Rabu, 06 November 2013

~ IMAN KRISTEN YANG BERTUMBUH ~

                       ~ IMAN KRISTEN YANG BERTUMBUH  ~ 


Pertumbuhan iman orang Kristen mengalami tiga tahap yang di tandai dengan Baptis Air, Baptis Roh Kudus dan Baptis Api. Tetapi bagaimanakah orang Kristen dapat bertumbuh imannya hingga mencapai tahap Baptis Api, dalam hal ini kita dapat belajar dari rasul Petrus, yang ditulis dalam suratnya yang ke dua (tahun 60-70 M) kepada orang-orang Kristen yang ada di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia (1 Ptr.1:1). Saat surat ini ditulis, rasul Petrus berusia sekitar enam puluh lima tahunan dan ini adalah suratnya yang terakhir sebelum beliau martir, disalib terbalik di Roma pada masa pemerintahan kaisar Nero.

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan” (2Ptr.1:5-9).

Iman (faith) adalah dasar segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr.11:1). Iman yang paling awal atau paling kecil adalah percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat manusia. Dan percaya bahwa melalui Yesus ada jalan kepada Allah (Yoh.14:6)

Kebajikan (virtue) adalah segala sifat-sifat baik (penyabar, pemurah, peramah, suka menolong dan lain-lain) yang harus dipunyai seorang beriman dalam dirinya, sifat-sifat itu sebenarnya sifat-sifat yang dipunyai Allah.

Pengetahuan (knowledge) adalah segala pengetahuan firman Tuhan yang akan menuntun orang percaya pada hidup yang penuh kebajikan yang dikehendaki Allah. Tanpa pengetahuan firman Tuhan orang akan mudah tersesat oleh pandangannya sendiri, yang sering sangat subyektif; mementingkan keuntungan dan kesenangannya sendiri.

Penguasaan diri (temperance) adalah segala sikap, perbuatan, perkataan dan pikiran yang didasarkan pada pengetahuan akan firman Tuhan , sehingga tidak lepas kontrol dan lupa karena kepentingannya sendiri, tapi lebih mementingkan pertumbuhan imannya.

Ketekunan (patience) adalah penguasaan diri yang sudah mendarah daging sehingga tahan terhadap segala ujian dan kesulitan hidup dengan penuh kesabaran.

Kesalehan (godliness) adalah keadaan dimana seorang beriman dapat bersikap, berbuat, berkata-kata dan berpikir dengan penuh ketulusan, penuh pengertian, penuh pengorbanan, penuh hikmat dan penuh makrifat. Pada posisi iman seperti ini ia tidak dapat tergoda oleh hal-hal duniawi.

Kasih akan saudara-saudara (brotherly kindness) adalah kesalehan yang timbul dari dalam hati yang diberlakukan di dalam hubungannya dengan orang-orang yang dekat dengannya dan orang-orang yang kenal dengannya, misalnya keluarga, saudara, orang tua, istri, anak, karyawan, kolega, teman, dan saudara seiman.

Kasih akan semua orang (brotherly kindness charity) adalah keadaan dimana orang beriman dengan penuh kesalehan dapat bermurah hati kepada semua orang, tanpa membeda-bedakan (apa agamanya, rasnya, negaranya dan lain-lain). Pada posisi ini pertumbuhan imannya sudah mencapai sempurna, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Ia mengasihi sesamanya seperti mengasihi dirinya sendiri (Mat.22:39).


Menjadi dewasa tidak terjadi secara otomatis, namun perlu proses dan waktu. Dalam proses tersebut mungkin kita harus melewati berbagai tahap, sama seperti seorang anak, untuk mencapai dewasa maka ia harus melewati masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa pemuda dan dewasa hingga orang tua. Kita boleh berpuluh tahun menjadi orang percaya, namun tetap tidak menjamin bahwa anda telah dewasa rohani dalam Kristus. Itu sebabnya kita barangkali pernah mendengar istilah Kristen Bonsai. Pohon Bonsai adalah semacam pohon yang sudah berpuluh-puluh tahun usianya namun tetap saja kerdil, karena memang dibentuk secara demikian. Lalu, bagaimana sesungguhnya jika kerohanian kita hendak bertumbuh?

      1.      Perlu komitmen untuk bertumbuh
Tadi kita telah mengatakan bahwa proses bertumbuh menjadi dewasa tidak ada yang otomatis, namun perlu komitmen. Dan komitmen itu harus dengan sengaja dilakukan dan dipraktekkan. Kita jangan berpikir jika kita setiap minggu datang ke gereja kemudian dengan tertib kita memberikan persembahan itu sudah cukup sebagai modal untuk bertumbuh. Mengapa? Karena hidup orang percaya bukan hanya mendengar tetapi ia juga harus taat dan mempraktekkan apa yang sudah didengar. Kita tidak jarang menemukan orang-orang yang sudah mengerti pengetahuan Alkitab, namun tetap hidupnya berantakan. Gossip tetap saja berlangsung, omong kotor tetap diucapkan, dendam tetap ada di dalam hatinya dan  tidak ada pengampunan. Semua ini dapat terjadi karena tidak adanya komitmen di dalam dirinya untuk bertumbuh.
Dr John Chamber, seorang misionaris yang pernah melayani di Indonesia dan saat ini melayani mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat pernah mengucapkan satu kalimat begini “Orang Kristen tidