disadari oleh diri mereka dan orang lain disekitarnya. Contoh nyata dalam Perjanjian Lama, Daud yang disesatkan oleh pikiran dan hasratnya untuk menghitung jumlah rakyatnya. Ia tidak menyadari bahwa hal itu datang dari iblis (1Taw. 21:1). Dalam Perjanjian Baru juga dapat kita temukan penyesatan yang sangat “halus” dan cerdas dari iblis terhadap Petrus guna menghambat dan merusak rencana Tuhan (Mat. 16:22-23). Iblis berbisik kepada Petrus agar menggagalkan rencana perjalanan Tuhan Yesus ke Yerusalem untuk menanggung penderitaan salib. Penipuan-penipuan semacam itu kalau tidak diamati dengan seksama dengan “kecerdasan Roh” akan menipu atau menyesatkan kita.
Saluran Penyesatan dan Tujuannya
Penyesatan dalam gereja terjadi melalui beberapa saluran. Saluran-saluran itu harus dikenali dengan teliti, agar kita terhindar dari penyesatan. Salah satu saluran penyesatan tersebut bisa melalui pengajaran yang tidak beralas pada kebenaran Firman Tuhan. Pengajaran sejenis itu disebarkan melalui khotbah yang tidak diangkat dari penafsiran yang benar. Pengajaran-pengajaran tersebut dikemas menjadi doktrin dan tanpa disadari oleh anggota jemaat doktrin-doktrin tersebut diakui sebagai Firman Tuhan atau sejajar dengan Firman Tuhan. Pengajaran hasil pikiran manusia yang bercampur dengan pemikiran dari roh-roh jahat terkadang melahirkan pengajaran yang logis atau wajar dan mudah diterima. Pengajar atau penafsirnya berpikir bahwa kesimpulan dari idenya adalah suara Roh Kudus atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan. Kita harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh iblis (2Kor. 11:2-3). Dengan kalimat lain dapat dijelaskan bahwa pikiran manusia atau idenya dapat menjadi kendaraan pikiran atau rencana iblis (Mat. 16:22-23). Dalam hal ini kita dapat menemukan bahwa seorang pengajar atau pembicara di mimbar memiliki tanggung jawab dan pergumulan yang berat. Pertumbuhan rohani dan kwalitas iman jemaat tergantung oleh isi pengajaran pembicara atau pengkhotbah dalam gereja. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa seorang guru atau pengajar akan dihakimi dengan ukuran yang lebih berat. (Yak. 3:1).
Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sehat atau tidak, sesat atau benar harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab. Ukurannya bukanlah tabiat orang yang mengajarkan kebenaran tersebut semata-mata. Memang pada akhirnya kita dapat membedakan nabi palsu atau tidak tergantung dari “buahnya” (Mat. 7:15-23). Namun dalam kondisi tertentu kita membutuhkan klarifikasi segera sebelum kita terjebak lebih dalam ke dalam penyesatannya. Untuk itu kita harus menggunakan Alkitab sebagai tolak ukurnya. Harus dipahami bahwa iblis bisa mengelabui kita dengan cara-cara yang sangat cerdik. Pengajar-pengajar palsu akan ditampilkan sebagai orang baik, lemah lembut, berkuasa dll, dengan demikian ia dapat menyesatkan banyak orang. Tidak sedikit orang kecewa setelah menemukan ternyata seorang pimpinan gereja atau persekutuan ternyata sesat. Pada hal ia telah mengorbankan tenaga, uang dan berbagai pengorbanan lain untuk mendukung kegiatan pelayanannya. Oleh sebab itu setiap kita harus dengan jeli, untuk selalu mengawasi seorang pemimpin jemaat, pembicara atau pengkhotbah melalui kebenaran Firman Tuhan. Hal ini disuarakan jelas oleh Yohanes dalam suratnya: Bahwa berhubung banyak nabi palsu pergi ke seluruh dunia maka kita harus menguji setiap roh (1Yoh. 4:1).
Ciri-ciri dari penyesatan melalui pengajaran dapat dikenali melalui beberapa catatan di bawah ini :
1. Melemahkan otoritas Alkitab dengan mengabaikan pendalaman Alkitab yang menjadi dasar pengajaran atau doktrin Kristen.
Mengabaikan pendalaman Alkitab artinya menganggap mengerti isi Alkitab itu gampang, dengan sembrono menafsirkan ayat-ayat Alkitab tanpa mau mengerti latar belakang Alkitab; teks asli Alkitab; prinsip menafsir, dll. Bila terjadi demikian maka biasanya seseorang akan menjadikan pengalaman pribadi sebagai landasan iman orang lain atau jemaat. Oleh sebab itu kita harus merasa bertanggung jawab dan terpanggil untuk menggali kebenaran Tuhan di dalam Alkitab.
2. Menampilkan pemikirannya tanpa mencari landasan yang mapan dalam Alkitab.
Seperti yang disinggung di atas bahwa pemikiran yang bukan berasal dariTuhan adalah dari iblis. Dengan cara inilah nabi palsu mengubah pengajaran. Pembicara atau pengkhotbah seperti ini biasanya menambah Alkitab dengan pemikiran manusia. Memang tidak semua mereka mausengaja menyesatkan orang lain, tetapi oleh karena malas dan enggan mengeksplorasi Alkitab maka pikiran iblislah yang diimport dan terjadilah penyesatan. Dalam hal ini sebagai pendengar jemaat harus menguji roh dengan seksama. Menguji pengajaran yang disampaikan ; apakah berasal dari Tuhan atau kuasa lain.
Oleh sebab itu jangan mengenali ajaran sesat hanya sebagai saksi Yehova, Mormon, Jim Jones, gereja setan dan sejenisnya atau yang dianggap lebih gawat lagi seperti dukun; para normal; horoskop. Bahaya yang lebih besar sekarang ini datang dari gereja Tuhan yang dianggap benar, murni, terdapat kehadiran Tuhan tetapi justru ditempat tersebut hadir “pikiran-pikiran” dari kuasa kegelapan yang tidak menggiring iman Kristen kepada kesetian yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-4). Dengan cara ini pula iblis menyesatkan umat Tuhan. Memang kita harus dapat membedakan antara hadirat Tuhan dan peledakan emosi atau perasaan. Urapan Roh Kudus atau khidmat jiwani yang bisa dikondisi oleh pemimpin di mimbar pada waktu kebaktian. Kita membutuhkan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan yang diangkat dari Alkitab melalui proses pendalaman Eksplorasi dan Eksegesis kritis Alkitabiah. Inilah modal dasar bangunan hidup rohani kita. Demonstrasi kuasa Tuhan yang menakjubkan bisa kita butuhkan dalam gereja, kegiatan-kegiatan sosial dan sejenisnya dapat kita selenggarakan di dalam gereja, tetapi semuanya itu hendaknya tidak menyisihkan tempat untuk kebenaran yang harus diutamakan. Sebab bila kita menyisihkan kebenaran Firman Tuhan dari tempatnya berarti gereja telahterkena perangkap iblis.
Tujuan Penyesatan dan Kelompok Yang disesatkan
Penyesatan memiliki tujuan yang sangat sistimatis dan jelas, dikerjakan oleh Iblis dengan segala tentara dan kekuatannya. Tujuan penyesatan iblis dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Membutakan mata rohani seseorang untuk tidak mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sebaliknya iblis membisikkan fitnah dan hujatan dengan berbagai tuduhan, seperti: Ia bukan Tuhan , Ia sekedar nabi, Ia meninggikan diri sebagai sama denganTuhan, menghujat Tuhan dll. Hal ini akan membuat seseorang takut percaya kepada Tuhan Yesus (2Kor. 4:4).
2. Meracuni pikiran orang Kristen dengan pemikiran yang salah agar mereka tidak bertobat dan mengalami kelahiran baru. Iblis membisikkan suaranya agar sebagian orang Kristen merasa tidak perlu dilahirkan baru atau mengalami pertobatan, merasa sudah baik, bermoral dan beragama. Biasanya iblis juga membisikkan suaranya untuk memfitnah orang Kristen yang sungguh-sungguh sebagai “ekstrim”, keterlaluan, sesat dll.
3. Meracuni pikiran orang Kristen yang sudah bertobat dan mengalami kelahiran baru untuk tidak perlu bertumbuh di dalam Dia. Menganggap bahwa pertobatannya sudah cukup membuat ia berkenan kepada Tuhan. Dan beranggapan kalau bersungguh-sungguh di dalam Tuhan akan mengakibatkan tidak diterima oleh masyarakat, dan gagal menjadi berkat. Karenanya mereka memberi porsi yang sangat terbatas untuk perkara-perkara rohani.
4. Menyimpangkan pikiran orang percaya yang sudah bertobat dan memiliki komitmen untuk taat dan bersungguh-sungguh dalam Tuhan agar ia tidak perlu mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Penyimpangan pikiran ini penyesatan yang dapat membinasakan (2Kor. 11:2-4).
Kelompok Yang Disesatkan
Penyesatan ini bisa terjadi atas berbagai kelompok manusia sesuai dengan tingkat rohani mereka :
1. Orang-orang di luar anugerah salib disesatkan oleh berbagai agama-agama palsu dunia dan filsafatnya.
Mereka berpikir bahwa salib adalah pemberitaan bodoh, tidak mengandung keselamatan dan tidak berasal dari Tuhan (1Kor. 1:18). Kelompok ini biasanya menjadi oposisi yang menentang secara frontal dan secara fisik kekristenan, tidak jarang mereka sebagai pelaku aniaya terhadap umat pilihan Tuhan. Pada dasarnya mereka adalah bagian dari gelombang pasukan antikris.
2. Orang Kristen yang menjadi Kristen sejak kecil, menjadi Kristen bukan karena pertobatan atau mengenal secara pribadi Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tetapi karena “warisan agama”.
Mereka adalah orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran Injil, kelompok ini adalah kelompok orang “beragama Kristen” yang hidup dalam tawanan kuasa kegelapan. Ciri-ciri dari orang Kristen ini adalah:
- Berpola pikir tidak jauh berbeda dengan pola pikir anak-anak dunia. Dan berkelakuan seperti anak-anak dunia dengan standart moralnya.
- Pemahaman mereka tentang Tuhan adalah hasil dari serapan yang mereka lakukan atau tanpa sadar mereka terima dari agama-agama di masyarakat dimana mereka berdomisili. Itulah sebab nya mereka adalah kelompok orang Kristen yang tidak memiliki atoleransi iman, mereka kompromi dengan iman yang tidak berakar pada Alkitab yaitu iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan ajaran Alkitab. Memang kita harus memiliki toleransi terhadap agama–agama tetangga atau anggota masyarakat di sekitar kita, tetapi di dalam iman kepada Tuhan Yesus kita harus atoleransi. Kita tahu bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama yang diberikan kepada manusia yang di dalamnya manusia beroleh keselamatan (Kis. 4:12).
- Miskinnya pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan cenderung bersikap sinkritisme dalam bentuk membuka diri terhadap ajaran-ajaran yang tidak berakar pada Alkitab, melakukan praktek-praktek okultisme yaitu ke dukun, terlibat horoskop dll.
- Kelompok ini sering diidentifikasi sebagai Kristen KTP. Kristen tanpa pertobatan, Kristen tanpa pengalaman maksudnya pengalaman pribadi dengan Tuhan. Tentu mereka belum bertobat dan tidak mengenal arti keselamatan dalam Yesus Kristus secara benar. Tidak sedikit mereka yang ke gereja tetapi sekedar menjadikan Kekristenan sekedar agama. Pada umumnya mereka memandang orang Kristen yang “bersungguh-sungguh” mengiring Tuhan dengan benar sebagai orang Kristen ekstrem atau keterlaluan.
Iblis akan berusaha sekuat tenaga melestarikan kondisi ini agar mereka tetap dalam kebodohan dan hidup keberagaman semu. Mereka menjadi orang-orang beragama yang tidak bertuhan artinya tidak memiliki bergaulan pribadi dengan Tuhan.
3. Orang Kristen yang telah lahir baru atau sudah bertobat, mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tetapi tidak memiliki kesungguhan untuk betumbuh dalam iman yang benar.
Ciri-ciri dari kelompok ini adalah:
- Kelompok ini merasa sudah bertobat, merasa memiliki kerohanian lebih dari mereka yang belum bertobat. Mereka berpikir bahwa pertobatannya adalah modal satu-satunya yang dapat diandalkan untuk memperoleh perkenanan Tuhan. Memang pertobatan adalah tindakan yang berkenan kepada Tuhan tetapi pertobatan barulah awal dari perjalanan hidup Kekristenan yang panjang.
- Pergi ke gereja. Bahkan pada pertengahan Minggu bisa pergi ke gereja atau ke kebaktian persekutuan doa.
- Ke gereja sudah mulai membawa Alkitab dan catatan untuk mencatat khotbah pendeta, dan lebih serius memperhatikan khotbah pendeta tetapi tidak memberi seluruh wilayah hati dan hidupnya untuk Tuhan.
- Membatasi pekerjaan Roh Kudus dalam hidup dengan berpikir bahwa mereka tidak perlu menjadi orang Kristen yang “habis-habisan” untuk Tuhan. Untuk itu mereka menjaga kewajaran hidup, kurang berani dikatakan sebagai orang Kristen “ekstrem”. Biasanya kalau sudah demikian mereka masih kompromi dengan pola hidup manusia sekitar kita yang tidak berdasar pada kesucian Tuhan.
- Dalam perjalanan hidup kekristenannya, kemudian mereka menjadi orang-orang Kristen yang manipulatif artinya menjadi orang Kristen yang hanya karena memanfaatkan Tuhan atau Kristen opportunis yaitu orang Kristen yang ke gereja hanya karena keuntungan duniawi.
- Pada umumnya mereka adalah kelompok orang Kristen yang jatuh bangun, kehidupan rohaninya tidak stabil.
Kondisi ini sangat berbahaya sebab mereka yang sudah mengenal kebenaran dituntut lebih banyak, bila tidak mengerti panggilan untuk bertumbuh maka bisa menjadi lebih jahat dari pada keadaannya sebelum bertobat (Mat. 12:43-45). Iblis memang akan berusaha menghambat pertumbuhan rohaninya dengan menghujani berbagai kesibukan, menekan dengan berbagai masalah supaya perhatiannya dapat dialihkan dari memperhatikan kebenaran Firman Tuhan guna pertumbuhan imannya.
4. Orang Kristen yang sudah bertobat dan bersungguh-sungguh mengiring Tuhan dan memiliki komitmen yang kuat untuk bertumbuh dalam iman.
Mereka bukan kelompok yang bebas dari penyesatan. Iblis akan melancarkan serangannya secara halus dan intensif guna menjatuhkan mereka. Iblis akan menyerang melalui berbagai sarana dan saluran.
- Kekecewaan dan kepahitan terhadap saudara seiman atau bahkan orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin jemaat atau hamba Tuhan. Iblis menggunakan sasaran ini memang sangat efektif untuk menghentikan laju perjalanan hidup kekristenan mereka.
- Iblis akan berusaha untuk merangsang sekuat-kuatnya kelemahan daging yang dimilikinya untuk menjatuhkan.
- Iblis akan mendorong mereka menjadi pendeta atau pelayan jemaat “fulltimer” sehingga harus meninggalkan pekerjaan atau usaha nafkahnya. Dengan demikian mereka tidak mengikuti rencana Tuhan tetapi rencananya sendiri. Korbannya adalah keluarga, anak-anak dan banyak orang yang seharusnya menjadi bagiannya di tempat di mana ia bekerja atau berwiraswasta. Inibukan berarti menghalangi saudara yang berniat untuk “fulltimer”, tetapi hendaknya kita sungguh menemukan rencana agung Tuhan untuk hidup kita masing-masing. Bila saudara berniat untuk menjadi tenaga “fulltimer” dalam gereja, saudara harus menemukan waktu Tuhan. Bukan waktu kita. Ingat Zakheus dipanggil Tuhan untuk bertobat tetapi tidak dipanggil untuk meninggalkan pekerjaannya (Luk. 19:1-10). Berbeda dengan Matius yang juga adalah pemungut cukai dipanggil Tuhan untuk menjadi muridNya dengan harus meninggalkan profesinya (Mrk. 2:13-17).
- Oleh karena merasa sudah bertobat, memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan, memiliki komitmen yang kuat untuk Tuhan maka tanpa sadar didorong iblis untuk menjadi bangga “atas dirinya sendiri”. Kebanggaan yang tidak terkendali meng-hasilkan kesombongan. Apalagi kalau memiliki pengalaman khusus dengan Tuhan atau mengalami karunia-karunia Roh dalam hidupnya. Sering menjadi lupa diri dan merasa bahwa iamemiliki “jasa” tertentu di hadapan Tuhan lebih dari sesama orang Kristen lain.
- Bila berhasil mencapai jenjang kesucian tertentu kadang menjadi moralis, memandang rendah saudara seiman yang lain seolah-olah ia sendiri yang paling terhormat di mata Tuhan. Kesombongan semacam ini sering tidak disadari, pada hal Tuhan sangat menentangnya (Yak 4:6). Iblis melancarkan penyesatannya sangat licin, halus dan cerdas sehingga banyak yang tertipu dan dijatuhkan. Kelompok ini termasuk kelompok para hamba-hamba Tuhan.
Ada banyak bentuk-bentuk penyesatan, bila semua bentuk penyesatan tersebut dijelaskan maka satu buku saja belum cukup menjelaskannya. Dalam hal ini saya hanya menjelaskan hal-hal banyak terjadi diantaranya umat Tuhan atau gereja Tuhan tetapi tidak dikenali oleh banyak orang. Bentuk-bentuk penyesatan ini bukan pada orang non Kristen, tetapi penyesatan yang terjadi khususnya dalam hidup orang Kristen yang sudah bertobat dan tertanam di dalam gereja.
Jumat, 01 November 2013
“ MENGALAHKAN RAKSASA EGO & HAWA NAFSU “
“ MENGALAHKAN RAKSASA EGO & HAWA NAFSU “
“ Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” ( Yak 4:1 )
Musuh terbesar di dalam kehidupan orang-orang percaya adalah hawa nafsu yang ada dalam setiap pribadi yang pada suatu waktu bisa muncul dalam kondisi tertentu, dan raksasa ini harus dikendalikan dan ditaklukkan serta dikalahkan. Tanpa penyangkalan diri, maka raksasa hawa nafsu ini akan menguasai kehidupan kita. Raksasa hawa nafsu ini mampu mempengaruhi pikiran dan cara bicara kita, raksasa ini mampu mengendalikan seluruh akal pikir kita ketika kita tidak menyangkalinya dan mengalahkannya. Petrus, salah seorang murid Tuhan, pernah disusupi raksasa ini dan berkata kepada Yesus, “ kiranya Tuhan menjauhkan hal itu “ ( Mat 16:23 ). Raksasa seperti ini harus diwaspadai karena begitu kuat pengaruhnya, ia mau berkuasa dan mengendalikan kita sehingga kita tidak mampu melihat rencana Tuhan dalam hidup kita dan bagi kita. Iblis berusaha menghancurkan kita dan dia menyeret kita melalui raksasa ego & hawa nafsu sehingga kita memikirkan sesuatu yang tidak lagi selaras dengan rencana Tuhan dan firman-Nya.
Di mana ada perselisihan, di sana ada kepentingan diri, iri hati, tamak dan lain sebagainya. Manusia yang tidak mau menyangkalinya dan memikul salibnya setiap hari ( Luk 9:23 ), maka manusia tersebut akan banyak membawa permasalahan di manapun ia berada. Di dalam jemaat Tuhan pun bisa muncul pertengkaran dan perselisihan karena ada hawa nafsu dan ego yang berupa kepentingan diri sendiri maupun kelompok.
Kekristenan harus berubah cara berpikirnya, supaya bertumbuh dan dewasa serta siap menjadi mempelai Kristus. Di mana ada sesuatu yang tidak mengenakkan dan tidak menyenangkan, maka itu adalah ladang kesempatan untuk mengasihi dan melakukan kebajikan, termasuk ketika ada yang memfitnah, ketika ada yang berupaya menghancurkan kita dengan berbagai tipu muslihat dan saat kita disakiti. Ada pengampunan dan ada aliran kasih yang mengalir karena kasih menutup banyak dosa dan dengan demikian kita menaklukkan raksasa hawa nafsu dan mengalahkannya.
“ Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila Ia sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman “ ( Gal 6:9-10 ).
Kalau kita membiarkan hawa nafsu menguasai hidup kita, maka kita sama dengan penyembah berhala, walaupun kita aktif di gereja, bahkan ikut melayani. Tidak ada cara lain, dan oleh sebab itu kita harus memerangi dan mengalahkan hawa nafsu tersebut. “ Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala “ ( Kolose 3:5 ).
Kalau kita tidak bisa mengendalikan dan bahkan tidak mengalahkan hawa nafsu tersebut, maka kita mengotori gereja Tuhan dengan berbagai macam kejahatan yang berkedok kegiatan rohani, mencari kedudukan dan pujian serta mencari keuntungan serta menipu jemaat yang belum dewasa imannya dengan berbagai ajaran yang tidak sehat yang berlatar belakang uang dan berbagai motif lainnya. Jangan salahkan Tuhan, jika Ia sekali lagi memegang cambuk dan mengusir mereka yang berdagang dengan tingkah polah berjubah rohani dan menyalahgunakan karunia yang Tuhan berikan.
Setiap orang bisa dengan mudah mengatakan dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi belum tentu ia memberikan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus yang berdiam di dalam dirinya, bahkan hidupnya penuh dengan hawa nafsu dan segala hal keduniawian. Orang yang seperti ini sadar maupun tidak adalah mendukacitakan Roh Kudus. Merasa kuat dan penuh kepercayaan diri karena memiliki karunia dan urapan, yang sebenarnya itu diberikan untuk kemuliaan Tuhan. Contoh kasus adalah Simson, penuh dengan Roh Tuhan, namun gagal mengendalikan hawa nafsunya dan gagal menaklukkan keduniawiannya, sehingga akhirnya Roh Tuhan undur dari padanya. Jadi janganlah kita mengawali dengan roh, namun mengakhiri dalam daging, karena hal itu menuju kepada kebinasaan.
Roma 8:13 & 14 berkata, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah “
Kesimpulan :
1. Kuasailah diri kita dalam segala hal dan kalahkan hawa nafsu dengan hidup dalam rencana Tuhan.
2. Buang jauh-jauh rasa keduniawian, supaya raksasa hawa nafsu dan ego berlalu dari kehidupan kita.
3. Milikilah kasih persaudaraan dan berilah pengampunan bagi mereka yang mungkin telah menyakiti kita, karena kasih menutupi banyak dosa.
4. Bersyukurlah dalam segala keadaan dan janganlah jemu berbuat baik.
5. Hiduplah dengan penuh penundukan diri terhadap otoritas Tuhan dan ijinkan Roh Kudus mengendalikan hidup kita.
Damai sejahtera dan kasih karunia menyertai kita sekalian, penyertaan-Nya ada di atas seluruh kehidupan kita dan kasih-Nya tak berkesudahan mengaliri setiap aspek kehidupan kita. Terpujilah Tuhan…., dari kekal sampai kekal. Amin.
“ Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” ( Yak 4:1 )
Musuh terbesar di dalam kehidupan orang-orang percaya adalah hawa nafsu yang ada dalam setiap pribadi yang pada suatu waktu bisa muncul dalam kondisi tertentu, dan raksasa ini harus dikendalikan dan ditaklukkan serta dikalahkan. Tanpa penyangkalan diri, maka raksasa hawa nafsu ini akan menguasai kehidupan kita. Raksasa hawa nafsu ini mampu mempengaruhi pikiran dan cara bicara kita, raksasa ini mampu mengendalikan seluruh akal pikir kita ketika kita tidak menyangkalinya dan mengalahkannya. Petrus, salah seorang murid Tuhan, pernah disusupi raksasa ini dan berkata kepada Yesus, “ kiranya Tuhan menjauhkan hal itu “ ( Mat 16:23 ). Raksasa seperti ini harus diwaspadai karena begitu kuat pengaruhnya, ia mau berkuasa dan mengendalikan kita sehingga kita tidak mampu melihat rencana Tuhan dalam hidup kita dan bagi kita. Iblis berusaha menghancurkan kita dan dia menyeret kita melalui raksasa ego & hawa nafsu sehingga kita memikirkan sesuatu yang tidak lagi selaras dengan rencana Tuhan dan firman-Nya.
Di mana ada perselisihan, di sana ada kepentingan diri, iri hati, tamak dan lain sebagainya. Manusia yang tidak mau menyangkalinya dan memikul salibnya setiap hari ( Luk 9:23 ), maka manusia tersebut akan banyak membawa permasalahan di manapun ia berada. Di dalam jemaat Tuhan pun bisa muncul pertengkaran dan perselisihan karena ada hawa nafsu dan ego yang berupa kepentingan diri sendiri maupun kelompok.
Kekristenan harus berubah cara berpikirnya, supaya bertumbuh dan dewasa serta siap menjadi mempelai Kristus. Di mana ada sesuatu yang tidak mengenakkan dan tidak menyenangkan, maka itu adalah ladang kesempatan untuk mengasihi dan melakukan kebajikan, termasuk ketika ada yang memfitnah, ketika ada yang berupaya menghancurkan kita dengan berbagai tipu muslihat dan saat kita disakiti. Ada pengampunan dan ada aliran kasih yang mengalir karena kasih menutup banyak dosa dan dengan demikian kita menaklukkan raksasa hawa nafsu dan mengalahkannya.
“ Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila Ia sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman “ ( Gal 6:9-10 ).
Kalau kita membiarkan hawa nafsu menguasai hidup kita, maka kita sama dengan penyembah berhala, walaupun kita aktif di gereja, bahkan ikut melayani. Tidak ada cara lain, dan oleh sebab itu kita harus memerangi dan mengalahkan hawa nafsu tersebut. “ Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala “ ( Kolose 3:5 ).
Kalau kita tidak bisa mengendalikan dan bahkan tidak mengalahkan hawa nafsu tersebut, maka kita mengotori gereja Tuhan dengan berbagai macam kejahatan yang berkedok kegiatan rohani, mencari kedudukan dan pujian serta mencari keuntungan serta menipu jemaat yang belum dewasa imannya dengan berbagai ajaran yang tidak sehat yang berlatar belakang uang dan berbagai motif lainnya. Jangan salahkan Tuhan, jika Ia sekali lagi memegang cambuk dan mengusir mereka yang berdagang dengan tingkah polah berjubah rohani dan menyalahgunakan karunia yang Tuhan berikan.
Setiap orang bisa dengan mudah mengatakan dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi belum tentu ia memberikan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus yang berdiam di dalam dirinya, bahkan hidupnya penuh dengan hawa nafsu dan segala hal keduniawian. Orang yang seperti ini sadar maupun tidak adalah mendukacitakan Roh Kudus. Merasa kuat dan penuh kepercayaan diri karena memiliki karunia dan urapan, yang sebenarnya itu diberikan untuk kemuliaan Tuhan. Contoh kasus adalah Simson, penuh dengan Roh Tuhan, namun gagal mengendalikan hawa nafsunya dan gagal menaklukkan keduniawiannya, sehingga akhirnya Roh Tuhan undur dari padanya. Jadi janganlah kita mengawali dengan roh, namun mengakhiri dalam daging, karena hal itu menuju kepada kebinasaan.
Roma 8:13 & 14 berkata, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah “
Kesimpulan :
1. Kuasailah diri kita dalam segala hal dan kalahkan hawa nafsu dengan hidup dalam rencana Tuhan.
2. Buang jauh-jauh rasa keduniawian, supaya raksasa hawa nafsu dan ego berlalu dari kehidupan kita.
3. Milikilah kasih persaudaraan dan berilah pengampunan bagi mereka yang mungkin telah menyakiti kita, karena kasih menutupi banyak dosa.
4. Bersyukurlah dalam segala keadaan dan janganlah jemu berbuat baik.
5. Hiduplah dengan penuh penundukan diri terhadap otoritas Tuhan dan ijinkan Roh Kudus mengendalikan hidup kita.
Damai sejahtera dan kasih karunia menyertai kita sekalian, penyertaan-Nya ada di atas seluruh kehidupan kita dan kasih-Nya tak berkesudahan mengaliri setiap aspek kehidupan kita. Terpujilah Tuhan…., dari kekal sampai kekal. Amin.
~ WASPADA TERHADAP PENYIMPANGAN SEX DI TENGAH KEHIDUPAN ORANG PERCAYA ~
~ WASPADA TERHADAP PENYIMPANGAN SEX DI TENGAH KEHIDUPAN ORANG PERCAYA ~
Hati-hati dan Waspada, hiduplah di dalam kebenaran Firman Tuhan dan jadilah pelaku Firman. Penulisan Artikel ini bukan bermaksud menyerang tatanan gereja maupun organisasinya, dan juga artikel ini bukan bertujuan mendiskreditkan golongan tertentu, melainkan artikel ini membuka mata orang percaya atas dasar kebenaran firman Tuhan serta mengajak orang-orang percaya untuk peka melihat lingkungan sekitarnya supaya tidak terseret ke dalam penyimpangan-penyimpangan yang membinasakan.
Dalam era keterbukaan seperti sekarang ini, semua orang semakin berani dan penuh percaya diri dalam menampilkan eksistensi diri. Setiap orang bebas mengekspresikan siapa dirinya tanpa takut jika ada yang menentang. Jika pada zaman dahulu kaum homoseks malu mengakui bahwa dirinya gay atau lesbi, saat ini mereka sudah berani mengakui jati diri mereka secara terang-terangan di depan publik. Atas nama “persamaan hak”, kaum homoseks memakainya untuk mengkampanyekan homoseksual. Mereka berpendapat bahwa hubungan seks dengan sesama jenis merupakan suatu “gaya hidup alternatif” yang menyenangkan, modern, dan alamiah. Dan barangsiapa yang menentangnya dianggap kurang toleran dalam masyarakat yang majemuk ini. Kaum homoseksual pun mendapat dukungan dari berbagai kalangan (sosial, psikologi, agama, dll). Bahkan saat ini beberapa negara sudah melegalkan perkawinan sejenis, seperti di Belanda, Belgia, Norwegia dan Swedia.
Homoseksualitas Dalam Gereja dan Penyebabnya
Wikipedia memberi penjelasan, bahwa homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Atau dengan kata lain, homoseksualitas membuat perencanaan yang disengaja untuk memuaskan diri dan terlibat dalam fantasi atau perilaku seksual dengan sesama jenis. Dalam bahasa Yunani, homoss artinya sama. Homoseksualitas pada laki-laki biasanya disebut dengan gay, dan pada perempuan disebut lesbian. Homoseksualitas, biasanya dibandingkan denganheteroseksualitas (menyukai lawan jenis) dan biseksualitas (banci).
Menurut Dr. William Consiglio, perilaku homoseksualitas merupakan suatu penyimpangan yang paling umum dilakukan manusia yang merupakan disorientasi seksual. Perilaku homoseksualitas telah menjangkiti begitu banyak manusia dengan tidak memandang usia, strata ekonomi, pendidikan, suku, dan agama. Sampai saat ini jumlah kaum homoseksual semakin hari semakin bertambah. Walaupun pada nyatanya banyak kaum homoseksual yang menyembunyikan identitasnya sehingga mempersulit akurasi laporan, namun banyak laporan yang beredar belakang ini menyatakan bahwa dari 2 hingga 3,3% dari populasi pria adalah homoseksual secara eksklusif. Memang perilaku menyimpang homoseksual sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan Alkitab pun membuat kesaksian. Namun pada zaman ini, tindakan mereka lebih terang-terangan, dan mendapat toleransi dari berbagai pihak, bahkan juga dari gereja.
Ada mitos yang mengatakan bahwa homoseks merupakan bawaan dari lahir. Para aktivis homoseks mengklaim bahwa ketertarikan kepada sesama jenis adalah bawaan dari lahir dan tidak dapat dirubah. Mereka mengutarakan bahwa homoseks bukanlah sebuah pilihan. Karena perilaku homoseks dikarenakan gen/bawaan sejak lahir. Hal ini lah yang terkadang mereka gunakan untuk mempropagandakan homoseks, bahwa perilaku ini adalah perilaku yang alami dan wajar.
Namun para ahli mengatakan bahwa penyebab homoseksualitas itu sendiri sangat kompleks. Seorang psikolog terkenal Amerika yang bernama Clyde M. Narramore menyebutkan bahwa “umumnya homoseksualitas merupakan hasil perkembangan kepribadian yang tidak normal” dan ia menyebut adanya beberapa kondisi yang mungkin menyebabkan hal itu, yaitu: 1) Gangguan hormonal. Namun penelitian-penelitian lebih lanjut belum mendukung. 2) Faktor Genetika. Penelitian-penelitian lebih lanjut juga belum mendukung. 3) Ibu yang dominan; 4) Ayah yang lemah; 5) Orang tua yang kejam; 6) Pernikahan orang-tua yang tidak bahagia; 7) Dimanjakan oleh orang-tua yang sama jenisnya; Pendidikan seks yang keliru.
Lebih jauh, banyak pakar yang menangani kelainan seksual berpendapat bahwa sejatinya homoseksual bukan disebabkan karena faktor genetika, tetapi karena faktor lingkungan, dan secara khusus yang berhubungan dengan penerimaan/afeksi dari orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh Frank Worthen, ia mengatakan :
“Sesudah membimbing ribuan bekas homoseks selama pelayanan sepuluh tahun atau lebih, kami telah belajar banyak mengenai keadaan homoseks. Kami yakin bahwa akar homoseksual yang terdalam ialah retaknya hubungan dalam keluarga yang mengakibatkan ketiadaan rasa memiliki dan dimiliki atau ketiadaan pengakuan.”
Pendapat-pendapat ini cukup membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada orang yang terlahir gay atau lesbi. Masa kanak-kanak adalah masa-masa identitas dan kepribadiannya mulai dibentuk. Dan anak-anak yang mengalami keretakan dalam keluarganya lebih berpotensi untuk menjadi homoseks. Sebab anak itu terpengaruh oleh cara bagaimana ia bereaksi terhadap keretakan dalam keluarga. Gay, lesbi, biseks, umumnya adalah orang yang menderita trauma emosional atau pelecehan seks sewaktu masa kecil dan selanjutnya karena distimulasi oleh rangsangan erotis yang tidak semestinya pada masa remaja mereka. Dalam banyak kasus, sesuatu yang traumatik terjadi dalam kehidupan seseorang yang menciptakan “konflik identitas gender”. Pada akhirnya mengakibatkan penyimpangan emosional yang dapat menjurus kepada homoseks.
Fenomena homoseksual dalam gereja
Akhir-akhir ini para “teolog gay” telah menyajikan pandangan yang baru mengenai homoseksualitas. Kemungkinan inilah yang membuat Gereja pada saat ini mulai menganggap bahwa homoseksualitas bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab. Contoh-contoh fenomena yang terjadi dalam gereja saat ini antara lain :
1. Sudah ada sebuah gereja khusus bagi kalangan homoseksual. Gereja ini sudah didirikan selama tiga tahun terakhir ini di pinggiran Kuala Lumpur. Gereja ini didirikan oleh pendeta Ouyang Wen Feng yang juga seorang gay.
2. Seorang gay yang bernama Gene Robinson ditahbiskan menjadi Uskup oleh sebuah Gereja Episkopal dari Gereja Anglikan di New Hamspire, Amerika Serikat pada tanggal 2 November 2003. Yang lebih aneh lagi, kebaktiannya dihadiri oleh pasangan gay-nya Mark Andrew, mantan isterinya, dua anaknya, orang tuanya, dan sekitar 50 Uskup Amerika.
3. Sudah banyak Gereja di Amerika dan Eropa yang mentahbiskan pendeta gay dan lesbian.
4. Di Amerika Serikat ada teolog Kristen yang bernama Troy Perry yang berusaha mengembangkan “Teologi Gay’ untuk mengubah pandangan Alkitab dan umat terhadap kaum gay agar mereka juga berkiprah di Gereja. Ia mengatakan bahwa Allah mengasihi setiap orang, termasuk yang homoseks. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; Tuhan menciptakan orang yang homoseks. Oleh karena itu homoseksualitas merupakan suatu pemberian Allah.
5. Sinode bersama Italia Waldensian dan gereja-gereja Methodis Protestan sebagai badan tertinggi di denominasi, setuju untuk mengotorisasi berkat dari pasangan yang sama-seks di gereja.
6. Dsb. (masih banyak lagi fenomena kontemporer tentang homoseksual yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu).
TEOLOGI KARDUS KAUM KAUM HOMOSEKSUAL UNTUK MEMBENARKAN DIRI
Dalam kalangan Kristen sendiri, terdapat banyak argumen yang dikemukakan untuk mendukung perilaku homoseksual ini, yang kemudian menjadi titik berangkat “diterimanya” homoseksualitas dalam gereja.
a. Homoseks adalah anugerah Allah. Ini merupakan salah satu argumen yang diberikan oleh Troy Perry, seorang pendeta gay yang telah dikeluarkan dari Gereja Pentakosta, yang berkata, “Allah mengasihi setiap orang, termasuk orang homoseks; Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; Iamenciptakan orang homoseks; oleh karena itu, homoseksualitas merupakan suatu “pemberian Allah”; Allah menerima saya dan homoseksualitas saya sebagai sesuatu yang baik; Allah ingin saya mendirikan sebuah gereja untuk kaum homoseksualitas.” Troy sendiri adalah pendiri Metropolitan Christian Church (MCC), sebuah gereja khusus untuk kaum homoseksual.
b. Alkitab tidak berbicara mengenai homoseksualitas. Akhir-akhir ini para “teolog gay” telah menyajikan pandangan yang baru mengenai homoseksualitas. Seperti Derrick Sherwin Bailey dan John McNeill. Mereka mengatakan bahwa “Allah tidak berbicara mengenai pokok homoseksualitas sebagaimana kita mengenalnya dewasa ini.” Misalnya saja, pendapat mereka bahwa peristiwa Sodom dan Gomora bukanlah merupakan hukuman atas dosa homoseksualitas, tetapi hanya karena mementingkan diri sendiri dan ketidakramahan. Bahkan banyak ahli yang berpendapat bahwa kata yang digunakan untuk istilah “pemburit” tidak ada sangkut-pautnya dengan homoseksualitas.
c. Homoseksual bukanlah dosa yang mengakibatkan penghukuman dari Allah. Pendapat ini didasakan atas anggapan bahwa hukuman yang diarahkan kepada pelaku penyimpangan seksual dalam surat-surat Paulus merupakan pendapat pribadi dari Paulus sendiri (1 Kor 7:25). Jadi pendapat Paulus yang menentang homoseksual tidaklah mengikat. Demikian juga dengan penafsiran atas Yesaya 56:5, bahwa sida-sida akan dimasukkan ke dalam kerajaan Allah.
d. Homoseksualitas adalah perilaku yang normal. Seorang teolog Indonesia yang mengatakan bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku yang wajar dan tidak bertentangan dengan Alkitab adalah Iohanes Rahmat ( Liberal ). Dalam artikelnya ia mengatakan :
“Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual jika homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi genetik seksual seseorang dan jika perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang langgeng…
Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah binatang. Karena homoseksualitas pada binatang bukan timbul karena pola pergaulan yang tak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya kehidupan di Planet Bumi ini.”
e. Ajaran Gereja tradisional tentang homoseksualitas adalah salah. Hal ini dikemukakan oleh seorang Profesor yang paling terkemuka, yaitu John Boswell melalui bukunya Christianity, Social; Tolerance and Homosexuality. Ia melancarkan argumen filosofis berdasarkan penelitian sejarah dalam usahanya untuk membuktikan bahwa ajaran gereja mengenai homoseksualitas saat ini adalah salah. Ia mengatakan bahwa homoseksual adalah perilaku yang normal.
Beberapa Asumsi yang salah dan kenyataan yang sebenarnya.
• Prilaku homoseksualitas adalah bawaan sejak lahir. Para Psikolog sekuler beranggapan bahwa prilaku homoseksualitas disebabkan oleh factor biologis atau genetits. Hasil penelitian belakangan ini membuktikan bahwa anggapan prilaku homoseksualitas disebabkan factor biologis dan genetis terbukti salah.
• Homoseksualitas adalah alternatif yang tidak berbahaya. Anggapan ini jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Secara fisik, para pelaku homoseksual sangat akrab dengan penularan penyakit seksual seperti AIDS dan penyakit hepatitis B, kutil pada anus, herpes, gonorrehea, sipilis, dan shigellosis. Secara emosional, kaun homoseksual sangat rentan mengalami depresi. Dan secara rohani, para aktifis homoseksual adalah orang-orang yang jauh dari Allah.
• Dosa Sodom tidak ada hubungan dengan homoseksualitas, tetapi berkaitan dengan masalah keramah-tamahan. Kejadian 19:1-8 memberitahu kita bahwa ketika dua malaikat mengunjungi Lot dan hal itu diketahui oleh orang-orang Sodom, mereka meminta Lot menyerahkan dua orang (malaikat) itu, namun Lot malah menawarkan anak-anak perempuannya kepada mereka. Menurut mereka kata Ibrani yadah yang diterjemahkan “berhubungan seksual dengan” seharusnya berarti “berkenalan dengan”. Akan tetapi kitab Yudas membenarkan bahwa dosa Sodom adalah prilaku homoseksualitas (Yudas 1:7)
• Bacaan Alkitab yang menentang prilaku homoseksual tidak merujuk pada homoseksualitas yang kita kenal sekarang. Kelompok yang pro homoseksualitas berdalih bahwa Imamat 18:22 hanyalah menentang jenis homoseksualitas yang berkaitan dengan praktik penyembahan berhala. Klaim sejenis dilakukan dengan merujuk komentar Rasul Paulus mengenai prilaku homoseksualitas dalam Roma 1:24-27; 1Kor. 6:9-10: 1Tim.1:9-10). Mereka beranggapan bahwa Paulus tidak memikirkan hubungan homoseksual yang penuh kasih dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.
• Prilaku homoseksualitas tidak dapat dihilangkan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kita dapat mengatasi homoseksual. Penyimpangan seksual ini dapat diubah. Iman dan pertobatan kepada Yesus Kristus dapat mengubah siapa pun yang mengalami disorientasi seksual.
I Korintus 6:9-11, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Dan masih ada banyak lagi berbagai pendapat dan alasan dari pemikir Kristen sendiri yang membenarkan perilaku homoseksual. Mereka memandang bahwa homoseksual adalah perilaku yang wajar, normal, natural, anugerah Tuhan, tidak bertentangan dengan Alkitab, dsb.
Penyimpangan Seks dalam PL dan Teks-teks yang Terkait
a. Homoseksualitas (Kejadian 19:1-11)
Salah satu jenis penyimpangan seks yang ada dalam PL adalah homoseksualitas, yang dapat diartikan sebagai hasrat hubungan kelamin dengan orang yang sama jenis kelaminnya. Karena itulah gejala ini dinyatakan dengan kata Yunani ‘homoos’ artinya sama. Cerita Alkitab yang paling banyak dikutif berkenaan homoseksual adalah cerita tentang laki-laki Sodom kepada Lot dalam Kejadian 19:1-11. Narasi ini menggambarkan bahwa penduduk Sodom melakukan hal yang jahat di mata Tuhan, yaitu hasrat untuk melakukan hubungan seks dengan sesama jenis, yang dipratikkan dengan sodomi.
b. Rancap/Onani (Kejadian 38:6-11)
Penyimpangan seks yang juga terjadi dalam Perjanjian Lama adalah onani atau rancap. Narasi yang memperlihatkan hal ini adalah cerita tentang Onan dan Tamar dalam Kejadian 38:6-11. Onan melakukan hal yang keji di mata Tuhan, dengan membiarkan maninya terbuang. Onan tidak ingin memberi keturunan kepada Tamar yang merupakan mantan isteri kakaknya.
c. Persundalan dan Semburit (Ulangan 23:17-18)
Kata Kadesh' dalam Ulangan 23:17-18 diterjemahkan sebagai pelacuran kultus. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelacuran sudah dikenal di dalam PL dan merupakan hal yang biasa dalam ibadah agama Kanaan di Timur Tengah. Hal itu merupakan kekejian bagi Tuhan, karena itulah Ulangan 23:17-18 secara khusus membahas tentang hukum prostitusi. Dengan adanya larangan untuk melakukan hal tersebut, umat diingatkan untuk tidak masuk dalam dosa seks tersebut yang merupakan kekejian bagi Tuhan. Di samping itu disinggung juga tentang semburit. Istilah ‘semburit’ merupakan istilah Ibrani bagi dosa-dosa seperti dosa orang Sodom, dari keterangan Ulangan 23:17 mereka juga adalah pelacur bakti.
Kekudusan Umat (dalam kitab Imamat)
Penyimpangan-penyimpangan seks yang terjadi dalam kehidupan umat merupakan kekejian bagi Tuhan. Sebab itu untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan tersebut dibuatlah ketetapan-ketetapan untuk mendisiplinkan hal tersebut. Dan umat dapat hidup kudus di hadapan Tuhan. Ada pun peraturan-peraturan yang menjaga umat agar hidup kudus dari penyimpangan-penyimpangan seksual banyak terdapat dalam kitab Imamat. Bagian khusus mengenai Undang-undang Kekudusan terdapat dalam Imamat 17-26. Berikut adalah beberapa contoh dari kitab Imamat yang merupakan ketetapan Tuhan agar umat hidup kudus dan menghargai seksualitas sebagai sesuatu yang kudus.
a. Ketidaktahiran Laki-laki dan Perempuan (15:1-33)
Bagian ini secara gamblang berbicara mengenai ketidaktahiran seorang laki-laki dan perempuan yang terkait dengan seksualitas. Seorang laki-laki atau perempuan dapat menjadi tidak tahir dikarenakan lelehan (air mani atau darah) yang keluar dari auratnya. Ayat 2-18 berbicara mengenai ketidaktahiran laki-laki, dan ayat 19-30 mengenai ketidaktahiran perempuan karena lelehan tersebut.
b. Kudusnya Perkawinan (18:6-23 )
Hubungan perkawinan biasanya terkait dengan seksualitas. Penyimpangan seksual dapat terjadi di dalam relasi perkawinan tersebut. Karena itu Imamat 18:6-23 membahas khusus tentang perkawinan agar dijaga kekudusannya. Umat dengan keras diingatkan agar mereka jangan menjadi serupa dengan orang-orang asing, sama seperti orang-orang Mesir dan orang-orang Kanaan pada waktu itu. Mereka harus menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagaimana yang digambarkan oleh peraturan-peraturan dalam Imamat 18:6-23. Misalnya, menghampiri kerabat terdekat dengan menyingkapkan auratnya (ayat 6), menyingkapkan aurat isteri dari ayah (ayat 7-8), menghampiri seorang perempuan pada saat menstruasi dan menyingkapkan auratnya (ayat 19), dsb. Semua hal itu adalah kekejian bagi Tuhan dan mencemari kekudusan umat.
c. Kudusnya Hidup (19:1-36 )
Bagian Imamat 19:1-36 menekankan kekudusan hidup secara totalitas. Tujuan dari pasal ini adalah membimbing umat agar kelakuan mereka sesuai dengan kehendak Tuhan dalam setiap situasi. Bagian yang menyinggung tentang penyimpangan seks terdapat pada ayat 20-22. Hukuman atas seorang laki-laki atau perempuan yang berzinah sangat keras, Karena hal ini terkait dengan kekudusan hidup. Budak perempuan yang dimaksudkan ayat 20 adalah sebagai isteri seorang laki-laki tetapi yang belum ditebus oleh laki-laki itu atau belum menerima surat tanda merdeka dari tuannya namun telah dihampiri. Perbuatan demikian adalah suatu kekejian bagi Tuhan dan melanggar hukum kekudusan yang Tuhan telah tetapkan kepada umat.
d. Kudusnya Umat Tuhan (20:1-27)
Imamat 20:1-27 lebih berbicara mengenai kekudusan umat secara komunitas. Umat harus bersih dan terhindar dari hal-hal yang diuraikan di dalam hukum tersebut. Ayat 10-21 secara khusus berbicara mengenai kekudusan di dalam keluarga yang terkait dengan penyimpangan seks. Hal ini memang telah disebut di dalam pasal 18, namun kembali ditekankan lagi. Karena masalah penyimpangan seks begitu krusialnya mempengaruhi kekudusan umat, sehingga beberapa kali ditekankan.
KEBENARAN FIRMAN TUHAN MEMATAHKAN TEOLOGI KARDUS KAUM HOMOSEKSUAL ( PANDANGAN ALKITAB )
Dasar perilaku dan keputusan yang benar dalam menghadapi fenomena homoseksualitas yang benar hanya dapat dilihat dari perspektif Alkitab. Untuk itu kita harus melihat apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai hal ini, agar gereja memiliki landasan dalam menghadapi fakta tentang homoseksualitas.
1. Tuhan menganjurkan heteroseksual, bukan homoseksual
Allah menganugerahkan manusia dengan dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia sepasang, yaitu Adam dan Hawa. Keduanya kemudian membentuk keluarga dan menghasilkan keturunan (Kejadian 1:27-28; 2:20-25). Hasrat seksual yang sejati seperti digambarkan dalam Kejadian 4:1 adalah heteroseksual (laki laki menyukai wanita dan sebaliknya). Tuhan sejak awal menetapkan hubungan heteroseksual ketika Dia menciptakan “laki-laki dan perempuan”. Ini berarti heteroseksual adalah perilaku yang normatif. Lagipula Alkitab sering menggambarkan relasi antara Tuhan dan bangsa Israel (umat-Nya) seperti hubungan suami-istri.
Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan natur homoseksualitas. Dengan dasar ini pula penulis menolak pendapat yang mengatakan bahwa seseorang berperilaku homoseksual karena faktor genetika. Mengapa? Karena bila faktor genetika dapat diterima, maka sebenarnya kita sedang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan natur homoseksualitas sejak manusia dalam kandungan (bnd. Maz 139:13). Namun, karena Alkitab tidak pernah memberi indikasi bahwa Tuhan menciptakan hal itu, maka kita dengan pasti dapat menolak faktor genetika (yang mengindikasikan sesuatu yang normal) sebagai penyebab homoseksualitas.
2. Tuhan menciptakan lembaga pernikahan bagi laki-laki dan perempuan
Di dalam Alkitab (di dalam Kej 2:21-24) jelas disebutkan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Dan ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa seks diberikan Tuhan dalam konteks keluarga sejak dari mulanya. Tuhan menetapkan seks untuk digunakan di antara seorang pria dan wanita di dalam ikatan pernikahan heteroseksual (suami-istri). Tuhan tidak pernah merencanakan adanya lembaga pernikahan antara kaum homoseksualitas sehingga pernikahan seperti itu tidak dapat diterima.
3. Homoseksual adalah akibat dari kefasikan
Di bagian Alkitab dikatakan bahwa karena dosa dan kebebalan manusia, Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang tidak setimpal untuk kesesatan mereka (Rom 1:26-27).
4. Homoseksual ditentang oleh Tuhan
Praktik homoseksual tidak dapat dibenarkan Allah. Maka dari itu tetap salah jika seseorang mengatakan bahwa praktek homoseksual adalah akibat dari perkembangan zaman yang semakin modern, dimana ada alternatif untuk melakukan praktik homoseksual. Beberapa bagian Alkitab berikut menunjukkan bahwa homoseksualitas dilarang oleh Alkitab :
a) Kej 19:1-13: Dosa Sodom adalah dosa homoseksualitas. Kesimpulan ini diambil karena beberapa bukti, pertama, dalam pasal ini, kata Ibrani yadha berarti ‘melakukan hubungan seksual’. Hal ini terlihat jelas ketika Lot menunjuk pada kedua anak perempuannya sebagai yang belum pernah “dijamah” laki-laki untuk meredakan emosi orang-orang Sodom. Tawaran anak-anak perempuan ini tentulah mempunyai konotasi seksual. Kedua, sepuluh dari dua belas kali kata yadha ini dipakai dalam Kitab Kejadian adalah menunjuk kepada hubungan seksual (lihat Kej 4:1,25). Ketiga, Yudas 1:7 mencatat dosa Sodom adalah dosa percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Tentulah ‘ketakwajaran’ ini menunjuk kepada dosa homoseksualitas masyarakat Sodom.
b) Imamat 18:22: melarang laki-laki bersetubuh dengan laki-laki. Secara lebih luas dan logis prinsip ini pastilah juga mencakup larangan terhadap persetubuhan antara perempuan dengan perempuan. Jadi ini mengindikasikan bahwa homoseksual sangat melanggar kekudusan, dan ditentang oleh Tuhan.
c) 1 Korintus 6:9-10: penelitian terhadap kata dalam bahasa Yunani malakoi(kata untuk banci) dan arsenokoitai (orang pemburit), menurut tradisi kedua kata ini dihubungkan dengan homoseksualitas. Kata-kata yang digunakan Paulus dalam 1 Korintus 6:9 sama juga dengan yang digunakan dalam 1 Timotius 1:10.
d) Roma 1:26-27: Alkitab mengatakan bahwa praktek homoseksualitas merupakan perwujudan nafsu yang memalukan, sesat dan mereka yang melakukannya dikatakan sedang melakukan kemesuman, sehingga mereka akan menerima balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
5. Homoseksual tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Surga
Allah menyebut tindakan homoseksual sebagai dosa. Pandangan “teolog gay” yang mengatakan bahwa penghukuman bagi pelaku penyimpangan seks hanya sekedar pendapat Paulus seharusnya dilihat dan dipahami bahwa Rasul Paulus pun memiliki wibawa ilahi. Surat Paulus di dalam 1 Kor 6:9-10 dikatakan bahwa orang yang tidak bermoral, yang menyembah berhala, yang berzinah, pelacur, pemburit atau homoseks, tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
Lagipula, penafsiran terhadap Yesaya 56:5 mengenai kerajaan Allah tidak dimaksudkan bagi kaum homoseks, tetapi mengenai sida-sida. Yesus pun berbicara mengenai sida-sida yang melepaskan kemungkinan menikah demi kerajaan Allah (Mat 19:11-12).
Bagian Alkitab Yudas mengatakan bahwa kota Sodom dan Gomora adalah kota yang dikutuk Allah karena homoseksualitas. Dan dalam bagian tersebut dikatakan dengan tegas bahwa “mereka telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang” (Yudas 1:7). Ini menandakan bahwa tidak ada homoseksual yang akan mewarisi kerajaan Allah.
Penutup:
Jadi sekarang kita sudah mengetahui banyak bahwa telah banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalam kehidupan sex seseorang dan mereka mengklaim bahwa mereka tidak melanggar dan bahkan berani mengutip ayat firman Tuhan untuk membenarkan diri. Jangan heran sdraku karena Tuhan Yesus sendiri dicobai oleh Iblis dengan memutar balikkan firman Tuhan dan menggunakan firman Tuhan dalam konteks yang salah dan berbeda. Artikel ini bukan saja memperkaya pengetahuan saja, melainkan mengajak kita semua untuk hidup sesuai apa kata Firman Tuhan. Sesuatu yang kelihatan baik belum tentu benar, oleh sebab itu terus pelajari firman Tuhan, hiduplah di dalamnya. Damai sejahtera menyertai saudara sekalian..., Tuhan Yesus memberkati.
Hati-hati dan Waspada, hiduplah di dalam kebenaran Firman Tuhan dan jadilah pelaku Firman. Penulisan Artikel ini bukan bermaksud menyerang tatanan gereja maupun organisasinya, dan juga artikel ini bukan bertujuan mendiskreditkan golongan tertentu, melainkan artikel ini membuka mata orang percaya atas dasar kebenaran firman Tuhan serta mengajak orang-orang percaya untuk peka melihat lingkungan sekitarnya supaya tidak terseret ke dalam penyimpangan-penyimpangan yang membinasakan.
Dalam era keterbukaan seperti sekarang ini, semua orang semakin berani dan penuh percaya diri dalam menampilkan eksistensi diri. Setiap orang bebas mengekspresikan siapa dirinya tanpa takut jika ada yang menentang. Jika pada zaman dahulu kaum homoseks malu mengakui bahwa dirinya gay atau lesbi, saat ini mereka sudah berani mengakui jati diri mereka secara terang-terangan di depan publik. Atas nama “persamaan hak”, kaum homoseks memakainya untuk mengkampanyekan homoseksual. Mereka berpendapat bahwa hubungan seks dengan sesama jenis merupakan suatu “gaya hidup alternatif” yang menyenangkan, modern, dan alamiah. Dan barangsiapa yang menentangnya dianggap kurang toleran dalam masyarakat yang majemuk ini. Kaum homoseksual pun mendapat dukungan dari berbagai kalangan (sosial, psikologi, agama, dll). Bahkan saat ini beberapa negara sudah melegalkan perkawinan sejenis, seperti di Belanda, Belgia, Norwegia dan Swedia.
Homoseksualitas Dalam Gereja dan Penyebabnya
Wikipedia memberi penjelasan, bahwa homoseksualitas mengacu pada interaksi seksual dan atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama secara situasional atau berkelanjutan. Atau dengan kata lain, homoseksualitas membuat perencanaan yang disengaja untuk memuaskan diri dan terlibat dalam fantasi atau perilaku seksual dengan sesama jenis. Dalam bahasa Yunani, homoss artinya sama. Homoseksualitas pada laki-laki biasanya disebut dengan gay, dan pada perempuan disebut lesbian. Homoseksualitas, biasanya dibandingkan denganheteroseksualitas (menyukai lawan jenis) dan biseksualitas (banci).
Menurut Dr. William Consiglio, perilaku homoseksualitas merupakan suatu penyimpangan yang paling umum dilakukan manusia yang merupakan disorientasi seksual. Perilaku homoseksualitas telah menjangkiti begitu banyak manusia dengan tidak memandang usia, strata ekonomi, pendidikan, suku, dan agama. Sampai saat ini jumlah kaum homoseksual semakin hari semakin bertambah. Walaupun pada nyatanya banyak kaum homoseksual yang menyembunyikan identitasnya sehingga mempersulit akurasi laporan, namun banyak laporan yang beredar belakang ini menyatakan bahwa dari 2 hingga 3,3% dari populasi pria adalah homoseksual secara eksklusif. Memang perilaku menyimpang homoseksual sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan Alkitab pun membuat kesaksian. Namun pada zaman ini, tindakan mereka lebih terang-terangan, dan mendapat toleransi dari berbagai pihak, bahkan juga dari gereja.
Ada mitos yang mengatakan bahwa homoseks merupakan bawaan dari lahir. Para aktivis homoseks mengklaim bahwa ketertarikan kepada sesama jenis adalah bawaan dari lahir dan tidak dapat dirubah. Mereka mengutarakan bahwa homoseks bukanlah sebuah pilihan. Karena perilaku homoseks dikarenakan gen/bawaan sejak lahir. Hal ini lah yang terkadang mereka gunakan untuk mempropagandakan homoseks, bahwa perilaku ini adalah perilaku yang alami dan wajar.
Namun para ahli mengatakan bahwa penyebab homoseksualitas itu sendiri sangat kompleks. Seorang psikolog terkenal Amerika yang bernama Clyde M. Narramore menyebutkan bahwa “umumnya homoseksualitas merupakan hasil perkembangan kepribadian yang tidak normal” dan ia menyebut adanya beberapa kondisi yang mungkin menyebabkan hal itu, yaitu: 1) Gangguan hormonal. Namun penelitian-penelitian lebih lanjut belum mendukung. 2) Faktor Genetika. Penelitian-penelitian lebih lanjut juga belum mendukung. 3) Ibu yang dominan; 4) Ayah yang lemah; 5) Orang tua yang kejam; 6) Pernikahan orang-tua yang tidak bahagia; 7) Dimanjakan oleh orang-tua yang sama jenisnya; Pendidikan seks yang keliru.
Lebih jauh, banyak pakar yang menangani kelainan seksual berpendapat bahwa sejatinya homoseksual bukan disebabkan karena faktor genetika, tetapi karena faktor lingkungan, dan secara khusus yang berhubungan dengan penerimaan/afeksi dari orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh Frank Worthen, ia mengatakan :
“Sesudah membimbing ribuan bekas homoseks selama pelayanan sepuluh tahun atau lebih, kami telah belajar banyak mengenai keadaan homoseks. Kami yakin bahwa akar homoseksual yang terdalam ialah retaknya hubungan dalam keluarga yang mengakibatkan ketiadaan rasa memiliki dan dimiliki atau ketiadaan pengakuan.”
Pendapat-pendapat ini cukup membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada orang yang terlahir gay atau lesbi. Masa kanak-kanak adalah masa-masa identitas dan kepribadiannya mulai dibentuk. Dan anak-anak yang mengalami keretakan dalam keluarganya lebih berpotensi untuk menjadi homoseks. Sebab anak itu terpengaruh oleh cara bagaimana ia bereaksi terhadap keretakan dalam keluarga. Gay, lesbi, biseks, umumnya adalah orang yang menderita trauma emosional atau pelecehan seks sewaktu masa kecil dan selanjutnya karena distimulasi oleh rangsangan erotis yang tidak semestinya pada masa remaja mereka. Dalam banyak kasus, sesuatu yang traumatik terjadi dalam kehidupan seseorang yang menciptakan “konflik identitas gender”. Pada akhirnya mengakibatkan penyimpangan emosional yang dapat menjurus kepada homoseks.
Fenomena homoseksual dalam gereja
Akhir-akhir ini para “teolog gay” telah menyajikan pandangan yang baru mengenai homoseksualitas. Kemungkinan inilah yang membuat Gereja pada saat ini mulai menganggap bahwa homoseksualitas bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab. Contoh-contoh fenomena yang terjadi dalam gereja saat ini antara lain :
1. Sudah ada sebuah gereja khusus bagi kalangan homoseksual. Gereja ini sudah didirikan selama tiga tahun terakhir ini di pinggiran Kuala Lumpur. Gereja ini didirikan oleh pendeta Ouyang Wen Feng yang juga seorang gay.
2. Seorang gay yang bernama Gene Robinson ditahbiskan menjadi Uskup oleh sebuah Gereja Episkopal dari Gereja Anglikan di New Hamspire, Amerika Serikat pada tanggal 2 November 2003. Yang lebih aneh lagi, kebaktiannya dihadiri oleh pasangan gay-nya Mark Andrew, mantan isterinya, dua anaknya, orang tuanya, dan sekitar 50 Uskup Amerika.
3. Sudah banyak Gereja di Amerika dan Eropa yang mentahbiskan pendeta gay dan lesbian.
4. Di Amerika Serikat ada teolog Kristen yang bernama Troy Perry yang berusaha mengembangkan “Teologi Gay’ untuk mengubah pandangan Alkitab dan umat terhadap kaum gay agar mereka juga berkiprah di Gereja. Ia mengatakan bahwa Allah mengasihi setiap orang, termasuk yang homoseks. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; Tuhan menciptakan orang yang homoseks. Oleh karena itu homoseksualitas merupakan suatu pemberian Allah.
5. Sinode bersama Italia Waldensian dan gereja-gereja Methodis Protestan sebagai badan tertinggi di denominasi, setuju untuk mengotorisasi berkat dari pasangan yang sama-seks di gereja.
6. Dsb. (masih banyak lagi fenomena kontemporer tentang homoseksual yang tidak mungkin disebutkan satu-persatu).
TEOLOGI KARDUS KAUM KAUM HOMOSEKSUAL UNTUK MEMBENARKAN DIRI
Dalam kalangan Kristen sendiri, terdapat banyak argumen yang dikemukakan untuk mendukung perilaku homoseksual ini, yang kemudian menjadi titik berangkat “diterimanya” homoseksualitas dalam gereja.
a. Homoseks adalah anugerah Allah. Ini merupakan salah satu argumen yang diberikan oleh Troy Perry, seorang pendeta gay yang telah dikeluarkan dari Gereja Pentakosta, yang berkata, “Allah mengasihi setiap orang, termasuk orang homoseks; Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; Iamenciptakan orang homoseks; oleh karena itu, homoseksualitas merupakan suatu “pemberian Allah”; Allah menerima saya dan homoseksualitas saya sebagai sesuatu yang baik; Allah ingin saya mendirikan sebuah gereja untuk kaum homoseksualitas.” Troy sendiri adalah pendiri Metropolitan Christian Church (MCC), sebuah gereja khusus untuk kaum homoseksual.
b. Alkitab tidak berbicara mengenai homoseksualitas. Akhir-akhir ini para “teolog gay” telah menyajikan pandangan yang baru mengenai homoseksualitas. Seperti Derrick Sherwin Bailey dan John McNeill. Mereka mengatakan bahwa “Allah tidak berbicara mengenai pokok homoseksualitas sebagaimana kita mengenalnya dewasa ini.” Misalnya saja, pendapat mereka bahwa peristiwa Sodom dan Gomora bukanlah merupakan hukuman atas dosa homoseksualitas, tetapi hanya karena mementingkan diri sendiri dan ketidakramahan. Bahkan banyak ahli yang berpendapat bahwa kata yang digunakan untuk istilah “pemburit” tidak ada sangkut-pautnya dengan homoseksualitas.
c. Homoseksual bukanlah dosa yang mengakibatkan penghukuman dari Allah. Pendapat ini didasakan atas anggapan bahwa hukuman yang diarahkan kepada pelaku penyimpangan seksual dalam surat-surat Paulus merupakan pendapat pribadi dari Paulus sendiri (1 Kor 7:25). Jadi pendapat Paulus yang menentang homoseksual tidaklah mengikat. Demikian juga dengan penafsiran atas Yesaya 56:5, bahwa sida-sida akan dimasukkan ke dalam kerajaan Allah.
d. Homoseksualitas adalah perilaku yang normal. Seorang teolog Indonesia yang mengatakan bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku yang wajar dan tidak bertentangan dengan Alkitab adalah Iohanes Rahmat ( Liberal ). Dalam artikelnya ia mengatakan :
“Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual jika homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi genetik seksual seseorang dan jika perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang langgeng…
Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah binatang. Karena homoseksualitas pada binatang bukan timbul karena pola pergaulan yang tak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya kehidupan di Planet Bumi ini.”
e. Ajaran Gereja tradisional tentang homoseksualitas adalah salah. Hal ini dikemukakan oleh seorang Profesor yang paling terkemuka, yaitu John Boswell melalui bukunya Christianity, Social; Tolerance and Homosexuality. Ia melancarkan argumen filosofis berdasarkan penelitian sejarah dalam usahanya untuk membuktikan bahwa ajaran gereja mengenai homoseksualitas saat ini adalah salah. Ia mengatakan bahwa homoseksual adalah perilaku yang normal.
Beberapa Asumsi yang salah dan kenyataan yang sebenarnya.
• Prilaku homoseksualitas adalah bawaan sejak lahir. Para Psikolog sekuler beranggapan bahwa prilaku homoseksualitas disebabkan oleh factor biologis atau genetits. Hasil penelitian belakangan ini membuktikan bahwa anggapan prilaku homoseksualitas disebabkan factor biologis dan genetis terbukti salah.
• Homoseksualitas adalah alternatif yang tidak berbahaya. Anggapan ini jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Secara fisik, para pelaku homoseksual sangat akrab dengan penularan penyakit seksual seperti AIDS dan penyakit hepatitis B, kutil pada anus, herpes, gonorrehea, sipilis, dan shigellosis. Secara emosional, kaun homoseksual sangat rentan mengalami depresi. Dan secara rohani, para aktifis homoseksual adalah orang-orang yang jauh dari Allah.
• Dosa Sodom tidak ada hubungan dengan homoseksualitas, tetapi berkaitan dengan masalah keramah-tamahan. Kejadian 19:1-8 memberitahu kita bahwa ketika dua malaikat mengunjungi Lot dan hal itu diketahui oleh orang-orang Sodom, mereka meminta Lot menyerahkan dua orang (malaikat) itu, namun Lot malah menawarkan anak-anak perempuannya kepada mereka. Menurut mereka kata Ibrani yadah yang diterjemahkan “berhubungan seksual dengan” seharusnya berarti “berkenalan dengan”. Akan tetapi kitab Yudas membenarkan bahwa dosa Sodom adalah prilaku homoseksualitas (Yudas 1:7)
• Bacaan Alkitab yang menentang prilaku homoseksual tidak merujuk pada homoseksualitas yang kita kenal sekarang. Kelompok yang pro homoseksualitas berdalih bahwa Imamat 18:22 hanyalah menentang jenis homoseksualitas yang berkaitan dengan praktik penyembahan berhala. Klaim sejenis dilakukan dengan merujuk komentar Rasul Paulus mengenai prilaku homoseksualitas dalam Roma 1:24-27; 1Kor. 6:9-10: 1Tim.1:9-10). Mereka beranggapan bahwa Paulus tidak memikirkan hubungan homoseksual yang penuh kasih dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.
• Prilaku homoseksualitas tidak dapat dihilangkan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kita dapat mengatasi homoseksual. Penyimpangan seksual ini dapat diubah. Iman dan pertobatan kepada Yesus Kristus dapat mengubah siapa pun yang mengalami disorientasi seksual.
I Korintus 6:9-11, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Dan masih ada banyak lagi berbagai pendapat dan alasan dari pemikir Kristen sendiri yang membenarkan perilaku homoseksual. Mereka memandang bahwa homoseksual adalah perilaku yang wajar, normal, natural, anugerah Tuhan, tidak bertentangan dengan Alkitab, dsb.
Penyimpangan Seks dalam PL dan Teks-teks yang Terkait
a. Homoseksualitas (Kejadian 19:1-11)
Salah satu jenis penyimpangan seks yang ada dalam PL adalah homoseksualitas, yang dapat diartikan sebagai hasrat hubungan kelamin dengan orang yang sama jenis kelaminnya. Karena itulah gejala ini dinyatakan dengan kata Yunani ‘homoos’ artinya sama. Cerita Alkitab yang paling banyak dikutif berkenaan homoseksual adalah cerita tentang laki-laki Sodom kepada Lot dalam Kejadian 19:1-11. Narasi ini menggambarkan bahwa penduduk Sodom melakukan hal yang jahat di mata Tuhan, yaitu hasrat untuk melakukan hubungan seks dengan sesama jenis, yang dipratikkan dengan sodomi.
b. Rancap/Onani (Kejadian 38:6-11)
Penyimpangan seks yang juga terjadi dalam Perjanjian Lama adalah onani atau rancap. Narasi yang memperlihatkan hal ini adalah cerita tentang Onan dan Tamar dalam Kejadian 38:6-11. Onan melakukan hal yang keji di mata Tuhan, dengan membiarkan maninya terbuang. Onan tidak ingin memberi keturunan kepada Tamar yang merupakan mantan isteri kakaknya.
c. Persundalan dan Semburit (Ulangan 23:17-18)
Kata Kadesh' dalam Ulangan 23:17-18 diterjemahkan sebagai pelacuran kultus. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelacuran sudah dikenal di dalam PL dan merupakan hal yang biasa dalam ibadah agama Kanaan di Timur Tengah. Hal itu merupakan kekejian bagi Tuhan, karena itulah Ulangan 23:17-18 secara khusus membahas tentang hukum prostitusi. Dengan adanya larangan untuk melakukan hal tersebut, umat diingatkan untuk tidak masuk dalam dosa seks tersebut yang merupakan kekejian bagi Tuhan. Di samping itu disinggung juga tentang semburit. Istilah ‘semburit’ merupakan istilah Ibrani bagi dosa-dosa seperti dosa orang Sodom, dari keterangan Ulangan 23:17 mereka juga adalah pelacur bakti.
Kekudusan Umat (dalam kitab Imamat)
Penyimpangan-penyimpangan seks yang terjadi dalam kehidupan umat merupakan kekejian bagi Tuhan. Sebab itu untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan tersebut dibuatlah ketetapan-ketetapan untuk mendisiplinkan hal tersebut. Dan umat dapat hidup kudus di hadapan Tuhan. Ada pun peraturan-peraturan yang menjaga umat agar hidup kudus dari penyimpangan-penyimpangan seksual banyak terdapat dalam kitab Imamat. Bagian khusus mengenai Undang-undang Kekudusan terdapat dalam Imamat 17-26. Berikut adalah beberapa contoh dari kitab Imamat yang merupakan ketetapan Tuhan agar umat hidup kudus dan menghargai seksualitas sebagai sesuatu yang kudus.
a. Ketidaktahiran Laki-laki dan Perempuan (15:1-33)
Bagian ini secara gamblang berbicara mengenai ketidaktahiran seorang laki-laki dan perempuan yang terkait dengan seksualitas. Seorang laki-laki atau perempuan dapat menjadi tidak tahir dikarenakan lelehan (air mani atau darah) yang keluar dari auratnya. Ayat 2-18 berbicara mengenai ketidaktahiran laki-laki, dan ayat 19-30 mengenai ketidaktahiran perempuan karena lelehan tersebut.
b. Kudusnya Perkawinan (18:6-23 )
Hubungan perkawinan biasanya terkait dengan seksualitas. Penyimpangan seksual dapat terjadi di dalam relasi perkawinan tersebut. Karena itu Imamat 18:6-23 membahas khusus tentang perkawinan agar dijaga kekudusannya. Umat dengan keras diingatkan agar mereka jangan menjadi serupa dengan orang-orang asing, sama seperti orang-orang Mesir dan orang-orang Kanaan pada waktu itu. Mereka harus menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagaimana yang digambarkan oleh peraturan-peraturan dalam Imamat 18:6-23. Misalnya, menghampiri kerabat terdekat dengan menyingkapkan auratnya (ayat 6), menyingkapkan aurat isteri dari ayah (ayat 7-8), menghampiri seorang perempuan pada saat menstruasi dan menyingkapkan auratnya (ayat 19), dsb. Semua hal itu adalah kekejian bagi Tuhan dan mencemari kekudusan umat.
c. Kudusnya Hidup (19:1-36 )
Bagian Imamat 19:1-36 menekankan kekudusan hidup secara totalitas. Tujuan dari pasal ini adalah membimbing umat agar kelakuan mereka sesuai dengan kehendak Tuhan dalam setiap situasi. Bagian yang menyinggung tentang penyimpangan seks terdapat pada ayat 20-22. Hukuman atas seorang laki-laki atau perempuan yang berzinah sangat keras, Karena hal ini terkait dengan kekudusan hidup. Budak perempuan yang dimaksudkan ayat 20 adalah sebagai isteri seorang laki-laki tetapi yang belum ditebus oleh laki-laki itu atau belum menerima surat tanda merdeka dari tuannya namun telah dihampiri. Perbuatan demikian adalah suatu kekejian bagi Tuhan dan melanggar hukum kekudusan yang Tuhan telah tetapkan kepada umat.
d. Kudusnya Umat Tuhan (20:1-27)
Imamat 20:1-27 lebih berbicara mengenai kekudusan umat secara komunitas. Umat harus bersih dan terhindar dari hal-hal yang diuraikan di dalam hukum tersebut. Ayat 10-21 secara khusus berbicara mengenai kekudusan di dalam keluarga yang terkait dengan penyimpangan seks. Hal ini memang telah disebut di dalam pasal 18, namun kembali ditekankan lagi. Karena masalah penyimpangan seks begitu krusialnya mempengaruhi kekudusan umat, sehingga beberapa kali ditekankan.
KEBENARAN FIRMAN TUHAN MEMATAHKAN TEOLOGI KARDUS KAUM HOMOSEKSUAL ( PANDANGAN ALKITAB )
Dasar perilaku dan keputusan yang benar dalam menghadapi fenomena homoseksualitas yang benar hanya dapat dilihat dari perspektif Alkitab. Untuk itu kita harus melihat apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai hal ini, agar gereja memiliki landasan dalam menghadapi fakta tentang homoseksualitas.
1. Tuhan menganjurkan heteroseksual, bukan homoseksual
Allah menganugerahkan manusia dengan dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia sepasang, yaitu Adam dan Hawa. Keduanya kemudian membentuk keluarga dan menghasilkan keturunan (Kejadian 1:27-28; 2:20-25). Hasrat seksual yang sejati seperti digambarkan dalam Kejadian 4:1 adalah heteroseksual (laki laki menyukai wanita dan sebaliknya). Tuhan sejak awal menetapkan hubungan heteroseksual ketika Dia menciptakan “laki-laki dan perempuan”. Ini berarti heteroseksual adalah perilaku yang normatif. Lagipula Alkitab sering menggambarkan relasi antara Tuhan dan bangsa Israel (umat-Nya) seperti hubungan suami-istri.
Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan natur homoseksualitas. Dengan dasar ini pula penulis menolak pendapat yang mengatakan bahwa seseorang berperilaku homoseksual karena faktor genetika. Mengapa? Karena bila faktor genetika dapat diterima, maka sebenarnya kita sedang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan natur homoseksualitas sejak manusia dalam kandungan (bnd. Maz 139:13). Namun, karena Alkitab tidak pernah memberi indikasi bahwa Tuhan menciptakan hal itu, maka kita dengan pasti dapat menolak faktor genetika (yang mengindikasikan sesuatu yang normal) sebagai penyebab homoseksualitas.
2. Tuhan menciptakan lembaga pernikahan bagi laki-laki dan perempuan
Di dalam Alkitab (di dalam Kej 2:21-24) jelas disebutkan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Dan ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa seks diberikan Tuhan dalam konteks keluarga sejak dari mulanya. Tuhan menetapkan seks untuk digunakan di antara seorang pria dan wanita di dalam ikatan pernikahan heteroseksual (suami-istri). Tuhan tidak pernah merencanakan adanya lembaga pernikahan antara kaum homoseksualitas sehingga pernikahan seperti itu tidak dapat diterima.
3. Homoseksual adalah akibat dari kefasikan
Di bagian Alkitab dikatakan bahwa karena dosa dan kebebalan manusia, Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang tidak setimpal untuk kesesatan mereka (Rom 1:26-27).
4. Homoseksual ditentang oleh Tuhan
Praktik homoseksual tidak dapat dibenarkan Allah. Maka dari itu tetap salah jika seseorang mengatakan bahwa praktek homoseksual adalah akibat dari perkembangan zaman yang semakin modern, dimana ada alternatif untuk melakukan praktik homoseksual. Beberapa bagian Alkitab berikut menunjukkan bahwa homoseksualitas dilarang oleh Alkitab :
a) Kej 19:1-13: Dosa Sodom adalah dosa homoseksualitas. Kesimpulan ini diambil karena beberapa bukti, pertama, dalam pasal ini, kata Ibrani yadha berarti ‘melakukan hubungan seksual’. Hal ini terlihat jelas ketika Lot menunjuk pada kedua anak perempuannya sebagai yang belum pernah “dijamah” laki-laki untuk meredakan emosi orang-orang Sodom. Tawaran anak-anak perempuan ini tentulah mempunyai konotasi seksual. Kedua, sepuluh dari dua belas kali kata yadha ini dipakai dalam Kitab Kejadian adalah menunjuk kepada hubungan seksual (lihat Kej 4:1,25). Ketiga, Yudas 1:7 mencatat dosa Sodom adalah dosa percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Tentulah ‘ketakwajaran’ ini menunjuk kepada dosa homoseksualitas masyarakat Sodom.
b) Imamat 18:22: melarang laki-laki bersetubuh dengan laki-laki. Secara lebih luas dan logis prinsip ini pastilah juga mencakup larangan terhadap persetubuhan antara perempuan dengan perempuan. Jadi ini mengindikasikan bahwa homoseksual sangat melanggar kekudusan, dan ditentang oleh Tuhan.
c) 1 Korintus 6:9-10: penelitian terhadap kata dalam bahasa Yunani malakoi(kata untuk banci) dan arsenokoitai (orang pemburit), menurut tradisi kedua kata ini dihubungkan dengan homoseksualitas. Kata-kata yang digunakan Paulus dalam 1 Korintus 6:9 sama juga dengan yang digunakan dalam 1 Timotius 1:10.
d) Roma 1:26-27: Alkitab mengatakan bahwa praktek homoseksualitas merupakan perwujudan nafsu yang memalukan, sesat dan mereka yang melakukannya dikatakan sedang melakukan kemesuman, sehingga mereka akan menerima balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
5. Homoseksual tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Surga
Allah menyebut tindakan homoseksual sebagai dosa. Pandangan “teolog gay” yang mengatakan bahwa penghukuman bagi pelaku penyimpangan seks hanya sekedar pendapat Paulus seharusnya dilihat dan dipahami bahwa Rasul Paulus pun memiliki wibawa ilahi. Surat Paulus di dalam 1 Kor 6:9-10 dikatakan bahwa orang yang tidak bermoral, yang menyembah berhala, yang berzinah, pelacur, pemburit atau homoseks, tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
Lagipula, penafsiran terhadap Yesaya 56:5 mengenai kerajaan Allah tidak dimaksudkan bagi kaum homoseks, tetapi mengenai sida-sida. Yesus pun berbicara mengenai sida-sida yang melepaskan kemungkinan menikah demi kerajaan Allah (Mat 19:11-12).
Bagian Alkitab Yudas mengatakan bahwa kota Sodom dan Gomora adalah kota yang dikutuk Allah karena homoseksualitas. Dan dalam bagian tersebut dikatakan dengan tegas bahwa “mereka telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang” (Yudas 1:7). Ini menandakan bahwa tidak ada homoseksual yang akan mewarisi kerajaan Allah.
Penutup:
Jadi sekarang kita sudah mengetahui banyak bahwa telah banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalam kehidupan sex seseorang dan mereka mengklaim bahwa mereka tidak melanggar dan bahkan berani mengutip ayat firman Tuhan untuk membenarkan diri. Jangan heran sdraku karena Tuhan Yesus sendiri dicobai oleh Iblis dengan memutar balikkan firman Tuhan dan menggunakan firman Tuhan dalam konteks yang salah dan berbeda. Artikel ini bukan saja memperkaya pengetahuan saja, melainkan mengajak kita semua untuk hidup sesuai apa kata Firman Tuhan. Sesuatu yang kelihatan baik belum tentu benar, oleh sebab itu terus pelajari firman Tuhan, hiduplah di dalamnya. Damai sejahtera menyertai saudara sekalian..., Tuhan Yesus memberkati.
" JAWABAN ATAS KERAGUAN ORG2 YG BELUM PERCAYA TERHADAP SAHIHNYA ALKITAB "
" JAWABAN ATAS KERAGUAN ORG2 YG BELUM PERCAYA TERHADAP SAHIHNYA ALKITAB "
'' ini adalah salah satu pertanyaan yg sering diajukan untuk mendiskreditkan kebenaran yg sahih, ~'Jika Adam dan Hawa merupakan orang-orang pertama di planet ini, lalu bagaimana populasi kemudian berkembang tanpa adanya hubungan antara saudara sekandung (incest)? Bukankah Alkitab menyatakan bahwa incest adalah buruk…?~
Orang-orang yang tidak percaya telah memakai isteri Kain berulang kali untuk mendiskreditkan keberadaan Kitab Kejadian sebagai rekaman sejarah yang sejati. Yang menyedihkan, kebanyakan orang Kristen belum dapat memberikan jawaban yang memadai terhadap pertanyaan ini. Akibatnya, dunia berpikir bahwa orang Kristen tidak dapat membela wibawa Skriptur (Ayat Suci) dan, juga, iman Kristen.
Sebagai contoh, pada persidangan bersejarah Scopes di Tennessee tahun 1925, William Jennings Bryan, sang jaksa penuntut yang memihak kepada iman Kristen, gagal untuk menjawab pertanyaan tentang isteri Kain yang diajukan oleh pengacara anti-Kristen ACLU yang lantang, Clarence Darrow.
Dunia pers terarah pada persidangan ini, dan apa yang mereka dengar telah mempengaruhi Kekristenan hingga hari ini—Orang Kristen dipandang tidak dapat membela isi Alkitab. Kaum skeptik kemudian membuat kesimpulan yang secara logis keliru dalam menyimpulkan bahwa rekaman Alkitab tak dapat dipertahankan!
Carl Sagan yang atheist menggunakan pertanyaan yang sama ini dalam bukunya Contact (yang masuk dalam daftar penjualan terlaris di The New York Times), dan film Contact, yang berdasarkan buku Sagan, juga menggunakan itu.
Dalam buku tersebut, karakter rekaan Ellie tidak dapat memperoleh jawaban tentang isteri Kain, dan juga pertanyaan-pertanyaan lainnya, dari seorang isteri pendeta, yang merupakan pemimpin kelompok diskusi gereja.
Sagan secara cerdik menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang biasa—seperti "Siapakah isteri Kain?"—pertanyaan-pertanyaan yang acap kali ditujukan pada orang Kristen sebagai usaha untuk membuktikan bahwa Alkitab tak dapat dipertahankan.
Sedihnya, kebanyakan Orang Kristen mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini! Sekalipun, jawaban-jawaban itu tersedia. Namun, karena kebanyakan gereja tidak memiliki cukup pengajaran tentang apologetik, khususnya mengenai Kitab Kejadian, kebanyakan orang-orang percaya di dalam gereja itu tidak "selalu siap untuk memberikan jawaban kepada setiap orang yang bertanya pada kamu mengenai harapan yang kamu miliki" (1 Petrus 3:15).
Mengapa ini Penting?
Banyak kaum skeptik menyatakan bahwa, agar Kain mendapatkan seorang isteri, haruslah ada “bangsa” manusia lain di bumi yang bukan merupakan turunan Adam dan Hawa. Bagi banyak orang, pertanyaan ini merupakan batu sandungan dalam menerima kisah penciptaan dalam kitab Kejadian dan catatannya mengenai hanya satu lelaki dan perempuan pada permulaan sejarah—sebuah catatan dimana banyak doktrin-doktrin Perjanjian Lama dan Baru bergantung.
Para pembela kabar baik harus dapat memperlihatkan bahwa semua manusia adalah keturunan dari satu lelaki dan satu perempuan (Adam dan Hawa)—karena hanya orang-orang yang merupakan turunan Adam dan Hawa yang dapat diselamatkan. Jadi, para orang percaya perlu untuk dapat menjelaskan isteri Kain dan menunjukkan dengan jelas bahwa ia adalah keturunan Adam dan Hawa. (Ayat Alkitab yang berhubungan Kejadian 4:1-5:5.)
Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita akan pertama-tama menunjukkan bagaimana pentingnya ini terhadap makna kabar baik.
Manusia Pertama
Sebab itu, sekalipun lewat satu orang dosa masuk ke dalam dunia, dan dosa menimbulkan maut, demikianlah maut menjalar pada seluruh umat manusia, sebab semua orang telah berdosa. (Roma 5:12).
Kita membaca dalam 1 Korintus 15:45 bahwa Adam adalah “manusia pertama.” Tuhan tidak memulai dengan membuat satu kelompok manusia.
Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hanya Adam yang dapat diselamatkan. Roma 5 mengajarkan bahwa kita berdosa karena Adam berdosa. Hukuman mati, yang diterima Adam sebagai penghakiman akan dosa ketidakpatuhannya, juga diberlakukan kepada semua keturunannya.
Karena Adam adalah pemimpin bangsa manusia ketika ia “jatuh,” kita yang merupakan keturunan Adam juga “jatuh.” Sehingga, kita semua terpisahkan dari Tuhan. Konsekuensi terakhir dari dosa adalah perpisahan dengan Tuhan dalam keberadaan kita yang berdosa selamanya. Namun, kabar gembiranya adalah adanya jalan bagi kita untuk kembali kepada Tuhan!
Karena manusia membawa dosa dan maut kedalam dunia, semua keturunan Adam butuh Manusia yang tak berdosa untuk membayarkan hukuman bagi dosa dan kematian. Walau bagaimanapun, Alkitab mengajarkan bahwa “semua telah berdosa” (Roma 3:23). Apakah pemecahannya?
Adam yang Terakhir
Tuhan menyediakan pemecahannya—sebuah jalan yang mengantarkan manusia dari kemalangannya. Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 15 bahwa Tuhan memberikan Adam yang lain! Anak Allah mengambil bentuk manusia dalam keberadaan IlahiNya, menjadi Tuhan-manusia—Yesus Kristus. Dalam kemanusiaannya Dia adalah keturunan Adam (lewat Nuh, Abraham dan David)—Ia karenanya menjadi saudara kita! Dia disebut “Adam yang terakhir” (1 Korintus 15:45), karena Dia menggantikan tempat Adam yang pertama. Dia menjadi pemimpin baru dan, karena Dia tak berdosa, Dia sanggup membayarkan upah dosa:
Sebab oleh satu orang datanglah maut, oleh satu orang datang pula kebangkitan bagi orang mati. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus (1 Korintus 15:21-22).
Kristus mengalami kematian (hukuman dosa) di salib, mencurahkan darahNya ("tanpa curahan darahNya takkan ada pengampunan" Ibrani 9:22) agar siapapun yang menyesali dosa ketidakpatuhan mereka dan yang menaruh kepercayaan dalam pekerjaanNya di kayu salib dapat dipersatukan kembali dengan Allah.
Oleh sebab Alkitab mengatakan semua manusia adalah pendosa, kecuali Allah-Manusia Yesus, dan kita semua berhubungan ("Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa untuk mendiami seluruh muka bumi" Kisah Rasul-rasul 17:26), kabar baik memiliki arti hanya bila berdasarkan bahwa semua manusia yang hidup dan yang pernah hidup adalah keturunan dari manusia pertama Adam. Bila tidak, maka kabar baik tak dapat dijelaskan ataupun dipertahankan.
Kitab Ibrani menegaskan bagaimana Yesus menerima beban sebagai manusia untuk menyelamatkan umat manusia (Ibrani 2:11-18).
Karenanya, hanya keturunan manusia pertama Adam yang dapat diselamatkan.
Semua Bersaudara
Jadi, hanya ada satu manusia pada mulanya—terbuat dari tanah di bumi (Kejadian 2:7).
Ini juga serarti bahwa isteri Kain adalah keturunan dari Adam. Ia tidak mungkin datang dari “bangsa” manusia lain dan pasti merupakan salah satu dari keturunan-keturunan Adam.
Perempuan Pertama
Dalam Kejadian 3:20 kita membaca,"Adam menamakan isterinya Hawa; karena perempuan itu menjadi ibu seluruh umat manusia . Dengan kata lain, semua orang adalah keturunan dari Adam dan Hawa—ia adalah perempuan pertama.
Hawa terbuat dari tulang rusuk Adam (Kejadian 2:21-24)—ini merupakan kejadian yang unik. Yesus (Matius 19:4-6) dan Paulus (Efesus 5:31) mempergunakan kejadian bersejarah dan hanya terjadi sekali ini sebagai dasar pengajaran bagi perkawinan antara seorang lelaki dan seorang perempuan.
Juga, dalam Kejadian 2:20, kita diberitahu bahwa ketika Adam melihat kepada binatang-binatang, ia tidak dapat menemukan pasangannya—tak ada satupun dari kaumnya.
Semua ini menjelaskan bahwa hanya ada satu perempuan, isteri Adam, pada mulanya. Tak pernah ada perempuan lain disekitarnya yang bukan merupakan keturunan-keturunan Hawa.
Bila orang Kristen tidak dapat mempertahankan bahwa semua manusia (termasuk isteri Kain) dapat dilacak leluhurnya sampai ke Adam dan Hawa, maka bagaimana mereka dapat memahami dan menjelaskan kabar baik? Bagaimana mereka dapat membenarkan pengiriman misionaris ke setiap suku dan bangsa? Karena itu, orang harus dapat menjawab pertanyaan tentang isteri Kain, untuk memperlihatkan bahwa orang Kristen mampu mempertahankan kabar baik dan semua yang diajarkannya.
Saudara-saudara Lelaki dan Perempuan Kain
Kain adalah anak pertama Adam dan Hawa seperti yang dicatat dalam Skriptur (Kejadian 4:1). Saudara-saudara lelakinya, Habel (Kejadian 4:2) dan Set (Kejadian 4:25), adalah bagian dari generasi pertama dari anak-anak yang lahir di bumi ini.
Walau hanya ketiga anak lelaki ini yang disebut namanya, Adam dan Hawa memiliki anak-anak yang lain. Dalam Kejadian 5:4 sebuah pernyataan menyimpulkan kehidupan Adam dan Hawa—"Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan." Tidak dikatakan kapan mereka lahir. Banyak yang mungkin telah lahir dalam 130 tahun (Kejadian 5:3) sebelum Set lahir.
Alkitab tidak mengatakan kepada kita berapa banyak anak yang dilahirkan dari Adam dan Hawa. Namun, mempertimbangkan rentang kehidupan mereka yang panjang (Adam hidup selama 930 tahun—Kejadian 5:5), masuk akal bila menyatakan mereka ada banyak! Ingat, Mereka diperintahkan untuk "Beranakcuculah, dan bertambah banyak" (Kejadian 1:28).
Sang Isteri
Jika kita sekarang bekerja sepenuhnya dari Ayat Suci, tanpa adanya prasangka pribadi atau pemikiran-pemikiran di luar-Alkitabiah lainnya, maka kembali ke permulaan, ketika hanya ada generasi yang pertama, saudara- saudara lelaki harus menikahi saudara-saudara perempuan mereka atau takkan ada generasi-generasi berikutnya!
Kita tidak diberitahu kapan Kain menikah ataupun detail-detail tentang perkawinan dan anak-anak lainnya, tapi kita dapat mengatakan dengan yakin bahwa beberapa saudara lelaki harus menikahi saudara-saudara perempuan mereka pada awal sejarah manusia.
Keberatan-keberatan—Hukum-huku m Tuhan
Banyak orang serta merta menolak kesimpulan bahwa anak-anak lelaki dan perempuan Adam dan Hawa kawin satu sama lain dengan merujuk kepada hukum yang menentang perkawinan antar saudara lelaki-perempuan. Beberapa berkata bahwa kamu tidak dapat mengawini saudaramu. Sebenarnya, jika kamu tidak mengawini saudaramu, kamu tidak kawin dengan manusia! Seorang isteri memiliki pertalian dengan suaminya bahkan sebelum mereka menikah karena semua orang adalah keturunan Adam dan Hawa—semua adalah dari “satu darah.” Hukum yang melarang pernikahan antar kerabat dekat belum dinyatakan sampai ketika jamannya Musa (Imamat 18-20). Mengingat pernikahan adalah antara satu lelaki dengan satu perempuan untuk selamanya (berdasarkan Kejadian 1 dan 2), tak ada pelanggaran terhadap hukum Allah pada awalnya saat kerabat dekat (bahkan saudara-saudara lelaki dan perempuan) kawin satu sama lain.
Ingat bahwa Abraham menikahi saudara tirinya (Kejadian 20:12). Allah memberkati persekutuan ini untuk menghasilkan orang-orang Yahudi melalui Ishak dan Yakub. Itu tidak sampai sekitar 400 tahun kemudian dimana Allah memberikan Musa hukum-hukum yang melarang perkawinan seperti itu.
Kelainan-kelainan Biologis
Kini, saudara-saudara lelaki dan perempuan (juga saudara-saudara tiri lelaki dan perempuan, dsb.) tidak diijinkan oleh hukum untuk menikah karena anak-anak mereka memiliki resiko tinggi yang tak dapat diterima yaitu menjadi cacat. Semakin dekat kekerabatan orangtua, semakin mungkin keturunannya akan menjadi cacat.
Ada suatu alasan genetis yang kuat bagi hukum-hukum tersebut yang mudah untuk dipahami. Setiap orang memiliki dua set gen, ada sekitar 130,000 pasang yang menentukan bagaimana seseorang terbentuk dan berfungsi. Setiap orang mewarisi satu gen dari setiap pasang milik masing-masing orangtua. Sayangnya, gen-gen sekarang mengandung banyak kesalahan (karena dosa dan Kutukan), dan kesalahan-kesalahan ini muncul dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, beberapa orang membiarkan rambutnya tumbuh menutupi telinga mereka untuk menyembunyikan kenyataan bahwa satu telinga lebih rendah dari yang satunya—atau mungkin hidung seseorang terletak tidak benar-benar di tengah mukanya, atau rahang seseorang agak sedikit tidak berbentuk—dan sebagainya. Mari kita akui, alasan utama kita mengatakan normal kepada sesama adalah karena permufakatan umum kita untuk melakukan hal itu.
Semakin jauh kekerabatan orangtua, semakin mungkin mereka akan memiliki kesalahan-kesalahan berbeda dalam gen-gen mereka.Anak-anak, yang mewarisi satu set gen dari setiap orangtuanya, sepertinya akan berakhir dengan memiliki sepasang gen yang mengandung maksimum satu gen buruk dalam setiap pasangnya. Gen yang baik cenderung menolak yang buruk sehingga suatu kelainan (yang serius, tentu saja) tidak terjadi. Daripada memiliki telinga-telinga yang benar-benar cacat, misalnya, seseorang mungkin akan memiliki telinga yang tertekuk! (Secara keseluruhan, walaupun begitu, bangsa manusia pelan-pelan semakin memburuk sebagaimana kesalahan-kesalahan terhimpun sedikit demi sedikit, generasi ke generasi.)
Namun, semakin dekat hubungan kekerabatan dua orang, semakin mungkin mereka mendapatkan kesalahan-kesalahan yang sama dalam gen-gen mereka, karena semua itu diwarisi dari orangtua yang sama. Karena itu, seorang saudara lelaki dan seorang saudara perempuan sepertinya lebih mungkin memiliki kesalahan yang sama dalam gen mereka. Seorang anak hasil dari perpaduan hubungan saudara kandung seperti itu dapat mewarisi gen buruk yang sama pada sepasang gen yang sama dari keduanya, berakibat dua salinan buruk dari gen dan kerusakan yang serius.
Adam dan Hawa bukan sudah menghimpun kesalahan-kesalahan genetis. Saat kedua orang pertama diciptakan, secara fisik mereka sempurna. Apapun yang dibuat Tuhan adalah “sangat bagus” (Kejadian 1:31), sehingga gen-gen mereka juga sempurna—tanpa kesalahan! Namun, saat dosa memasuki dunia (karena Adam—Kejadian 3:6, Roma 5:12), Tuhan mengutuk dunia sehingga ciptaan yang sempurna itu kemudian mulai memburuk, yaitu dengan, menderita kematian dan kerusakan (Roma 8:22). Lebih dari ribuan tahun, generasi ini telah menghasilkan segala macam kesalahan-kesalahan genetik dalam mahluk hidup.
Kain adalah generasi anak-anak pertama yang lahir. Ia (sebagaimana juga saudara- saudara lelaki dan perempuannya) sebenarnya menerima tak satupun gen-gen tak sempurna dari Adam dan Hawa, karena akibat dari dosa dan Kutukan masih sangat sedikit pada mulanya (perlu waktu bagi salinan-salinan kesalahan ini untuk terhimpun). Dalam situasi itu, saudara lelaki dan saudara perempuan dapat menikah dengan persetujuan Allah, tanpa kemungkinan untuk menghasilkan keturunan yang cacat.
Pada saat Musa (beberapa ribu tahun kemudian), kesalahan-kesalahan yang semakin buruk kemudian akan bertambah dalam ras manusia hingga sampai tingkat tertentu dimana cukup sudah bagi Allah untuk melarang pernikahan saudara lelaki-saudara perempuan (dan kerabat dekat) (Imamat 18-20). (Juga, sudah ada banyak orang di muka bumi saat itu, dan tak ada alasan bagi kerabat dekat untuk menikah.)
Kain dan Tanah Nod
Beberapa menyatakan bahwa ayat dalam Kejadian 4:16-17 memiliki arti bahwa Kain pergi ke tanah Nod dan menemukan seorang isteri. Sehingga, mereka dapat menyimpulkan harus ada bangsa manusia lain di bumi, yang bukan merupakan keturunan Adam, yang menghasilkan isteri Kain.
Dan Kain pergi dari hadapan Tuhan, dan menetap di tanahNod, di sebelah timur Eden. Kemudian Kain bersetubuh dengan isterinya; dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh: kemudian Kain mendirikan suatu kota, dan dinamainya kota itu, menurut nama anaknya, Henokh.
Dari yang telah disebutkan sebelumnya, sudah jelas bahwa semuamanusia, termasuk isteri Kain, adalah keturunan Adam. Bagaimanapun juga ayat ini tidak mengatakan bahwa Kain pergi ke tanah Nod dan menemukan isterinya.
John Calvin, mengomentari ayat-ayat ini, menyatakan:
Dari isi kita bisa menyimpulkan bahwa Kain, sebelum ia membunuh saudaranya, telah menikahi seorang perempuan; kalau tidak Musa sekarang telah menghubungkan sesuatu mengenai perkawinannya.
Kain telah menikah sebelum ia pergi ke tanah Nod. Ia tidak bertemu seorang isteri di sana, namun “bersetubuh” (melakukan hubungan seksual dengan isterinya.
Yang lain mendebat bahwa karena Kain medirikan sebuah “kota” di tanah Nod, pastilah sudah ada banyak orang di situ. Namun, kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “kota” tidak harus berarti apa yang kita perkirakan dari pengertian “kota” sekarang. Kata itu berarti sebuah "kota kecil yang dikelilingi dinding" atau suatu perkemahan yang dijaga. Bahkan seratus orang sudah cukup untuk “kota” semacam itu. Meskipun demikian, mungkin sudah ada banyak keturunan Adam di bumi pada saat kematian Habel.
Siapa yang ditakuti oleh Kain? (Kejadian 4:14)
Beberapa menegaskan bahwa pasti ada banyak orang di bumi selain keturunan Adam dan Hawa, kalau tidak Kain tidak perlu takut kepada orang yang ingin menghabisinya karena ia membunuh Habel.
Pertama, sebelum pemerintahan sipil diadakan untuk menghukum para pembunuh (Kejadian 9:6), seseorang akan memiliki keinginan untuk mencelakai Kain karena membunuh Habel hanya jika mereka memiliki hubungan dekat dengan Habel! Orang asing akan sulit peduli. Jadi orang-orang yang ditakuti Kain tidak mungkin orang-orang dari bangsa lain.
Kedua, Kain dan Habel lahir beberapa waktu lamanya sebelum kematian Habel. Kejadian 4:3 mencatat:
Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan.
Perhatikan ungkapan "beberapa waktu lamanya." Kita tahu bahwa Set lahir ketika Adam berumur 130 tahun (Kejadian 5:3), dan Hawa melihatnya sebagai “pengganti” Habel (Kejadian 4:25). Karena itu, jaman sejak kelahiran Kain hingga kematian Habel mungkin ada 100 tahun atau lebih—memungkinkan banyak kesempatan bagi anak-anak Adam dan Hawa lainnya untuk menikah dan beranak- cucu. Pada saat Habel dibunuh, mungkin sudah ada sejumlah besar keturunan Adam dan Hawa, termasuk beberapa generasi.
Dari mana Teknologi Datang?
Beberapa menyatakan bahwa bagi Kain untuk pergi ke tanah Nod dan mendirikan suatu kota pastilah membutuhkan banyak teknologi yang harus sudah tersedia di tempat itu, yang mungkin dikembangkan oleh “bangsa-bangsa” lain.
Namun, keturunan Adam dan Hawa merupakan orang-orang yang amat berakal. Yubal membuat peralatan musik seperti kecapi dan seruling (Kejadian 4:21), dan Tubal-Kain bekerja dengan tembaga and besi (Kejadian 4:22).
Karena indoktrinasi evolusioner yang hebat, banyak orang sekarang berpikir bahwa generasi kita merupakan yang terpandai yang pernah ada di planet ini. Namun hanya karena kita memiliki pesawat jet dan komputer, bukan berarti bahwa kita adalah yang paling berakal. Teknologi modern berasal dari akumulasi ilmu pengetahuan. Kita bersandar pada mereka yang telah meninggal sebelum kita.
Otak kita telah menderita sejak 6,000 tahun (sejak Adam) karena Kutukan. Kita benar-benar merosot dibandingkan dengan orang-orang dari generasi-generasi lampau. Kita sekarang mungkin tidak memiliki sedikitpun kecerdasan maupun daya cita sebagaimana yang dimiliki anak-anak Adam dan Hawa. Ayat Suci memberikan kita penglihatan tentang apa yang terlihat sebagai penemuan besar dari abad permulaan.
Kesimpulan
Banyak orang Kristen tidak dapat menjawab pertanyaan tentang isteri Kain karena mereka terfokus pada dunia saat ini (dan permasalahan yang berhubungan dengan pernikahan antar kerabat dekat), dan tidak memahami secara jernih catatan bersejarah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Mereka berusaha untuk menterjemahkan Kejadian dari situasi kita sekarang, daripada memahami sejarah dunia yang sebenarnya secara alkitabiah dan perubahan-perubahan yang muncul karena dosa. Karena mereka tidak membangun pandangan dunia mereka berdasarkan Ayat Suci, mereka tersilaukan oleh jawaban-jawaban yang sederhana.
Kitab Kejadian adalah catatan tentang Tuhan yang berada disitu saat sejarah terjadi. Kitab Kejadian adalah sabda Dia yang mengetahui semuanya, dan yang merupakan saksi yang dapat dipercaya dari masa lalu. Jadi, ketika kita menggunakan Kejadian sebagai dasar untuk memahami sejarah, kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin merupakan misteri.
~Ini adalah BUKTI SEJARAH akan sahihnya Alkitab~
Peristiwa Alkitab yang paling terdokumentasi adalah air bah yang melanda seluruh bumi sebagaimana dikisahkan di Kejadian 6-9. Sejumlah dokumen Babel telah ditemukan yang menggambarkan kisah air bah yang serupa.
Daftar Raja Sumeria (digambarkan di sini), misalnya, mendaftarkan raja-raja yang memerintah untuk jangka waktu yang lama. Kemudian datanglah air bah besar. Setelah air bah, raja-raja Sumeria memerintah untuk jangka waktu yang jauh lebih singkat. Pola ini sama dengan yang ditemukan di Alkitab. Manusia memiliki periode hidup lebih lama sebelum air bah dan lebih singkat setelahnya. Tablet Epik Gilgamesh kesebelas mengisahkan tentang bahtera, binatang yang dibawa ke dalam bahtera, burung yang dikirim keluar selama masa air bah, bahtera yang terdampar di atas gunung dan korban yang dipersembahkan setelah bahtera tersebut mendarat.
Story of Adapa menceritakan adanya ujian bagi keabadian yang menyangkut makanan, serupa dengan kisah Adam dan Hawa di Taman Eden.
Tablet-tablet Sumeria mencatat kekacauan bahasa sebagaimana yang kita miliki dalam kisah Alkitab mengenai Menara Babel (Kejadian 11:1-9). Pernah ada suatu masa ketika semua manusia berbicara dengan bahasa yang sama. Bahasa kemudian dikacaukan oleh dewa Enki, penguasa kebijaksanaan. Orang-orang Babel memiliki kisah serupa dimana dewa-dewa menghancurkan sebuah menara kuil dan 'menceraiberaikan mereka keluar dan membuat aneh ucapan mereka."
Contoh-contoh lain konfirmasi di luar Alkitab mengenai peristiwa Alkitab:
• Perang melawan Israel oleh Firaun Sisak (1 Raja-raja 14:25-26), dicatat di dinding Kuil Amun di Thebes, Mesir.
• Pemberontakan Moab melawan Israel (2 Raja-raja 1:1; 3:4-27), dicatat di Inskripsi Mesha.
• Kejatuhan Samaria (2 Raja-raja 17:3-6, 24 ; 18:9-11) ke tangan Sargon II, Raja Asyur, sebagaimana dicatat di dinding istananya.
• Jatuhnya Asdod oleh Sargon II (Yesaya 20:1), sebagaimana dicatat pada dinding istananya.
• Penyerbuan Sanherib raja Asyur terhadap Yehuda (2 Raja-raja 18:13-16), sebagaimana dicatat pada Prisma Taylor.
• Pengepungan Lakhis oleh Sanherib (2 Raja-raja 18:14, 17 ), sebagaimana dicatat pada prasasti Lakhis.
• Pembunuhan Sanherib oleh anaknya sendiri (2 Raja-raja 19:37), sebagaimana dicatat pada catatan kerajaan anaknya Esarhadon.
• Kejatuhan Niniwe sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Nahum dan Zefanya (2:13-15), dicatat pada Tablet Nabopolasar.
• Kejatuhan Yerusalem oleh Nebukadnezar, raja Babel (2 Raja-raja 24:10-14), sebagaimana dicatat pada Tarikh Sejarah Babel.
• Ditawannya Yoyakhin, raja Yehuda, di Babel (2 Raja-raja 24:15-16), sebagaimana dicatat pada Catatan Tawanan Babel.
• Kejatuhan Babel pada Media dan Persia (Daniel 5:30-31), sebagaimana dicatat pada Silinder Koresh.
• Pembebasan tawanan di Babel oleh Koresh (Ezra 1:1-4; 6:3-4), sebagaimana dicatat pada Silinder Koresh.
• Eksistensi Yesus sebagaimana dicatat oleh Josephus, Suetonius, Thallus, Pliny the Younger, Talmud dan Lucian.
• Pemaksaan orang-orang Yahudi untuk meninggalkan Roma selama masa pemerintahan Claudius (41-54 M) (Kis. 18:2), sebagaimana dicatat oleh Suetonius.
~Penemuan Arkeologi yang menyatakan absolutnya Alkitab~
Berbagai penemuan arkeologi sejak pertengahan tahun 1800-an telah menunjukkan ketepatan dan masuk akalnya kisah-kisah Alkitab. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
• Penemuan arsip Ebla di Siria Utara tahun 1970-an menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Alkitab mengenai kehidupan para bapa leluhur Israel yang pertama masuk akal. Dokumen-dokumen yang ditulis di tablet-tablet tanah liat yang berasal dari masa sekitar 2300 sM menunjukkan bahwa nama-nama pribadi dan tempat yang tercantum dalam kisah para bapa leluhur tersebut sungguh-sungguh nyata. Nama “Kanaan” digunakan di Ebla, sebuah nama yang sebelumnya dianggap oleh para pengkritik tidak digunakan pada masa itu dan digunakan secara tidak tepat di pasal-pasal pertama Alkitab. Kata “tehom” (“samudera raya”) di Kejadian 1:2 yang sebelumnya dianggap berasal dari periode yang lebih kemudian dan membuat para pengkritik mengatakan bahwa kisah penciptaan ditulis jauh di kemudian hari, ternyata merupakan salah satu kata yang dipakai di Ebla, 800 tahun sebelum Musa. Kebiasaan kuno yang terungkap dalam kisah-kisah para bapa leluhur juga ditemukan dalam tablet-tablet tanah liat dari Nuzi dan Mari.
• Orang-orang Hitit pernah dianggap sebagai legenda Alkitab belaka, sampai ditemukannya ibukota dan catatan-catatan mengenai mereka di Bogazkoy, Turki. Banyak orang menganggap ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai kekayaan Salomo terlalu dilebih-lebihkan. Catatan-catatan masa kuno yang ditemukan menunjukkan bahwa kekayaan pada masa kuno terpusat pada raja dan kekayaan Salomo sepenuhnya masuk akal. Pernah juga dinyatakan bahwa tidak ada raja Siria yang bernama Sargon yang tercatat di Yesaya 20:1, karena nama tersebut tidak pernah dikenal di catatan sejarah manapun. Namun kemudian, istana Sargon ditemukan di Khorsabad, Irak. Kejadian yang disinggung dalam Yesaya 20, penaklukan Asdod, dicatat pada dinding-dinding istananya. Tambahan pula, fragmen-fragmen yang ditulis untuk memperingati kemenangan tersebut juga ditemukan di Asdod sendiri.
• Raja lainnya yang juga diragukan keberadaanya adalah Belsyazar, Raja Babel, yang disebut namanya di Daniel 5. Raja Babel terakhir yang dicatat sejarah adalah Nabonidus. Tablet-tablet yang ditemukan memperlihatkan bahwa Belsyazar adalah putra Nabonidus yang berkuasa bersama di Babel. Jadi, Belsyazar memang dapat memberikan tawaran kepada Daniel untuk menjadi "orang nomor tiga paling berkuasa di Babel" (Daniel 5:16) jika dapat membaca tulisan tangan yang ada di dinding, sebuah posisi yang paling tinggi yang bisa dicapai. Di sini kita melihat sifat 'pandangan mata' dari catatan Alkitab, sebagaimana telah berulangkali diperlihatkan oleh penemuan-penemuan arkeologi
Kuburan keluarga Kayafas ditemukan secara tak sengaja oleh pekerja konstruksi yang akan membangun jalan di sebelah kota tua Yerusalem. Para arkeolog segera dipanggil ke situs tersebut. Mereka menemukan 12 peti yang berisi tulang yang berisikan 63 orang. Salah satu peti dihias dengan indah dan bernamakan "Yusuf bin (anak dari) Kayafas. Nama itu merupakan Imam Besar yang menahan Tuhan Yesus, sebagaimana juga didokumentasikan oleh Josephus dalam bukunya Antiquites 18:2,2;4,3. Juga ditemukan tulang dari seorang pria tua berusia 60 tahun, yang hampir dapat dipastikan adalah Kayafas yang disebut dalam Perjanjian Baru. Hal ini merupakan penemuan besar karena untuk pertama kalinya, ditemukan jasad yang merupakan bukti fisik dari orang-orang yang disebutkan dalam Alkitab.
Kaisar Agustus
Merupakan seorang politikus dan administrator yang terkenal, Agustus memerintah Roma dari tahun 27 Sebelum Masehi—14 Sesudah Masehi. Agustuslah yang mengeluarkan perintah sensus untuk seluruh Romawi, hal inilah yang membawa Yusuf dan Maria ke Betlehem, dimana Yesus dilahirkan (Lukas 2:1-7). Agustus mendirikan bagi dirinya sendiri satu kuburan megah, di sebelah timur sungai Tiber, 1.25 mil dari barat daya Roma. Masih terdapat sampai sekarang di tengah-tengah Piazza Augusto Imperatore.
Kuburan tersebut berdiameter 285 kaki dan tingginya 143 kaki di atasnya terletak patung sang kaisar. Abunya diletakkan dalam guci dan diletakkan di tengah ruangan, sedang abu para anggota keluarga diletakkan di sekitarnya sepanjang koridor ruangan tersebut. Sekalipun gucinya ditemukan namun abunya sudah lama hilang.
Kuburan para Bapa Bangsa
Alkitab mengatakan bahwa Sarah, Abraham, Ishak, Ribka, Lea dan Yakub dikuburkan di Hebron, di gua yang disebut Gua Makhpela, yang dibeli oleh Abraham (Kejadian 23).
Secara tradisional kuburan ini berlokasi di bawah Haram el-Khalil (dalam terjemahan bebas; tempat suci bagi sahabat Tuhan) di Hebron, sekarang menjadi Mesjid. Satu-satunya catatan yang diperoleh adalah pada masa kejayaan Yunani (2 abad sebelum Yesus Kristus), yang menyatakan bahwa telah ditemukan lokasi asli dari kuburan para bapa bangsa ini. Gua ini kemudian dieksplorasi oleh Augustine Cannons pada tahun 1119, dimana pada saat itu mereka mengklaim telah menemukan tulang belulang dari para Bapa bangsa ini.
Kuburan Daud dan Solomo
Tunnel tumbs
Selama masa pemerintahan raja-raja, jenazah raja Yehuda dimakamkan di kota Daud. Kota Daud terletak di sebelah selatan Yerusalem sekarang, ada dua monumen kuburan yang dipercaya para ahli bahwa itu merupakan kuburan dari Daud dan Solomo. Sayangnya kuburan itu telah rusak sehingga tak dapat diidentifikasi lagi. Pada area yang sama banyak ditemukan kuburan jaman besi, yang diperkirakan merupakan kuburan para raja Yehuda.
Satu perkecualian secara adat bagi Raja Uzia. Karena ia terkena lepra, ia tak dikuburkan bersama raja lainnya, “dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di lading dekat pekuburan raja-raja, karena ia berpenyakit kusta kata orang-orang” (II Tawarikh 26:23).
Namun ditemukan suatu prasasti menarik yang tertanggal tahun 1 Sesudah Masehi pada tahun 1931 di Bukit Zaitun yang menyebutkan, “Di sini tersimpan tulang belulang Uzia, Raja Yehuda- jangan dibuka.” Hal ini diperkirakan karena sakit lepranya tulang belulang Raja Uzia dipindahkan dari kuburan raja, ke lokasi lain.
Sirus Agung (Koresh)
Sirus memerintah kerajaan Persia pada tahun 559-530 Sebelum Masehi, ia terkenal karena menaklukkan Babilonia pada tahun 539 Sebelum Masehi. Pada abad 8 Sebelum Masehi Nabi Yesaya telah menubuatkan kekalahannya (Yesaya 45:13) dan dikatakan bahwa Sirus akan berkata “dan yang akan melepaskan orang-orangku dalam pembuangan” (Yesaya 45:13). Catatan mengenai Sirus melepaskan orang Yahudi tak hanya dicatat dalam Alkitab (II Tawarikh 36 22-23, Ezra 1:2-4), tapi juga ditemukan dalam Tabung Sirus. Tabung Sirus merupakan catatan kuno dari Kerajaan Persia, catatan tersebut berbunyi, “Saya (Sirus) yang mengumpulkan mereka orang asing dari tempat asalnya, dan mengembalikan mereka ke tempat asalnya.”
Sirus dikuburkan di kuburan batu sederhana di luar ibukotanya, sekarang menjadi kota Pasargadae di Iran modern. Menurut ahli sejarah Strabo, prasasti yang ditemukan di kuburan tersebut berbunyi," Saya Sirus, anak Kambises, yang mendirikan Kerajaan Persia dan menjadi raja Asia.
Darius I
Darius I adalah raja kerajaan Persia pada tahun 522-486 Sebelum Masehi. Ia memberikan ijin untuk membangun kembali Bait Allah (Ezra 6:1-12), yang sempat tertunda selama 10 tahun.
Kuburannya ditemukan dalam bentuk tiga monumen kuburan dekat dengan ibukota Persia, Persepolis,Iran. Prasasti yang ditemukan pada kuburannya berbunyi,
Raja Darius menyatakan: Raja, atau siapapun yang berjaya setelah saya, lindungi dirimu dari dusta. Janga pernah ,mempercayai orang yang berdusta. …Percayalah pada apa yang saya lakukan dan katakan kebenaran pada rakyat. Janganlah menyimpang darinya. Jika engkau tak menyimpang dari hal ini dan melakukan kebenaran terhadap rakyat, maka Ahura Mayda (Dewa Kebaikan agama Zoroaster, agama populer yang berlaku di kerajaan Persia) melindungi engkau…
Selain kuburannya juga ditemukan kuburan raja Persia lainnya yaitu Xerxes (Ahasyweros) (485-486 SM), Artaxerxes I (465-424 SM) dan Darius II (423-405 SM). Tak ditemukan prasasti dalam kuburan mereka untuk lebih memastikan identifikasi lebih lanjut. Xerxes adalah Ahasyweros dalam kitab Ester, raja yang menikahi Ester. Ezra menyebutnya dalam Ezra 7:1) dan Nehemia adalah juru minuman (Nehemia 2:1) raja Artaxerxes I. Raja ini mengizinkan Ezra dan Nehemia untuk kembali ke Yerusalem, Ezra bertugas untuk melakukan tugas keagamaan dan peradilan (Ezra 7:12-26) dan Nehemia untuk kembali membangun tembok kota (Nehemia 2:1-9).
Ref ; ChristianAnswer
Mari tetaplah berpegang kepada Firman Tuhan dan peganglah setiap janji-Nya dan terus bangunlah suatu persekutuan yg intim, baca firman-Nya dan pelajari. Jangan berputus asa ketika menemui kesulitan dlm mempelajarinya, melainkan mintalah hikmat dan pimpinan Roh Kudus sehingga kita menemukan rahasia2 yg tersembunyi bagi org fasik dan dibukakan bagi org yang rendah hati. Mari ajarlah anak-anak kita untuk hidup takut akan Tuhan dan ajarlah generasi muda untuk bergaul karib dengan Tuhan dan teruslah bangun Mezbah keluarga di rumah masing-masing. Berbahagialah kita yg memiliki Tuhan yg luar biasa dan firman-Nya adalah benar, absolut, tidak terbantahkan. Selamat menikmati persekutuan dgn-Nya, Damai sejahtera Tuhan menyertai sdra/i sekalian. Amen
'' ini adalah salah satu pertanyaan yg sering diajukan untuk mendiskreditkan kebenaran yg sahih, ~'Jika Adam dan Hawa merupakan orang-orang pertama di planet ini, lalu bagaimana populasi kemudian berkembang tanpa adanya hubungan antara saudara sekandung (incest)? Bukankah Alkitab menyatakan bahwa incest adalah buruk…?~
Orang-orang yang tidak percaya telah memakai isteri Kain berulang kali untuk mendiskreditkan keberadaan Kitab Kejadian sebagai rekaman sejarah yang sejati. Yang menyedihkan, kebanyakan orang Kristen belum dapat memberikan jawaban yang memadai terhadap pertanyaan ini. Akibatnya, dunia berpikir bahwa orang Kristen tidak dapat membela wibawa Skriptur (Ayat Suci) dan, juga, iman Kristen.
Sebagai contoh, pada persidangan bersejarah Scopes di Tennessee tahun 1925, William Jennings Bryan, sang jaksa penuntut yang memihak kepada iman Kristen, gagal untuk menjawab pertanyaan tentang isteri Kain yang diajukan oleh pengacara anti-Kristen ACLU yang lantang, Clarence Darrow.
Dunia pers terarah pada persidangan ini, dan apa yang mereka dengar telah mempengaruhi Kekristenan hingga hari ini—Orang Kristen dipandang tidak dapat membela isi Alkitab. Kaum skeptik kemudian membuat kesimpulan yang secara logis keliru dalam menyimpulkan bahwa rekaman Alkitab tak dapat dipertahankan!
Carl Sagan yang atheist menggunakan pertanyaan yang sama ini dalam bukunya Contact (yang masuk dalam daftar penjualan terlaris di The New York Times), dan film Contact, yang berdasarkan buku Sagan, juga menggunakan itu.
Dalam buku tersebut, karakter rekaan Ellie tidak dapat memperoleh jawaban tentang isteri Kain, dan juga pertanyaan-pertanyaan lainnya, dari seorang isteri pendeta, yang merupakan pemimpin kelompok diskusi gereja.
Sagan secara cerdik menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang biasa—seperti "Siapakah isteri Kain?"—pertanyaan-pertanyaan yang acap kali ditujukan pada orang Kristen sebagai usaha untuk membuktikan bahwa Alkitab tak dapat dipertahankan.
Sedihnya, kebanyakan Orang Kristen mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini! Sekalipun, jawaban-jawaban itu tersedia. Namun, karena kebanyakan gereja tidak memiliki cukup pengajaran tentang apologetik, khususnya mengenai Kitab Kejadian, kebanyakan orang-orang percaya di dalam gereja itu tidak "selalu siap untuk memberikan jawaban kepada setiap orang yang bertanya pada kamu mengenai harapan yang kamu miliki" (1 Petrus 3:15).
Mengapa ini Penting?
Banyak kaum skeptik menyatakan bahwa, agar Kain mendapatkan seorang isteri, haruslah ada “bangsa” manusia lain di bumi yang bukan merupakan turunan Adam dan Hawa. Bagi banyak orang, pertanyaan ini merupakan batu sandungan dalam menerima kisah penciptaan dalam kitab Kejadian dan catatannya mengenai hanya satu lelaki dan perempuan pada permulaan sejarah—sebuah catatan dimana banyak doktrin-doktrin Perjanjian Lama dan Baru bergantung.
Para pembela kabar baik harus dapat memperlihatkan bahwa semua manusia adalah keturunan dari satu lelaki dan satu perempuan (Adam dan Hawa)—karena hanya orang-orang yang merupakan turunan Adam dan Hawa yang dapat diselamatkan. Jadi, para orang percaya perlu untuk dapat menjelaskan isteri Kain dan menunjukkan dengan jelas bahwa ia adalah keturunan Adam dan Hawa. (Ayat Alkitab yang berhubungan Kejadian 4:1-5:5.)
Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita akan pertama-tama menunjukkan bagaimana pentingnya ini terhadap makna kabar baik.
Manusia Pertama
Sebab itu, sekalipun lewat satu orang dosa masuk ke dalam dunia, dan dosa menimbulkan maut, demikianlah maut menjalar pada seluruh umat manusia, sebab semua orang telah berdosa. (Roma 5:12).
Kita membaca dalam 1 Korintus 15:45 bahwa Adam adalah “manusia pertama.” Tuhan tidak memulai dengan membuat satu kelompok manusia.
Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa hanya Adam yang dapat diselamatkan. Roma 5 mengajarkan bahwa kita berdosa karena Adam berdosa. Hukuman mati, yang diterima Adam sebagai penghakiman akan dosa ketidakpatuhannya, juga diberlakukan kepada semua keturunannya.
Karena Adam adalah pemimpin bangsa manusia ketika ia “jatuh,” kita yang merupakan keturunan Adam juga “jatuh.” Sehingga, kita semua terpisahkan dari Tuhan. Konsekuensi terakhir dari dosa adalah perpisahan dengan Tuhan dalam keberadaan kita yang berdosa selamanya. Namun, kabar gembiranya adalah adanya jalan bagi kita untuk kembali kepada Tuhan!
Karena manusia membawa dosa dan maut kedalam dunia, semua keturunan Adam butuh Manusia yang tak berdosa untuk membayarkan hukuman bagi dosa dan kematian. Walau bagaimanapun, Alkitab mengajarkan bahwa “semua telah berdosa” (Roma 3:23). Apakah pemecahannya?
Adam yang Terakhir
Tuhan menyediakan pemecahannya—sebuah jalan yang mengantarkan manusia dari kemalangannya. Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 15 bahwa Tuhan memberikan Adam yang lain! Anak Allah mengambil bentuk manusia dalam keberadaan IlahiNya, menjadi Tuhan-manusia—Yesus Kristus. Dalam kemanusiaannya Dia adalah keturunan Adam (lewat Nuh, Abraham dan David)—Ia karenanya menjadi saudara kita! Dia disebut “Adam yang terakhir” (1 Korintus 15:45), karena Dia menggantikan tempat Adam yang pertama. Dia menjadi pemimpin baru dan, karena Dia tak berdosa, Dia sanggup membayarkan upah dosa:
Sebab oleh satu orang datanglah maut, oleh satu orang datang pula kebangkitan bagi orang mati. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus (1 Korintus 15:21-22).
Kristus mengalami kematian (hukuman dosa) di salib, mencurahkan darahNya ("tanpa curahan darahNya takkan ada pengampunan" Ibrani 9:22) agar siapapun yang menyesali dosa ketidakpatuhan mereka dan yang menaruh kepercayaan dalam pekerjaanNya di kayu salib dapat dipersatukan kembali dengan Allah.
Oleh sebab Alkitab mengatakan semua manusia adalah pendosa, kecuali Allah-Manusia Yesus, dan kita semua berhubungan ("Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa untuk mendiami seluruh muka bumi" Kisah Rasul-rasul 17:26), kabar baik memiliki arti hanya bila berdasarkan bahwa semua manusia yang hidup dan yang pernah hidup adalah keturunan dari manusia pertama Adam. Bila tidak, maka kabar baik tak dapat dijelaskan ataupun dipertahankan.
Kitab Ibrani menegaskan bagaimana Yesus menerima beban sebagai manusia untuk menyelamatkan umat manusia (Ibrani 2:11-18).
Karenanya, hanya keturunan manusia pertama Adam yang dapat diselamatkan.
Semua Bersaudara
Jadi, hanya ada satu manusia pada mulanya—terbuat dari tanah di bumi (Kejadian 2:7).
Ini juga serarti bahwa isteri Kain adalah keturunan dari Adam. Ia tidak mungkin datang dari “bangsa” manusia lain dan pasti merupakan salah satu dari keturunan-keturunan Adam.
Perempuan Pertama
Dalam Kejadian 3:20 kita membaca,"Adam menamakan isterinya Hawa; karena perempuan itu menjadi ibu seluruh umat manusia . Dengan kata lain, semua orang adalah keturunan dari Adam dan Hawa—ia adalah perempuan pertama.
Hawa terbuat dari tulang rusuk Adam (Kejadian 2:21-24)—ini merupakan kejadian yang unik. Yesus (Matius 19:4-6) dan Paulus (Efesus 5:31) mempergunakan kejadian bersejarah dan hanya terjadi sekali ini sebagai dasar pengajaran bagi perkawinan antara seorang lelaki dan seorang perempuan.
Juga, dalam Kejadian 2:20, kita diberitahu bahwa ketika Adam melihat kepada binatang-binatang, ia tidak dapat menemukan pasangannya—tak ada satupun dari kaumnya.
Semua ini menjelaskan bahwa hanya ada satu perempuan, isteri Adam, pada mulanya. Tak pernah ada perempuan lain disekitarnya yang bukan merupakan keturunan-keturunan Hawa.
Bila orang Kristen tidak dapat mempertahankan bahwa semua manusia (termasuk isteri Kain) dapat dilacak leluhurnya sampai ke Adam dan Hawa, maka bagaimana mereka dapat memahami dan menjelaskan kabar baik? Bagaimana mereka dapat membenarkan pengiriman misionaris ke setiap suku dan bangsa? Karena itu, orang harus dapat menjawab pertanyaan tentang isteri Kain, untuk memperlihatkan bahwa orang Kristen mampu mempertahankan kabar baik dan semua yang diajarkannya.
Saudara-saudara Lelaki dan Perempuan Kain
Kain adalah anak pertama Adam dan Hawa seperti yang dicatat dalam Skriptur (Kejadian 4:1). Saudara-saudara lelakinya, Habel (Kejadian 4:2) dan Set (Kejadian 4:25), adalah bagian dari generasi pertama dari anak-anak yang lahir di bumi ini.
Walau hanya ketiga anak lelaki ini yang disebut namanya, Adam dan Hawa memiliki anak-anak yang lain. Dalam Kejadian 5:4 sebuah pernyataan menyimpulkan kehidupan Adam dan Hawa—"Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan." Tidak dikatakan kapan mereka lahir. Banyak yang mungkin telah lahir dalam 130 tahun (Kejadian 5:3) sebelum Set lahir.
Alkitab tidak mengatakan kepada kita berapa banyak anak yang dilahirkan dari Adam dan Hawa. Namun, mempertimbangkan rentang kehidupan mereka yang panjang (Adam hidup selama 930 tahun—Kejadian 5:5), masuk akal bila menyatakan mereka ada banyak! Ingat, Mereka diperintahkan untuk "Beranakcuculah, dan bertambah banyak" (Kejadian 1:28).
Sang Isteri
Jika kita sekarang bekerja sepenuhnya dari Ayat Suci, tanpa adanya prasangka pribadi atau pemikiran-pemikiran di luar-Alkitabiah lainnya, maka kembali ke permulaan, ketika hanya ada generasi yang pertama, saudara- saudara lelaki harus menikahi saudara-saudara perempuan mereka atau takkan ada generasi-generasi berikutnya!
Kita tidak diberitahu kapan Kain menikah ataupun detail-detail tentang perkawinan dan anak-anak lainnya, tapi kita dapat mengatakan dengan yakin bahwa beberapa saudara lelaki harus menikahi saudara-saudara perempuan mereka pada awal sejarah manusia.
Keberatan-keberatan—Hukum-huku
Banyak orang serta merta menolak kesimpulan bahwa anak-anak lelaki dan perempuan Adam dan Hawa kawin satu sama lain dengan merujuk kepada hukum yang menentang perkawinan antar saudara lelaki-perempuan. Beberapa berkata bahwa kamu tidak dapat mengawini saudaramu. Sebenarnya, jika kamu tidak mengawini saudaramu, kamu tidak kawin dengan manusia! Seorang isteri memiliki pertalian dengan suaminya bahkan sebelum mereka menikah karena semua orang adalah keturunan Adam dan Hawa—semua adalah dari “satu darah.” Hukum yang melarang pernikahan antar kerabat dekat belum dinyatakan sampai ketika jamannya Musa (Imamat 18-20). Mengingat pernikahan adalah antara satu lelaki dengan satu perempuan untuk selamanya (berdasarkan Kejadian 1 dan 2), tak ada pelanggaran terhadap hukum Allah pada awalnya saat kerabat dekat (bahkan saudara-saudara lelaki dan perempuan) kawin satu sama lain.
Ingat bahwa Abraham menikahi saudara tirinya (Kejadian 20:12). Allah memberkati persekutuan ini untuk menghasilkan orang-orang Yahudi melalui Ishak dan Yakub. Itu tidak sampai sekitar 400 tahun kemudian dimana Allah memberikan Musa hukum-hukum yang melarang perkawinan seperti itu.
Kelainan-kelainan Biologis
Kini, saudara-saudara lelaki dan perempuan (juga saudara-saudara tiri lelaki dan perempuan, dsb.) tidak diijinkan oleh hukum untuk menikah karena anak-anak mereka memiliki resiko tinggi yang tak dapat diterima yaitu menjadi cacat. Semakin dekat kekerabatan orangtua, semakin mungkin keturunannya akan menjadi cacat.
Ada suatu alasan genetis yang kuat bagi hukum-hukum tersebut yang mudah untuk dipahami. Setiap orang memiliki dua set gen, ada sekitar 130,000 pasang yang menentukan bagaimana seseorang terbentuk dan berfungsi. Setiap orang mewarisi satu gen dari setiap pasang milik masing-masing orangtua. Sayangnya, gen-gen sekarang mengandung banyak kesalahan (karena dosa dan Kutukan), dan kesalahan-kesalahan ini muncul dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, beberapa orang membiarkan rambutnya tumbuh menutupi telinga mereka untuk menyembunyikan kenyataan bahwa satu telinga lebih rendah dari yang satunya—atau mungkin hidung seseorang terletak tidak benar-benar di tengah mukanya, atau rahang seseorang agak sedikit tidak berbentuk—dan sebagainya. Mari kita akui, alasan utama kita mengatakan normal kepada sesama adalah karena permufakatan umum kita untuk melakukan hal itu.
Semakin jauh kekerabatan orangtua, semakin mungkin mereka akan memiliki kesalahan-kesalahan berbeda dalam gen-gen mereka.Anak-anak, yang mewarisi satu set gen dari setiap orangtuanya, sepertinya akan berakhir dengan memiliki sepasang gen yang mengandung maksimum satu gen buruk dalam setiap pasangnya. Gen yang baik cenderung menolak yang buruk sehingga suatu kelainan (yang serius, tentu saja) tidak terjadi. Daripada memiliki telinga-telinga yang benar-benar cacat, misalnya, seseorang mungkin akan memiliki telinga yang tertekuk! (Secara keseluruhan, walaupun begitu, bangsa manusia pelan-pelan semakin memburuk sebagaimana kesalahan-kesalahan terhimpun sedikit demi sedikit, generasi ke generasi.)
Namun, semakin dekat hubungan kekerabatan dua orang, semakin mungkin mereka mendapatkan kesalahan-kesalahan yang sama dalam gen-gen mereka, karena semua itu diwarisi dari orangtua yang sama. Karena itu, seorang saudara lelaki dan seorang saudara perempuan sepertinya lebih mungkin memiliki kesalahan yang sama dalam gen mereka. Seorang anak hasil dari perpaduan hubungan saudara kandung seperti itu dapat mewarisi gen buruk yang sama pada sepasang gen yang sama dari keduanya, berakibat dua salinan buruk dari gen dan kerusakan yang serius.
Adam dan Hawa bukan sudah menghimpun kesalahan-kesalahan genetis. Saat kedua orang pertama diciptakan, secara fisik mereka sempurna. Apapun yang dibuat Tuhan adalah “sangat bagus” (Kejadian 1:31), sehingga gen-gen mereka juga sempurna—tanpa kesalahan! Namun, saat dosa memasuki dunia (karena Adam—Kejadian 3:6, Roma 5:12), Tuhan mengutuk dunia sehingga ciptaan yang sempurna itu kemudian mulai memburuk, yaitu dengan, menderita kematian dan kerusakan (Roma 8:22). Lebih dari ribuan tahun, generasi ini telah menghasilkan segala macam kesalahan-kesalahan genetik dalam mahluk hidup.
Kain adalah generasi anak-anak pertama yang lahir. Ia (sebagaimana juga saudara- saudara lelaki dan perempuannya) sebenarnya menerima tak satupun gen-gen tak sempurna dari Adam dan Hawa, karena akibat dari dosa dan Kutukan masih sangat sedikit pada mulanya (perlu waktu bagi salinan-salinan kesalahan ini untuk terhimpun). Dalam situasi itu, saudara lelaki dan saudara perempuan dapat menikah dengan persetujuan Allah, tanpa kemungkinan untuk menghasilkan keturunan yang cacat.
Pada saat Musa (beberapa ribu tahun kemudian), kesalahan-kesalahan yang semakin buruk kemudian akan bertambah dalam ras manusia hingga sampai tingkat tertentu dimana cukup sudah bagi Allah untuk melarang pernikahan saudara lelaki-saudara perempuan (dan kerabat dekat) (Imamat 18-20). (Juga, sudah ada banyak orang di muka bumi saat itu, dan tak ada alasan bagi kerabat dekat untuk menikah.)
Kain dan Tanah Nod
Beberapa menyatakan bahwa ayat dalam Kejadian 4:16-17 memiliki arti bahwa Kain pergi ke tanah Nod dan menemukan seorang isteri. Sehingga, mereka dapat menyimpulkan harus ada bangsa manusia lain di bumi, yang bukan merupakan keturunan Adam, yang menghasilkan isteri Kain.
Dan Kain pergi dari hadapan Tuhan, dan menetap di tanahNod, di sebelah timur Eden. Kemudian Kain bersetubuh dengan isterinya; dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh: kemudian Kain mendirikan suatu kota, dan dinamainya kota itu, menurut nama anaknya, Henokh.
Dari yang telah disebutkan sebelumnya, sudah jelas bahwa semuamanusia, termasuk isteri Kain, adalah keturunan Adam. Bagaimanapun juga ayat ini tidak mengatakan bahwa Kain pergi ke tanah Nod dan menemukan isterinya.
John Calvin, mengomentari ayat-ayat ini, menyatakan:
Dari isi kita bisa menyimpulkan bahwa Kain, sebelum ia membunuh saudaranya, telah menikahi seorang perempuan; kalau tidak Musa sekarang telah menghubungkan sesuatu mengenai perkawinannya.
Kain telah menikah sebelum ia pergi ke tanah Nod. Ia tidak bertemu seorang isteri di sana, namun “bersetubuh” (melakukan hubungan seksual dengan isterinya.
Yang lain mendebat bahwa karena Kain medirikan sebuah “kota” di tanah Nod, pastilah sudah ada banyak orang di situ. Namun, kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “kota” tidak harus berarti apa yang kita perkirakan dari pengertian “kota” sekarang. Kata itu berarti sebuah "kota kecil yang dikelilingi dinding" atau suatu perkemahan yang dijaga. Bahkan seratus orang sudah cukup untuk “kota” semacam itu. Meskipun demikian, mungkin sudah ada banyak keturunan Adam di bumi pada saat kematian Habel.
Siapa yang ditakuti oleh Kain? (Kejadian 4:14)
Beberapa menegaskan bahwa pasti ada banyak orang di bumi selain keturunan Adam dan Hawa, kalau tidak Kain tidak perlu takut kepada orang yang ingin menghabisinya karena ia membunuh Habel.
Pertama, sebelum pemerintahan sipil diadakan untuk menghukum para pembunuh (Kejadian 9:6), seseorang akan memiliki keinginan untuk mencelakai Kain karena membunuh Habel hanya jika mereka memiliki hubungan dekat dengan Habel! Orang asing akan sulit peduli. Jadi orang-orang yang ditakuti Kain tidak mungkin orang-orang dari bangsa lain.
Kedua, Kain dan Habel lahir beberapa waktu lamanya sebelum kematian Habel. Kejadian 4:3 mencatat:
Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan.
Perhatikan ungkapan "beberapa waktu lamanya." Kita tahu bahwa Set lahir ketika Adam berumur 130 tahun (Kejadian 5:3), dan Hawa melihatnya sebagai “pengganti” Habel (Kejadian 4:25). Karena itu, jaman sejak kelahiran Kain hingga kematian Habel mungkin ada 100 tahun atau lebih—memungkinkan banyak kesempatan bagi anak-anak Adam dan Hawa lainnya untuk menikah dan beranak- cucu. Pada saat Habel dibunuh, mungkin sudah ada sejumlah besar keturunan Adam dan Hawa, termasuk beberapa generasi.
Dari mana Teknologi Datang?
Beberapa menyatakan bahwa bagi Kain untuk pergi ke tanah Nod dan mendirikan suatu kota pastilah membutuhkan banyak teknologi yang harus sudah tersedia di tempat itu, yang mungkin dikembangkan oleh “bangsa-bangsa” lain.
Namun, keturunan Adam dan Hawa merupakan orang-orang yang amat berakal. Yubal membuat peralatan musik seperti kecapi dan seruling (Kejadian 4:21), dan Tubal-Kain bekerja dengan tembaga and besi (Kejadian 4:22).
Karena indoktrinasi evolusioner yang hebat, banyak orang sekarang berpikir bahwa generasi kita merupakan yang terpandai yang pernah ada di planet ini. Namun hanya karena kita memiliki pesawat jet dan komputer, bukan berarti bahwa kita adalah yang paling berakal. Teknologi modern berasal dari akumulasi ilmu pengetahuan. Kita bersandar pada mereka yang telah meninggal sebelum kita.
Otak kita telah menderita sejak 6,000 tahun (sejak Adam) karena Kutukan. Kita benar-benar merosot dibandingkan dengan orang-orang dari generasi-generasi lampau. Kita sekarang mungkin tidak memiliki sedikitpun kecerdasan maupun daya cita sebagaimana yang dimiliki anak-anak Adam dan Hawa. Ayat Suci memberikan kita penglihatan tentang apa yang terlihat sebagai penemuan besar dari abad permulaan.
Kesimpulan
Banyak orang Kristen tidak dapat menjawab pertanyaan tentang isteri Kain karena mereka terfokus pada dunia saat ini (dan permasalahan yang berhubungan dengan pernikahan antar kerabat dekat), dan tidak memahami secara jernih catatan bersejarah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Mereka berusaha untuk menterjemahkan Kejadian dari situasi kita sekarang, daripada memahami sejarah dunia yang sebenarnya secara alkitabiah dan perubahan-perubahan yang muncul karena dosa. Karena mereka tidak membangun pandangan dunia mereka berdasarkan Ayat Suci, mereka tersilaukan oleh jawaban-jawaban yang sederhana.
Kitab Kejadian adalah catatan tentang Tuhan yang berada disitu saat sejarah terjadi. Kitab Kejadian adalah sabda Dia yang mengetahui semuanya, dan yang merupakan saksi yang dapat dipercaya dari masa lalu. Jadi, ketika kita menggunakan Kejadian sebagai dasar untuk memahami sejarah, kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin merupakan misteri.
~Ini adalah BUKTI SEJARAH akan sahihnya Alkitab~
Peristiwa Alkitab yang paling terdokumentasi adalah air bah yang melanda seluruh bumi sebagaimana dikisahkan di Kejadian 6-9. Sejumlah dokumen Babel telah ditemukan yang menggambarkan kisah air bah yang serupa.
Daftar Raja Sumeria (digambarkan di sini), misalnya, mendaftarkan raja-raja yang memerintah untuk jangka waktu yang lama. Kemudian datanglah air bah besar. Setelah air bah, raja-raja Sumeria memerintah untuk jangka waktu yang jauh lebih singkat. Pola ini sama dengan yang ditemukan di Alkitab. Manusia memiliki periode hidup lebih lama sebelum air bah dan lebih singkat setelahnya. Tablet Epik Gilgamesh kesebelas mengisahkan tentang bahtera, binatang yang dibawa ke dalam bahtera, burung yang dikirim keluar selama masa air bah, bahtera yang terdampar di atas gunung dan korban yang dipersembahkan setelah bahtera tersebut mendarat.
Story of Adapa menceritakan adanya ujian bagi keabadian yang menyangkut makanan, serupa dengan kisah Adam dan Hawa di Taman Eden.
Tablet-tablet Sumeria mencatat kekacauan bahasa sebagaimana yang kita miliki dalam kisah Alkitab mengenai Menara Babel (Kejadian 11:1-9). Pernah ada suatu masa ketika semua manusia berbicara dengan bahasa yang sama. Bahasa kemudian dikacaukan oleh dewa Enki, penguasa kebijaksanaan. Orang-orang Babel memiliki kisah serupa dimana dewa-dewa menghancurkan sebuah menara kuil dan 'menceraiberaikan mereka keluar dan membuat aneh ucapan mereka."
Contoh-contoh lain konfirmasi di luar Alkitab mengenai peristiwa Alkitab:
• Perang melawan Israel oleh Firaun Sisak (1 Raja-raja 14:25-26), dicatat di dinding Kuil Amun di Thebes, Mesir.
• Pemberontakan Moab melawan Israel (2 Raja-raja 1:1; 3:4-27), dicatat di Inskripsi Mesha.
• Kejatuhan Samaria (2 Raja-raja 17:3-6, 24 ; 18:9-11) ke tangan Sargon II, Raja Asyur, sebagaimana dicatat di dinding istananya.
• Jatuhnya Asdod oleh Sargon II (Yesaya 20:1), sebagaimana dicatat pada dinding istananya.
• Penyerbuan Sanherib raja Asyur terhadap Yehuda (2 Raja-raja 18:13-16), sebagaimana dicatat pada Prisma Taylor.
• Pengepungan Lakhis oleh Sanherib (2 Raja-raja 18:14, 17 ), sebagaimana dicatat pada prasasti Lakhis.
• Pembunuhan Sanherib oleh anaknya sendiri (2 Raja-raja 19:37), sebagaimana dicatat pada catatan kerajaan anaknya Esarhadon.
• Kejatuhan Niniwe sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Nahum dan Zefanya (2:13-15), dicatat pada Tablet Nabopolasar.
• Kejatuhan Yerusalem oleh Nebukadnezar, raja Babel (2 Raja-raja 24:10-14), sebagaimana dicatat pada Tarikh Sejarah Babel.
• Ditawannya Yoyakhin, raja Yehuda, di Babel (2 Raja-raja 24:15-16), sebagaimana dicatat pada Catatan Tawanan Babel.
• Kejatuhan Babel pada Media dan Persia (Daniel 5:30-31), sebagaimana dicatat pada Silinder Koresh.
• Pembebasan tawanan di Babel oleh Koresh (Ezra 1:1-4; 6:3-4), sebagaimana dicatat pada Silinder Koresh.
• Eksistensi Yesus sebagaimana dicatat oleh Josephus, Suetonius, Thallus, Pliny the Younger, Talmud dan Lucian.
• Pemaksaan orang-orang Yahudi untuk meninggalkan Roma selama masa pemerintahan Claudius (41-54 M) (Kis. 18:2), sebagaimana dicatat oleh Suetonius.
~Penemuan Arkeologi yang menyatakan absolutnya Alkitab~
Berbagai penemuan arkeologi sejak pertengahan tahun 1800-an telah menunjukkan ketepatan dan masuk akalnya kisah-kisah Alkitab. Berikut ini adalah beberapa contohnya:
• Penemuan arsip Ebla di Siria Utara tahun 1970-an menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Alkitab mengenai kehidupan para bapa leluhur Israel yang pertama masuk akal. Dokumen-dokumen yang ditulis di tablet-tablet tanah liat yang berasal dari masa sekitar 2300 sM menunjukkan bahwa nama-nama pribadi dan tempat yang tercantum dalam kisah para bapa leluhur tersebut sungguh-sungguh nyata. Nama “Kanaan” digunakan di Ebla, sebuah nama yang sebelumnya dianggap oleh para pengkritik tidak digunakan pada masa itu dan digunakan secara tidak tepat di pasal-pasal pertama Alkitab. Kata “tehom” (“samudera raya”) di Kejadian 1:2 yang sebelumnya dianggap berasal dari periode yang lebih kemudian dan membuat para pengkritik mengatakan bahwa kisah penciptaan ditulis jauh di kemudian hari, ternyata merupakan salah satu kata yang dipakai di Ebla, 800 tahun sebelum Musa. Kebiasaan kuno yang terungkap dalam kisah-kisah para bapa leluhur juga ditemukan dalam tablet-tablet tanah liat dari Nuzi dan Mari.
• Orang-orang Hitit pernah dianggap sebagai legenda Alkitab belaka, sampai ditemukannya ibukota dan catatan-catatan mengenai mereka di Bogazkoy, Turki. Banyak orang menganggap ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai kekayaan Salomo terlalu dilebih-lebihkan. Catatan-catatan masa kuno yang ditemukan menunjukkan bahwa kekayaan pada masa kuno terpusat pada raja dan kekayaan Salomo sepenuhnya masuk akal. Pernah juga dinyatakan bahwa tidak ada raja Siria yang bernama Sargon yang tercatat di Yesaya 20:1, karena nama tersebut tidak pernah dikenal di catatan sejarah manapun. Namun kemudian, istana Sargon ditemukan di Khorsabad, Irak. Kejadian yang disinggung dalam Yesaya 20, penaklukan Asdod, dicatat pada dinding-dinding istananya. Tambahan pula, fragmen-fragmen yang ditulis untuk memperingati kemenangan tersebut juga ditemukan di Asdod sendiri.
• Raja lainnya yang juga diragukan keberadaanya adalah Belsyazar, Raja Babel, yang disebut namanya di Daniel 5. Raja Babel terakhir yang dicatat sejarah adalah Nabonidus. Tablet-tablet yang ditemukan memperlihatkan bahwa Belsyazar adalah putra Nabonidus yang berkuasa bersama di Babel. Jadi, Belsyazar memang dapat memberikan tawaran kepada Daniel untuk menjadi "orang nomor tiga paling berkuasa di Babel" (Daniel 5:16) jika dapat membaca tulisan tangan yang ada di dinding, sebuah posisi yang paling tinggi yang bisa dicapai. Di sini kita melihat sifat 'pandangan mata' dari catatan Alkitab, sebagaimana telah berulangkali diperlihatkan oleh penemuan-penemuan arkeologi
Kuburan keluarga Kayafas ditemukan secara tak sengaja oleh pekerja konstruksi yang akan membangun jalan di sebelah kota tua Yerusalem. Para arkeolog segera dipanggil ke situs tersebut. Mereka menemukan 12 peti yang berisi tulang yang berisikan 63 orang. Salah satu peti dihias dengan indah dan bernamakan "Yusuf bin (anak dari) Kayafas. Nama itu merupakan Imam Besar yang menahan Tuhan Yesus, sebagaimana juga didokumentasikan oleh Josephus dalam bukunya Antiquites 18:2,2;4,3. Juga ditemukan tulang dari seorang pria tua berusia 60 tahun, yang hampir dapat dipastikan adalah Kayafas yang disebut dalam Perjanjian Baru. Hal ini merupakan penemuan besar karena untuk pertama kalinya, ditemukan jasad yang merupakan bukti fisik dari orang-orang yang disebutkan dalam Alkitab.
Kaisar Agustus
Merupakan seorang politikus dan administrator yang terkenal, Agustus memerintah Roma dari tahun 27 Sebelum Masehi—14 Sesudah Masehi. Agustuslah yang mengeluarkan perintah sensus untuk seluruh Romawi, hal inilah yang membawa Yusuf dan Maria ke Betlehem, dimana Yesus dilahirkan (Lukas 2:1-7). Agustus mendirikan bagi dirinya sendiri satu kuburan megah, di sebelah timur sungai Tiber, 1.25 mil dari barat daya Roma. Masih terdapat sampai sekarang di tengah-tengah Piazza Augusto Imperatore.
Kuburan tersebut berdiameter 285 kaki dan tingginya 143 kaki di atasnya terletak patung sang kaisar. Abunya diletakkan dalam guci dan diletakkan di tengah ruangan, sedang abu para anggota keluarga diletakkan di sekitarnya sepanjang koridor ruangan tersebut. Sekalipun gucinya ditemukan namun abunya sudah lama hilang.
Kuburan para Bapa Bangsa
Alkitab mengatakan bahwa Sarah, Abraham, Ishak, Ribka, Lea dan Yakub dikuburkan di Hebron, di gua yang disebut Gua Makhpela, yang dibeli oleh Abraham (Kejadian 23).
Secara tradisional kuburan ini berlokasi di bawah Haram el-Khalil (dalam terjemahan bebas; tempat suci bagi sahabat Tuhan) di Hebron, sekarang menjadi Mesjid. Satu-satunya catatan yang diperoleh adalah pada masa kejayaan Yunani (2 abad sebelum Yesus Kristus), yang menyatakan bahwa telah ditemukan lokasi asli dari kuburan para bapa bangsa ini. Gua ini kemudian dieksplorasi oleh Augustine Cannons pada tahun 1119, dimana pada saat itu mereka mengklaim telah menemukan tulang belulang dari para Bapa bangsa ini.
Kuburan Daud dan Solomo
Tunnel tumbs
Selama masa pemerintahan raja-raja, jenazah raja Yehuda dimakamkan di kota Daud. Kota Daud terletak di sebelah selatan Yerusalem sekarang, ada dua monumen kuburan yang dipercaya para ahli bahwa itu merupakan kuburan dari Daud dan Solomo. Sayangnya kuburan itu telah rusak sehingga tak dapat diidentifikasi lagi. Pada area yang sama banyak ditemukan kuburan jaman besi, yang diperkirakan merupakan kuburan para raja Yehuda.
Satu perkecualian secara adat bagi Raja Uzia. Karena ia terkena lepra, ia tak dikuburkan bersama raja lainnya, “dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di lading dekat pekuburan raja-raja, karena ia berpenyakit kusta kata orang-orang” (II Tawarikh 26:23).
Namun ditemukan suatu prasasti menarik yang tertanggal tahun 1 Sesudah Masehi pada tahun 1931 di Bukit Zaitun yang menyebutkan, “Di sini tersimpan tulang belulang Uzia, Raja Yehuda- jangan dibuka.” Hal ini diperkirakan karena sakit lepranya tulang belulang Raja Uzia dipindahkan dari kuburan raja, ke lokasi lain.
Sirus Agung (Koresh)
Sirus memerintah kerajaan Persia pada tahun 559-530 Sebelum Masehi, ia terkenal karena menaklukkan Babilonia pada tahun 539 Sebelum Masehi. Pada abad 8 Sebelum Masehi Nabi Yesaya telah menubuatkan kekalahannya (Yesaya 45:13) dan dikatakan bahwa Sirus akan berkata “dan yang akan melepaskan orang-orangku dalam pembuangan” (Yesaya 45:13). Catatan mengenai Sirus melepaskan orang Yahudi tak hanya dicatat dalam Alkitab (II Tawarikh 36 22-23, Ezra 1:2-4), tapi juga ditemukan dalam Tabung Sirus. Tabung Sirus merupakan catatan kuno dari Kerajaan Persia, catatan tersebut berbunyi, “Saya (Sirus) yang mengumpulkan mereka orang asing dari tempat asalnya, dan mengembalikan mereka ke tempat asalnya.”
Sirus dikuburkan di kuburan batu sederhana di luar ibukotanya, sekarang menjadi kota Pasargadae di Iran modern. Menurut ahli sejarah Strabo, prasasti yang ditemukan di kuburan tersebut berbunyi," Saya Sirus, anak Kambises, yang mendirikan Kerajaan Persia dan menjadi raja Asia.
Darius I
Darius I adalah raja kerajaan Persia pada tahun 522-486 Sebelum Masehi. Ia memberikan ijin untuk membangun kembali Bait Allah (Ezra 6:1-12), yang sempat tertunda selama 10 tahun.
Kuburannya ditemukan dalam bentuk tiga monumen kuburan dekat dengan ibukota Persia, Persepolis,Iran. Prasasti yang ditemukan pada kuburannya berbunyi,
Raja Darius menyatakan: Raja, atau siapapun yang berjaya setelah saya, lindungi dirimu dari dusta. Janga pernah ,mempercayai orang yang berdusta. …Percayalah pada apa yang saya lakukan dan katakan kebenaran pada rakyat. Janganlah menyimpang darinya. Jika engkau tak menyimpang dari hal ini dan melakukan kebenaran terhadap rakyat, maka Ahura Mayda (Dewa Kebaikan agama Zoroaster, agama populer yang berlaku di kerajaan Persia) melindungi engkau…
Selain kuburannya juga ditemukan kuburan raja Persia lainnya yaitu Xerxes (Ahasyweros) (485-486 SM), Artaxerxes I (465-424 SM) dan Darius II (423-405 SM). Tak ditemukan prasasti dalam kuburan mereka untuk lebih memastikan identifikasi lebih lanjut. Xerxes adalah Ahasyweros dalam kitab Ester, raja yang menikahi Ester. Ezra menyebutnya dalam Ezra 7:1) dan Nehemia adalah juru minuman (Nehemia 2:1) raja Artaxerxes I. Raja ini mengizinkan Ezra dan Nehemia untuk kembali ke Yerusalem, Ezra bertugas untuk melakukan tugas keagamaan dan peradilan (Ezra 7:12-26) dan Nehemia untuk kembali membangun tembok kota (Nehemia 2:1-9).
Ref ; ChristianAnswer
Mari tetaplah berpegang kepada Firman Tuhan dan peganglah setiap janji-Nya dan terus bangunlah suatu persekutuan yg intim, baca firman-Nya dan pelajari. Jangan berputus asa ketika menemui kesulitan dlm mempelajarinya, melainkan mintalah hikmat dan pimpinan Roh Kudus sehingga kita menemukan rahasia2 yg tersembunyi bagi org fasik dan dibukakan bagi org yang rendah hati. Mari ajarlah anak-anak kita untuk hidup takut akan Tuhan dan ajarlah generasi muda untuk bergaul karib dengan Tuhan dan teruslah bangun Mezbah keluarga di rumah masing-masing. Berbahagialah kita yg memiliki Tuhan yg luar biasa dan firman-Nya adalah benar, absolut, tidak terbantahkan. Selamat menikmati persekutuan dgn-Nya, Damai sejahtera Tuhan menyertai sdra/i sekalian. Amen
~ Waspadai IBLIS dalam PENGINJILAN ~
~ Waspadai IBLIS dalam PENGINJILAN ~
Artikel ini bukan untuk mendiskreditkan dan juga bukan untuk menghakimi, melainkan Artkel ini mengajak kita untuk melihat kembali pelayanan-pelayanan saat ini, termasuk pelayanan yang sedang kita laksanakan dan lakukan supaya kita tetap waspada dan berjalan dalam pada jalan yang benar sesuai koridor Firman Tuhan. Artikel ini juga mengajak kita supaya melihat kepada motivasi kita melayani agar kita tidak terperangkap dalam kepalsuan.
Pada umumnya orang Kristen berasumsi, bahwa kegiatan pemberitaan Injil merupakan tugas setiap orang percaya. Namun bagaimana kalau ternyata Iblis pun turut memberitakan Injil? Dalam Kisah Para Rasul 16: 16-18 menceritakan, bahwa seorang perempuan yang mempunyai roh tenung turut bersama-sama dengan Paulus dalam pemberitaan Injil.
“Orang-orang ini adalah hamba Allah yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan ” (Kis. 16:17), demikianlah kata-kata yang diucapkan perempuan yang memiliki roh tenung itu. Kalimat yang diucapkan perempuan tenung tersebut sangat menarik, siapakah yang menyangka bahwa itu adalah pernyataan Iblis.
Kamuflase Iblis tidak dapat menipu Rasul Paulus dan Silas, karena mereka adalah pelayan Kristus yang penuh Roh Kudus. Mereka mengetahui bahwa Injil yang disampaikan perempuan tenung bersumber dari Iblis. Penting bagi kita untuk mengetahui cara Rasul Paulus dan Silas membongkar kamuflase Iblis, terutama kita yang hidup di zaman okultis. Bahkan beberapa gerakan kekristenan dengan berani mendemostrasikan bentuk okultis dalam kebaktian-kebaktian mereka.
Orang Kristen yang mengandalkan kemampuan diri sendiri dan sesamanya akan tersesat (Yer. 17: 5-6). Orang Kristen tipe ini hanya mengadalkan perasaan dan pengalaman, serta penokohan manusia sebagai sumber kebenarannya bukan firman Tuhan (Alkitab), jenis orang Kristen demikian banyak tersebar dalam gerakan Karismatik. Apabila Anda adalah salah satu orang Kristen yang hanya mengandalkan perasaan dan pengalaman, maka segeralah bertobat! Sebab hanya orang Kristen yang mengandalkan Tuhan dan firman Tuhanlah yang tidak tersesat oleh kamuflase Injil dari Iblis ( 1Kor. 2: 15).
Iblis telah mengutus pengikut-pengikutnya ke seluruh penjuru dunia untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran (1Yoh. 2: 18-19) Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 14: 6, Kis. 4: 12). Cara Iblis menyesatkan ialah dengan memberitakan Yesus yang palsu, Injil yang palsu dan Roh yang palsu juga (2 Kor. 11: 3-4, Gal. 1: 6-9, Kol. 2: 16-23, 1 Tim. 4:1-4). Mari kita telusuri ciri-ciri Injil dari Iblis,
I. Injil dari Iblis terpusat pada kebutuhan jasmaniah bukan rohani
Isi berita Injil dari Iblis terpusat pada kebutuhan jasmaniah manusia, bukan hidup yang kekal (1Tim. 1: 3-4), penuh tipu daya namun sangat menarik hati orang Kristen duniawi (2 Tim. 4: 3-4). Para pengikut Iblis menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, namun mereka sendiri adalah hamba kebinasaan (2 Petr. 2: 19), dan mereka pun berusaha mencari keuntungan materi dengan kesaksian-kesaksian palsu dari orang-orang Kristen duniawi ( 2 Petr. 2: 3).
Iblis memperdaya Hawa dengan berita Injil demikian (2 Kor. 11: 3-4) dan juga berusaha menyakin Yesus Kristus dengan isi berita yang sama yakni, segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan jasmaniah (Mat. 4: 1-11). Makanan (Mat. 4: 3-4), kedudukan (Mat. 4: 6-7) dan kekayaan ( Mat. 4: 9-10) itulah isi berita Injil dari Iblis. Namun isi berita Injil dari Iblis tidak dapat menipu Yesus Kristus, karena Yesus Kristus memahami dan membantah pernyataan Iblis dengan mengunakan firman Tuhan (Mat. 4: 4, 7, 10). Lalu bagaimana dengan orang Kristen duniawi yang banyak tersebar dalam gerakan Karismatik?
Ternyata orang-orang Kristen duniawi sangat antusias mendengarkan dan mendukung pemberitaan Injil dari Iblis, oleh karena pikiran-pikiran mereka sudah dibutakan oleh ilah zaman ini. Sehingga berita Injil yang benar tertutup untuk mereka ( 2 Kor. 4: 11). Tuhan Yesus pernah menyindir orang-orang tipe demikian yang datang kepadaNya dengan berkata, “…kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda-tanda (hal-hal yang menyatakan diriNya sebagai Mesias, Yesaya 35: 5-6), melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang (yang dimaksud Yesus ialah MUJIZAT lima roti dan dua ikan) Yoh. 6: 26.”
II. Berita Injil dari Iblis berorientasi pada pengalaman dan perasaan bukan firman Tuhan
Kisah orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas 16: 19-30 mengandung pelajaran-pelajaran rohani untuk hidup kekristenan, salah satunya adalah sikap orang duniawi dalam memahami berita Injil. Orang duniawi atau orang Kristen duniawi selalu memahami Injil dari sudut pandang diri sendiri bukan firman Tuhan, hal ini dimanfaatkan Iblis untuk menyesatkan manusia.
Pada saat orang kaya berada dalam Neraka, ia menyadari bahwa keberadaan Neraka yang sangat mengerikan. Oleh karena itu orang kaya berpikir dengan persepsinya, apabila Lazarus bangkit dari kematian dan berbicara mengenai kengerian Neraka, maka perasaan kengerian yang dilihat Lazarus dalam Neraka dan pengalaman kebangkitan Lazarus dapat menyakinkan saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Namun Abraham meluruskan persepsi yang salah dari orang kaya, bahwa kesaksian Musa dan para nabi (Alkitab) itu lebih kuat dan lebih benar dari pengalaman dan perasaan (Luk. 19: 28-30).
Akibat perasaan dan pengalaman Hawa tertipu oleh tipu daya Setan (Kej. 3), demikian halnya kebanyakan orang Kristen sekarang, mereka telah tertipu oleh tipu daya berita Injil dari Iblis. Kebanyakan orang Kristen sekarang mengandalkan perasaan dan pengalaman sebagai sumber kebenaran. Ayat-ayat Alkitab digunakan sesuai dengan keperluan diri bukan untuk membangun pengajaran.
Para pemberita dan pendukung berita Injil dari Iblis, mereka selalu menyatakan diri mendapatkan nubuat, bertemu dengan Tuhan Yesus dan segala fenomena-fenomena berdasarkan perasaan dan pengalaman bukan berdasarkan firman Tuhan. Oleh sebab itu, tidak jarang apa yang mereka lakukan bertolak-belakang dengan firman Tuhan.
Pada intinya isi berita Injil dari Iblis selalu berorentasi pada pengalaman, perasaan dan fenomena-fenomena yang menakjubkan mata. Sedangkan Isi berita Injil dari Allah selalu dimulai pengertian akan firman Tuhan (Rom. 10: 17), berlandaskan prinsip iman berdasarkan Firman Tuhan (Rom. 12:2, Ef. 5: 15-17, Kol. 1:9) dan berorentasi pada hidup yang kekal.
III. Isi Berita Injil dari Iblis Penuh Kepalsuan dan Kemunafikkan.
Tujuan perempuan tukang tenung memberitakan Injil supaya ia dan tuan-tuannya mendapat penghasilan yang besar (Kis. 16: 16). Ciri khas pemberita dan pendukung Injil dari Iblis yaitu mencari kesuksesan duniawi ( 2 Petr. 2: 3). Tujuan mereka memberitakan Injil bukan menyatakan kebenaran melainkan untuk mencapai kesuksesan duniawi, oleh sebab itu mereka tidak segan-segan menukarkan nilai-nilai kebenaran dengan perkara dunia.
Jumlah dan pendapatan pelayanan lebih penting daripada menyatakan kebenaran. Karena tujuan para pengikut Iblis tersebut adalah kesuksesan dan kepopuleran secara duniawi, maka mereka akan mengunakan berbagai macam ragam usaha untuk mencapai tujuannya, termasuk mengorbankan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan. Berkat materi, musik duniawi dengan kata-kata rohani, fashion show, karunia melakukan mujizat, usir Setan dan segala macam trik untuk mencapai kesuksesan duniawi dalam pelayanan (2 Petr. 2: 12-16, Yud. 16).
Tujuan hidup seorang hamba Tuhan ialah menyatakan kebenaran bukan mencari kesuksesan, namun bila dalam nyatakan kebenaran sukses, itu adalah anuggerah bukan tujuan. Sebaliknya bila tidak mengalami kesuksesan dalam menyatakan kebenaran, tentu akan tetap bersukacita, karena tujuannya adalah menyatakan kebenaran. Dukacita seorang hamba Tuhan yang benar ialah ketika ia tidak berani menyatakkan kebenaran, karena sebagai hamba Tuhan ia gagal mencapai tujuan.
Sukses adalah tujuan hidup pemberita dan pendukung Injil dari Iblis, sedangkan kebenaran adalah tujuan hidup dari pemberita dan pendukung Injil yang benar. Para pemberita Injil dari Iblis akan berusaha mengalabui pengikut-pengikutnya dengan cerita-cerita isapan jempol atau pengalaman-pengalaman pribadinya dengan tujuan mencari keuntungan (2 Petr. 2: 3).
Para pengikut dan pemberita Injil dari Iblis menyusup masuk dalam kekristenan (1 Yoh. 2: 19). Kesaksian-kesaksian pribadi sudah menjadi trend dalam kebaktian-kebaktian mereka, karena dengan jalan demikianlah Alkitab mengatakan mereka akan mencapai tujuannya ( 2 Petr. 2:3). Mereka berbakti dengan tujuan untuk menyenangkan hati dan telinga, bukan untuk merenungkan dan mempelajari firman Tuhan ( 2 Tim. 4: 3-4).
Istilah “jangan mancing ikan di kolam orang” merupakan pernyataan populer di kalangan pelayan-pelayan mereka, mereka masing-masing berusaha memikat pengikut-pengikutnya dengan daya tarik duniawi. Mereka suka berpura-pura bersatu, namun saling menyerang dari belakang untuk memperebutkan hal-hal duniawi yang menjadi tujuan mereka (1 Tim. 3: 1-9). Mereka tidak tulus memberitakan Injil, mereka memberitakan Injil untuk menjilat dan penuh dengan nafsu kesarakahan (Yud. 16, 2 Petr. 2: 14-16).
Mereka menutupi keserakahan dengan pengalaman dan perasaan ( 2 Petr. 2: 3), sehingga mereka dapat mengelabuhi banyak orang Kristen. Mereka tidak memiliki kemampuan baik dalam memahami firman Tuhan, sehingga setiap kali ada hal yang menyingung atau jelas-jelas bertolak-belakang dengan ajaran mereka, mereka akan berusaha untuk menutupinya dengan pernyataan jangan menghakimi.
Sebaliknya Alkitab menganjurkan untuk menyatakan kesalahan ( 2 Tim. 3: 15-16) dan menganjurkan menghakimi secara obyektif atau berdasarkan firman Tuhan (Yoh. 12: 47-48, 5: 30), bukan penghakiman secara subyektiflah yang tidak dikehendaki Tuhan (Mat. 7: 1-5). Mereka seolah-olah menjadi tuhan atas orang lain dengan pernyataan, “nanti bisa menyandung iman orang” namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk menutupi kesalahan dan mengelabui orang lain. Pernyataan Alkitab mengenai menyandung orang berhubungan dengan kehidupan praktis bukan dalam mempelajari firman Tuhan. Alkitab menganjurkan setiap orang percaya belajar (Ef. 5:17, Yoh. 8: 31-32), menguji setiap ajaran (1 Yoh. 4:1, 1 Tes. 5: 21), supaya dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan pada Tuhan (Rom. 12: 2).
Apabila ada orang yang menghalang-halangi seseorang untuk mempelajari firman Tuhan, maka orang demikianlah yang perlu diwaspadai. Barang yang asli selalu siap untuk dibuktikan keasliannya, sebaliknya barang yang palsu selalu mencari cara atau alasan untuk mengagalkan proses pembuktiannya.
IV. Kesimpulan
Bangsa Israel menolak Yesus sebagai juruselamat mereka, karena bangsa Israel hanya melihat dari sisi duniawi bukan rohani. Yesus datang ke dunia sebagai juruselamat rohani bukan juruselamat yang membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi, Yesus tidak memenuhi kriteria sebagai raja duniawi, oleh karena itu orang Israel tidak mau mengakui Yesus sebagai raja.
Demikian juga orang-orang Kristen yang hanya melihat Injil berdasarkan sudut pandang duniawi akan menolak kebenaran, dan akan mengalami penghukuman di Neraka (2 Kor. 4: 3-4). Iblis aktif memberitakan Injil palsu, sebaliknya Anda harus waspada supaya jangan tersesat dan menyesatkan dengan Injil dari Iblis (Mat. 7: 21-23, 24: 24-26, 2 Kor. 11: 3-15, Gal. 1: 6-9, Kol. 2: 16-23, 1 Tim. 4: 1-4, 1 Yoh. 2: 18-19, 2 Petr. 2: 1-20).
Komunitas dan pengikut Kristus yang sejati mengunakan firman Tuhan sebagai landasan iman. Apabila ada perbedaan atau pertentangan dalam pengajaran maka sudah sewajibnya untuk diuji berdasarkan firman Tuhan dan memegang yang baik (1 Tes. 5:21), karena umat Tuhan Yesus yang sejati mengunakan firman Tuhan untuk sebagai sumber kebenaran ( Yoh. 10: 21).
Ref : dancesuatbibleclass.wordpress. com
Artikel ini bukan untuk mendiskreditkan dan juga bukan untuk menghakimi, melainkan Artkel ini mengajak kita untuk melihat kembali pelayanan-pelayanan saat ini, termasuk pelayanan yang sedang kita laksanakan dan lakukan supaya kita tetap waspada dan berjalan dalam pada jalan yang benar sesuai koridor Firman Tuhan. Artikel ini juga mengajak kita supaya melihat kepada motivasi kita melayani agar kita tidak terperangkap dalam kepalsuan.
Pada umumnya orang Kristen berasumsi, bahwa kegiatan pemberitaan Injil merupakan tugas setiap orang percaya. Namun bagaimana kalau ternyata Iblis pun turut memberitakan Injil? Dalam Kisah Para Rasul 16: 16-18 menceritakan, bahwa seorang perempuan yang mempunyai roh tenung turut bersama-sama dengan Paulus dalam pemberitaan Injil.
“Orang-orang ini adalah hamba Allah yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan ” (Kis. 16:17), demikianlah kata-kata yang diucapkan perempuan yang memiliki roh tenung itu. Kalimat yang diucapkan perempuan tenung tersebut sangat menarik, siapakah yang menyangka bahwa itu adalah pernyataan Iblis.
Kamuflase Iblis tidak dapat menipu Rasul Paulus dan Silas, karena mereka adalah pelayan Kristus yang penuh Roh Kudus. Mereka mengetahui bahwa Injil yang disampaikan perempuan tenung bersumber dari Iblis. Penting bagi kita untuk mengetahui cara Rasul Paulus dan Silas membongkar kamuflase Iblis, terutama kita yang hidup di zaman okultis. Bahkan beberapa gerakan kekristenan dengan berani mendemostrasikan bentuk okultis dalam kebaktian-kebaktian mereka.
Orang Kristen yang mengandalkan kemampuan diri sendiri dan sesamanya akan tersesat (Yer. 17: 5-6). Orang Kristen tipe ini hanya mengadalkan perasaan dan pengalaman, serta penokohan manusia sebagai sumber kebenarannya bukan firman Tuhan (Alkitab), jenis orang Kristen demikian banyak tersebar dalam gerakan Karismatik. Apabila Anda adalah salah satu orang Kristen yang hanya mengandalkan perasaan dan pengalaman, maka segeralah bertobat! Sebab hanya orang Kristen yang mengandalkan Tuhan dan firman Tuhanlah yang tidak tersesat oleh kamuflase Injil dari Iblis ( 1Kor. 2: 15).
Iblis telah mengutus pengikut-pengikutnya ke seluruh penjuru dunia untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran (1Yoh. 2: 18-19) Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 14: 6, Kis. 4: 12). Cara Iblis menyesatkan ialah dengan memberitakan Yesus yang palsu, Injil yang palsu dan Roh yang palsu juga (2 Kor. 11: 3-4, Gal. 1: 6-9, Kol. 2: 16-23, 1 Tim. 4:1-4). Mari kita telusuri ciri-ciri Injil dari Iblis,
I. Injil dari Iblis terpusat pada kebutuhan jasmaniah bukan rohani
Isi berita Injil dari Iblis terpusat pada kebutuhan jasmaniah manusia, bukan hidup yang kekal (1Tim. 1: 3-4), penuh tipu daya namun sangat menarik hati orang Kristen duniawi (2 Tim. 4: 3-4). Para pengikut Iblis menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, namun mereka sendiri adalah hamba kebinasaan (2 Petr. 2: 19), dan mereka pun berusaha mencari keuntungan materi dengan kesaksian-kesaksian palsu dari orang-orang Kristen duniawi ( 2 Petr. 2: 3).
Iblis memperdaya Hawa dengan berita Injil demikian (2 Kor. 11: 3-4) dan juga berusaha menyakin Yesus Kristus dengan isi berita yang sama yakni, segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan jasmaniah (Mat. 4: 1-11). Makanan (Mat. 4: 3-4), kedudukan (Mat. 4: 6-7) dan kekayaan ( Mat. 4: 9-10) itulah isi berita Injil dari Iblis. Namun isi berita Injil dari Iblis tidak dapat menipu Yesus Kristus, karena Yesus Kristus memahami dan membantah pernyataan Iblis dengan mengunakan firman Tuhan (Mat. 4: 4, 7, 10). Lalu bagaimana dengan orang Kristen duniawi yang banyak tersebar dalam gerakan Karismatik?
Ternyata orang-orang Kristen duniawi sangat antusias mendengarkan dan mendukung pemberitaan Injil dari Iblis, oleh karena pikiran-pikiran mereka sudah dibutakan oleh ilah zaman ini. Sehingga berita Injil yang benar tertutup untuk mereka ( 2 Kor. 4: 11). Tuhan Yesus pernah menyindir orang-orang tipe demikian yang datang kepadaNya dengan berkata, “…kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda-tanda (hal-hal yang menyatakan diriNya sebagai Mesias, Yesaya 35: 5-6), melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang (yang dimaksud Yesus ialah MUJIZAT lima roti dan dua ikan) Yoh. 6: 26.”
II. Berita Injil dari Iblis berorientasi pada pengalaman dan perasaan bukan firman Tuhan
Kisah orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas 16: 19-30 mengandung pelajaran-pelajaran rohani untuk hidup kekristenan, salah satunya adalah sikap orang duniawi dalam memahami berita Injil. Orang duniawi atau orang Kristen duniawi selalu memahami Injil dari sudut pandang diri sendiri bukan firman Tuhan, hal ini dimanfaatkan Iblis untuk menyesatkan manusia.
Pada saat orang kaya berada dalam Neraka, ia menyadari bahwa keberadaan Neraka yang sangat mengerikan. Oleh karena itu orang kaya berpikir dengan persepsinya, apabila Lazarus bangkit dari kematian dan berbicara mengenai kengerian Neraka, maka perasaan kengerian yang dilihat Lazarus dalam Neraka dan pengalaman kebangkitan Lazarus dapat menyakinkan saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Namun Abraham meluruskan persepsi yang salah dari orang kaya, bahwa kesaksian Musa dan para nabi (Alkitab) itu lebih kuat dan lebih benar dari pengalaman dan perasaan (Luk. 19: 28-30).
Akibat perasaan dan pengalaman Hawa tertipu oleh tipu daya Setan (Kej. 3), demikian halnya kebanyakan orang Kristen sekarang, mereka telah tertipu oleh tipu daya berita Injil dari Iblis. Kebanyakan orang Kristen sekarang mengandalkan perasaan dan pengalaman sebagai sumber kebenaran. Ayat-ayat Alkitab digunakan sesuai dengan keperluan diri bukan untuk membangun pengajaran.
Para pemberita dan pendukung berita Injil dari Iblis, mereka selalu menyatakan diri mendapatkan nubuat, bertemu dengan Tuhan Yesus dan segala fenomena-fenomena berdasarkan perasaan dan pengalaman bukan berdasarkan firman Tuhan. Oleh sebab itu, tidak jarang apa yang mereka lakukan bertolak-belakang dengan firman Tuhan.
Pada intinya isi berita Injil dari Iblis selalu berorentasi pada pengalaman, perasaan dan fenomena-fenomena yang menakjubkan mata. Sedangkan Isi berita Injil dari Allah selalu dimulai pengertian akan firman Tuhan (Rom. 10: 17), berlandaskan prinsip iman berdasarkan Firman Tuhan (Rom. 12:2, Ef. 5: 15-17, Kol. 1:9) dan berorentasi pada hidup yang kekal.
III. Isi Berita Injil dari Iblis Penuh Kepalsuan dan Kemunafikkan.
Tujuan perempuan tukang tenung memberitakan Injil supaya ia dan tuan-tuannya mendapat penghasilan yang besar (Kis. 16: 16). Ciri khas pemberita dan pendukung Injil dari Iblis yaitu mencari kesuksesan duniawi ( 2 Petr. 2: 3). Tujuan mereka memberitakan Injil bukan menyatakan kebenaran melainkan untuk mencapai kesuksesan duniawi, oleh sebab itu mereka tidak segan-segan menukarkan nilai-nilai kebenaran dengan perkara dunia.
Jumlah dan pendapatan pelayanan lebih penting daripada menyatakan kebenaran. Karena tujuan para pengikut Iblis tersebut adalah kesuksesan dan kepopuleran secara duniawi, maka mereka akan mengunakan berbagai macam ragam usaha untuk mencapai tujuannya, termasuk mengorbankan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan. Berkat materi, musik duniawi dengan kata-kata rohani, fashion show, karunia melakukan mujizat, usir Setan dan segala macam trik untuk mencapai kesuksesan duniawi dalam pelayanan (2 Petr. 2: 12-16, Yud. 16).
Tujuan hidup seorang hamba Tuhan ialah menyatakan kebenaran bukan mencari kesuksesan, namun bila dalam nyatakan kebenaran sukses, itu adalah anuggerah bukan tujuan. Sebaliknya bila tidak mengalami kesuksesan dalam menyatakan kebenaran, tentu akan tetap bersukacita, karena tujuannya adalah menyatakan kebenaran. Dukacita seorang hamba Tuhan yang benar ialah ketika ia tidak berani menyatakkan kebenaran, karena sebagai hamba Tuhan ia gagal mencapai tujuan.
Sukses adalah tujuan hidup pemberita dan pendukung Injil dari Iblis, sedangkan kebenaran adalah tujuan hidup dari pemberita dan pendukung Injil yang benar. Para pemberita Injil dari Iblis akan berusaha mengalabui pengikut-pengikutnya dengan cerita-cerita isapan jempol atau pengalaman-pengalaman pribadinya dengan tujuan mencari keuntungan (2 Petr. 2: 3).
Para pengikut dan pemberita Injil dari Iblis menyusup masuk dalam kekristenan (1 Yoh. 2: 19). Kesaksian-kesaksian pribadi sudah menjadi trend dalam kebaktian-kebaktian mereka, karena dengan jalan demikianlah Alkitab mengatakan mereka akan mencapai tujuannya ( 2 Petr. 2:3). Mereka berbakti dengan tujuan untuk menyenangkan hati dan telinga, bukan untuk merenungkan dan mempelajari firman Tuhan ( 2 Tim. 4: 3-4).
Istilah “jangan mancing ikan di kolam orang” merupakan pernyataan populer di kalangan pelayan-pelayan mereka, mereka masing-masing berusaha memikat pengikut-pengikutnya dengan daya tarik duniawi. Mereka suka berpura-pura bersatu, namun saling menyerang dari belakang untuk memperebutkan hal-hal duniawi yang menjadi tujuan mereka (1 Tim. 3: 1-9). Mereka tidak tulus memberitakan Injil, mereka memberitakan Injil untuk menjilat dan penuh dengan nafsu kesarakahan (Yud. 16, 2 Petr. 2: 14-16).
Mereka menutupi keserakahan dengan pengalaman dan perasaan ( 2 Petr. 2: 3), sehingga mereka dapat mengelabuhi banyak orang Kristen. Mereka tidak memiliki kemampuan baik dalam memahami firman Tuhan, sehingga setiap kali ada hal yang menyingung atau jelas-jelas bertolak-belakang dengan ajaran mereka, mereka akan berusaha untuk menutupinya dengan pernyataan jangan menghakimi.
Sebaliknya Alkitab menganjurkan untuk menyatakan kesalahan ( 2 Tim. 3: 15-16) dan menganjurkan menghakimi secara obyektif atau berdasarkan firman Tuhan (Yoh. 12: 47-48, 5: 30), bukan penghakiman secara subyektiflah yang tidak dikehendaki Tuhan (Mat. 7: 1-5). Mereka seolah-olah menjadi tuhan atas orang lain dengan pernyataan, “nanti bisa menyandung iman orang” namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk menutupi kesalahan dan mengelabui orang lain. Pernyataan Alkitab mengenai menyandung orang berhubungan dengan kehidupan praktis bukan dalam mempelajari firman Tuhan. Alkitab menganjurkan setiap orang percaya belajar (Ef. 5:17, Yoh. 8: 31-32), menguji setiap ajaran (1 Yoh. 4:1, 1 Tes. 5: 21), supaya dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan pada Tuhan (Rom. 12: 2).
Apabila ada orang yang menghalang-halangi seseorang untuk mempelajari firman Tuhan, maka orang demikianlah yang perlu diwaspadai. Barang yang asli selalu siap untuk dibuktikan keasliannya, sebaliknya barang yang palsu selalu mencari cara atau alasan untuk mengagalkan proses pembuktiannya.
IV. Kesimpulan
Bangsa Israel menolak Yesus sebagai juruselamat mereka, karena bangsa Israel hanya melihat dari sisi duniawi bukan rohani. Yesus datang ke dunia sebagai juruselamat rohani bukan juruselamat yang membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi, Yesus tidak memenuhi kriteria sebagai raja duniawi, oleh karena itu orang Israel tidak mau mengakui Yesus sebagai raja.
Demikian juga orang-orang Kristen yang hanya melihat Injil berdasarkan sudut pandang duniawi akan menolak kebenaran, dan akan mengalami penghukuman di Neraka (2 Kor. 4: 3-4). Iblis aktif memberitakan Injil palsu, sebaliknya Anda harus waspada supaya jangan tersesat dan menyesatkan dengan Injil dari Iblis (Mat. 7: 21-23, 24: 24-26, 2 Kor. 11: 3-15, Gal. 1: 6-9, Kol. 2: 16-23, 1 Tim. 4: 1-4, 1 Yoh. 2: 18-19, 2 Petr. 2: 1-20).
Komunitas dan pengikut Kristus yang sejati mengunakan firman Tuhan sebagai landasan iman. Apabila ada perbedaan atau pertentangan dalam pengajaran maka sudah sewajibnya untuk diuji berdasarkan firman Tuhan dan memegang yang baik (1 Tes. 5:21), karena umat Tuhan Yesus yang sejati mengunakan firman Tuhan untuk sebagai sumber kebenaran ( Yoh. 10: 21).
Ref : dancesuatbibleclass.wordpress.
~Waspada Terhadap Bahaya Penyesatan~ (2 Ptr 2:1-22)
~Waspada Terhadap Bahaya Penyesatan~
(2 Ptr 2:1-22)
Dalam kitab Injil, empat belas kali Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu, pengajar-pengajar yang sesat. Diantaranya dalam Khotbah-Nya di bukit (Mat 7 : 15-23) Tuhan Yesus memperingatkan :
15 Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
Bahkan dalam Khotbah-Nya tentang Akhir Zaman, Tuhan Yesus juga mengingatkan kita untuk benar-benar waspada terhadap bahaya penyesatan yang terjadi di hari-hari yang sedang berakhir ini (Mat 24:4-5). Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang, bahkan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin mereka juga menyesatkan orang-orang pilihan juga (Mat 24:11,24). Tuhan Yesus mengingatkan bahwa tidak semua hamba Tuhan atau pelayan Tuhan itu adalah benar-benar hamba Tuhan yang benar (Mat 7:21-23). Secara lahiriah mereka tampaknya rohani dan benar padahal hatinya penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan (Mat 23:28). Mereka kelihatan sangat berhasil dalam pelayanannya dan banyak orang yang mengikut mereka, mereka menyamar sebagai rasul-rasul Kristus, mereka menyamar sebagai sebagai malaikat Terang (2 Kor 11:13-14). Padahal hati mereka dikuasai hawa nafsu, kebejatan, perzinahan, keserakahan dan kepentingan diri sendiri. Hatinya jauh dari Tuhan, mereka hanya melakukan sebatas kewajiban agama padahal mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran (Mat 5:20, 15:8-9).
Dalam Mrk 8 : 15 Tuhan Yesus juga memperingatkan para murid-Nya,kata-Nya : “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes” Ragi orang Farisi artinya orang Kristen yang mengesampingkan kebenaran firman Tuhan dan kehendak Allah dengan lebih mengutamakan tradisi keagamaan. Ragi Herodes artinya orang Kristen yang mengikuti pandangan sekularisme, humanisme dan berbalik melawan Kristus.
Mengapa bisa terjadi seperti itu ? Firman Tuhan katakan, bahwa memang semua itu harus terjadi (Mat 24:6), supaya genaplah Firman Tuhan dan supaya ada pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30).
Bahkan dalam 2 Tim 3:13 dikatakan, bahwa orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.
Bagaimana caranya kita mengenali guru-guru palsu atau nabi-nabi palsu ?
1. Perhatikan buahnya. Dalam Mat 7:16,20 Tuhan Yesus berkata : “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka….” Buah dalam hal ini adalah buah pertobatan (Mat 3:8) dan buah roh (Gal 5:22-23).
2. 2. Perhatikan bagaimana mereka hidup : apakah ia memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama, apakah mereka berdoa dengan tekun, melayani Tuhan dengan tulus dan sungguh-sungguh, apakah mengasihi jiwa-jiwa yang berdosa (Yoh 3:16), membenci kefasikan dan mencintai kebenaran, dan tidak mau kompromi dengan dosa. Kalau mereka masih hidup dalam kepahitan, kebencian, bahkan tidak segan-segan mengutuki sesamanya, mereka bukanlah hamba Kristus ! Kalau mereka masih menonjolkan/meninggikan dirinya sendiri dan mencari puji-pujian dan ingin disanjung oleh manusia atau mencari perkenanan manusia, mereka juga bukanlah hamba Kristus (Mat 23:12, Gal 1:10. Yak 4:10).
3. Perhatikan motivasi mereka : Pemimpin Kristen, nabi-nabi, pengajar-pengajar dan pengkhotbah yang sejati akan memiliki komitmen untuk hidup sepenuhnya bagi Kristus sehingga yang ditinggikan / dimuliakan dalam hidup dan pelayanannya adalah hanya Kristus (Flp 1 :20-21 dan bukan dirinya sendiri, nama hamba Tuhannya atau gerejanya), memimpin gerejanya (umat) dan menuntun orang pada pertobatan dan kekudusan (Kis 26:18), menyelamatkan orang-orang yang terhilang (1 Kor 9:19-22) dan memberitakan serta mempertahankan Injil Kristus dan pengajaran yang sehat (Yud 1: 3-4).
4. Perhatikan buah pelayanannya. Apakah buahnya banyak, baik dan tetap (Mat 7 :16-17, Yoh 15:8, 16).
5. Perhatikan apakah mereka hidup dalam kasih, mendalami, memahami dan mengalami Firman Tuhan sepenuhnya (2 Yoh 1:6, 9-10). Mereka hidup di dalam firman Tuhan dan firman Tuhan hidup di dalam mereka.
6. Perhatikan kejujurannya dalam hal uang (1 Tim 3:3). Hidup berpadanan dengan apa yang ada dan tidak membiarkan dirinya menjadi hamba uang (Ibr 13:5). Apalagi terbelenggu ambisi pribadi yang berlebihan, terjerat hutang, dan lebih mengutamakan hal-hal yang lahiriah daripada yang rohani.
7. Perhatikan caranya berbicara (apakah seorang yang bercabang lidah atau bukan, 1 Tim 3:8, 2 Tim 2:16-18). Hamba Kristus juga bukanlah hamba yang suka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, mulutnya tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang sia-sia / membawa perpecahan dan mereka tidak menjilat orang untuk mendapat keuntungan (Yud 1:16).
8. Perhatikan apakah ia bisa memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci atau sebaliknya (1 Tim 3:9)
9. Perhatikan apakah ia sudah teruji dan terbukti pelayanannya tidak bercacat (1 Tim 3:10). Sesuai dengan kebenaran dan membawa damai sejahtera.
10. Perhatikan gaya hidupnya apakah dapat menahan diri dan dapat dipercaya dalam segala hal (1 Tim 3: 11)
11. Perhatikan apakah kehidupan pribadi dan / atau rumah tangganya baik-baik (1 Tim 3 : 12)
12. Perhatikan apakah ia memiliki kesaksian pelayanan yang baik (1 Tim 3:13) dan memuliakan Tuhan.
13. Hidupnya menyenangkan hati Tuhan (berkenan kepada Tuhan) dan hidup dalam kebenaran (2 Tim 2:19).Tidak membiarkan dirinya dicemari oleh dunia (Yak 1:27). Tidak mementingkan diri sendiri atau kelompoknya sendiri (Yud 1:12).
14. Hidup tidak dikuasai hawa nafsu / kedagingan, adil, setia, kasih dan damai serta memiliki hati yang murni di hadapan Tuhan dan nurani yang bersih terhadap sesama (2 Tim 2 : 22)
15. Ramah dan cakap mengajar, sabar dan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan pada pertobatan (2 Tim 2:23-25).
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak tertipu oleh mereka atau supaya tidak terjerat penyesat-penyesat?
1. Bangunlah dirimu sendiri di atas dasar iman yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus (Yud 1:20). Iman yang paling suci adalah iman karena hikmat dan kekuatan Roh Kudus.
1. Dalam 2 Tim 3:14-17 dikatakan, bahwa kita harus tetap berpegang pada kebenaran yang telah kita terima dan kita yakini, dengan selalu mengingat (menghormati/respek terhadap) orang yang telah mengajarkan ajaran-ajaran yang sehat. Bertekunlah dalam ibadah dan pengajaran yang sehat, jangan GKJJ / Gereja Kristen Jalan-Jalan (1 Tim 4:6,13-16, 2 Tim 1:13-14). Pengajaran yang sehat akan didasarkan pada firman yang sehat, yaitu sesuai dengan 2 Tim 3:16 (mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakukan dan mendidik orang dalam kebenaran) dan kita harus memiliki hikmat pengetahuan akan kebenaran yang dari Tuhan, yaitu hikmat oleh kekuatan kuasa Roh Kudus (1 Kor 1:24, 1 Kor 2:4-5 dan 10). Dalam Yoh 14:26 Tuhan Yesus berfirman :
26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Dan Roh Kudus yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13).
1. Mintalah hikmat Tuhan dan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1 Kor 12:10) sehingga kita tidak lagi dapat terombang-ambingkan pengajaran-pengajaran yang sesat.
1. Senantiasa hidup dipimpin Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus (Rm 8:14, Gal 5:25, Ef 5:18). Dalam 1 Yoh 2:27 firman Tuhan berkata : “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tntang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”
1. Dalam Ef 4 : 21-24 dikatakan, bahwa kita harus sepenuhnya menanggalkan manusia lama kita dan senantiasa memberi diri kita untuk terus menerus dibaharui di dalam roh dan pikiranmu oleh Roh Kudus, hidup sebagai manusia baru yang seutuhnya dan menjaga kekudusan roh, jiwa dan tubuh (1 Tes 5:23).
1. Ef 5 mengingatkan betapa pentingnya kita berjalan dalam ketaatan dan hidup dalam kasih. Dan di ayat 6-7 dikatakan, janganlah membiarkan diri kita disesatkan orang dengan kata-kata hampa dan jangan berkawan dengan mereka (yang hidup dalam kegelapan) – 1 Kor 5:11. Waspada dan hindarilah mereka yang bertentangan dengan pengajaran yang sehat, yang menimbulkan perpecahan dan godaan, yang hanya mencari perkenanan manusia (Rm 16:17-18, Gal 1:10). Hati-dalam bergaul. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Bergaullah dengan orang-orang yang beriman sehat, dan rohnya menyala-nyala.
1. Berusaha untuk mencapai kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef 4:13-14). Semakin rohaninya dewasa, semakin rendah hati, dan semakin taat kepada Tuhan dan tunduk pada otoritas. Semakin rohani semakin haus akan firman yang keras dan semakin haus dipenuhi Roh Kudus.
(2 Ptr 2:1-22)
Dalam kitab Injil, empat belas kali Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu, pengajar-pengajar yang sesat. Diantaranya dalam Khotbah-Nya di bukit (Mat 7 : 15-23) Tuhan Yesus memperingatkan :
15 Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
Bahkan dalam Khotbah-Nya tentang Akhir Zaman, Tuhan Yesus juga mengingatkan kita untuk benar-benar waspada terhadap bahaya penyesatan yang terjadi di hari-hari yang sedang berakhir ini (Mat 24:4-5). Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang, bahkan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin mereka juga menyesatkan orang-orang pilihan juga (Mat 24:11,24). Tuhan Yesus mengingatkan bahwa tidak semua hamba Tuhan atau pelayan Tuhan itu adalah benar-benar hamba Tuhan yang benar (Mat 7:21-23). Secara lahiriah mereka tampaknya rohani dan benar padahal hatinya penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan (Mat 23:28). Mereka kelihatan sangat berhasil dalam pelayanannya dan banyak orang yang mengikut mereka, mereka menyamar sebagai rasul-rasul Kristus, mereka menyamar sebagai sebagai malaikat Terang (2 Kor 11:13-14). Padahal hati mereka dikuasai hawa nafsu, kebejatan, perzinahan, keserakahan dan kepentingan diri sendiri. Hatinya jauh dari Tuhan, mereka hanya melakukan sebatas kewajiban agama padahal mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran (Mat 5:20, 15:8-9).
Dalam Mrk 8 : 15 Tuhan Yesus juga memperingatkan para murid-Nya,kata-Nya : “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes” Ragi orang Farisi artinya orang Kristen yang mengesampingkan kebenaran firman Tuhan dan kehendak Allah dengan lebih mengutamakan tradisi keagamaan. Ragi Herodes artinya orang Kristen yang mengikuti pandangan sekularisme, humanisme dan berbalik melawan Kristus.
Mengapa bisa terjadi seperti itu ? Firman Tuhan katakan, bahwa memang semua itu harus terjadi (Mat 24:6), supaya genaplah Firman Tuhan dan supaya ada pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30).
Bahkan dalam 2 Tim 3:13 dikatakan, bahwa orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.
Bagaimana caranya kita mengenali guru-guru palsu atau nabi-nabi palsu ?
1. Perhatikan buahnya. Dalam Mat 7:16,20 Tuhan Yesus berkata : “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka….” Buah dalam hal ini adalah buah pertobatan (Mat 3:8) dan buah roh (Gal 5:22-23).
2. 2. Perhatikan bagaimana mereka hidup : apakah ia memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama, apakah mereka berdoa dengan tekun, melayani Tuhan dengan tulus dan sungguh-sungguh, apakah mengasihi jiwa-jiwa yang berdosa (Yoh 3:16), membenci kefasikan dan mencintai kebenaran, dan tidak mau kompromi dengan dosa. Kalau mereka masih hidup dalam kepahitan, kebencian, bahkan tidak segan-segan mengutuki sesamanya, mereka bukanlah hamba Kristus ! Kalau mereka masih menonjolkan/meninggikan dirinya sendiri dan mencari puji-pujian dan ingin disanjung oleh manusia atau mencari perkenanan manusia, mereka juga bukanlah hamba Kristus (Mat 23:12, Gal 1:10. Yak 4:10).
3. Perhatikan motivasi mereka : Pemimpin Kristen, nabi-nabi, pengajar-pengajar dan pengkhotbah yang sejati akan memiliki komitmen untuk hidup sepenuhnya bagi Kristus sehingga yang ditinggikan / dimuliakan dalam hidup dan pelayanannya adalah hanya Kristus (Flp 1 :20-21 dan bukan dirinya sendiri, nama hamba Tuhannya atau gerejanya), memimpin gerejanya (umat) dan menuntun orang pada pertobatan dan kekudusan (Kis 26:18), menyelamatkan orang-orang yang terhilang (1 Kor 9:19-22) dan memberitakan serta mempertahankan Injil Kristus dan pengajaran yang sehat (Yud 1: 3-4).
4. Perhatikan buah pelayanannya. Apakah buahnya banyak, baik dan tetap (Mat 7 :16-17, Yoh 15:8, 16).
5. Perhatikan apakah mereka hidup dalam kasih, mendalami, memahami dan mengalami Firman Tuhan sepenuhnya (2 Yoh 1:6, 9-10). Mereka hidup di dalam firman Tuhan dan firman Tuhan hidup di dalam mereka.
6. Perhatikan kejujurannya dalam hal uang (1 Tim 3:3). Hidup berpadanan dengan apa yang ada dan tidak membiarkan dirinya menjadi hamba uang (Ibr 13:5). Apalagi terbelenggu ambisi pribadi yang berlebihan, terjerat hutang, dan lebih mengutamakan hal-hal yang lahiriah daripada yang rohani.
7. Perhatikan caranya berbicara (apakah seorang yang bercabang lidah atau bukan, 1 Tim 3:8, 2 Tim 2:16-18). Hamba Kristus juga bukanlah hamba yang suka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, mulutnya tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang sia-sia / membawa perpecahan dan mereka tidak menjilat orang untuk mendapat keuntungan (Yud 1:16).
8. Perhatikan apakah ia bisa memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci atau sebaliknya (1 Tim 3:9)
9. Perhatikan apakah ia sudah teruji dan terbukti pelayanannya tidak bercacat (1 Tim 3:10). Sesuai dengan kebenaran dan membawa damai sejahtera.
10. Perhatikan gaya hidupnya apakah dapat menahan diri dan dapat dipercaya dalam segala hal (1 Tim 3: 11)
11. Perhatikan apakah kehidupan pribadi dan / atau rumah tangganya baik-baik (1 Tim 3 : 12)
12. Perhatikan apakah ia memiliki kesaksian pelayanan yang baik (1 Tim 3:13) dan memuliakan Tuhan.
13. Hidupnya menyenangkan hati Tuhan (berkenan kepada Tuhan) dan hidup dalam kebenaran (2 Tim 2:19).Tidak membiarkan dirinya dicemari oleh dunia (Yak 1:27). Tidak mementingkan diri sendiri atau kelompoknya sendiri (Yud 1:12).
14. Hidup tidak dikuasai hawa nafsu / kedagingan, adil, setia, kasih dan damai serta memiliki hati yang murni di hadapan Tuhan dan nurani yang bersih terhadap sesama (2 Tim 2 : 22)
15. Ramah dan cakap mengajar, sabar dan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan pada pertobatan (2 Tim 2:23-25).
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak tertipu oleh mereka atau supaya tidak terjerat penyesat-penyesat?
1. Bangunlah dirimu sendiri di atas dasar iman yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus (Yud 1:20). Iman yang paling suci adalah iman karena hikmat dan kekuatan Roh Kudus.
1. Dalam 2 Tim 3:14-17 dikatakan, bahwa kita harus tetap berpegang pada kebenaran yang telah kita terima dan kita yakini, dengan selalu mengingat (menghormati/respek terhadap) orang yang telah mengajarkan ajaran-ajaran yang sehat. Bertekunlah dalam ibadah dan pengajaran yang sehat, jangan GKJJ / Gereja Kristen Jalan-Jalan (1 Tim 4:6,13-16, 2 Tim 1:13-14). Pengajaran yang sehat akan didasarkan pada firman yang sehat, yaitu sesuai dengan 2 Tim 3:16 (mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakukan dan mendidik orang dalam kebenaran) dan kita harus memiliki hikmat pengetahuan akan kebenaran yang dari Tuhan, yaitu hikmat oleh kekuatan kuasa Roh Kudus (1 Kor 1:24, 1 Kor 2:4-5 dan 10). Dalam Yoh 14:26 Tuhan Yesus berfirman :
26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Dan Roh Kudus yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13).
1. Mintalah hikmat Tuhan dan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1 Kor 12:10) sehingga kita tidak lagi dapat terombang-ambingkan pengajaran-pengajaran yang sesat.
1. Senantiasa hidup dipimpin Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus (Rm 8:14, Gal 5:25, Ef 5:18). Dalam 1 Yoh 2:27 firman Tuhan berkata : “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tntang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”
1. Dalam Ef 4 : 21-24 dikatakan, bahwa kita harus sepenuhnya menanggalkan manusia lama kita dan senantiasa memberi diri kita untuk terus menerus dibaharui di dalam roh dan pikiranmu oleh Roh Kudus, hidup sebagai manusia baru yang seutuhnya dan menjaga kekudusan roh, jiwa dan tubuh (1 Tes 5:23).
1. Ef 5 mengingatkan betapa pentingnya kita berjalan dalam ketaatan dan hidup dalam kasih. Dan di ayat 6-7 dikatakan, janganlah membiarkan diri kita disesatkan orang dengan kata-kata hampa dan jangan berkawan dengan mereka (yang hidup dalam kegelapan) – 1 Kor 5:11. Waspada dan hindarilah mereka yang bertentangan dengan pengajaran yang sehat, yang menimbulkan perpecahan dan godaan, yang hanya mencari perkenanan manusia (Rm 16:17-18, Gal 1:10). Hati-dalam bergaul. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Bergaullah dengan orang-orang yang beriman sehat, dan rohnya menyala-nyala.
1. Berusaha untuk mencapai kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef 4:13-14). Semakin rohaninya dewasa, semakin rendah hati, dan semakin taat kepada Tuhan dan tunduk pada otoritas. Semakin rohani semakin haus akan firman yang keras dan semakin haus dipenuhi Roh Kudus.
Langganan:
Postingan (Atom)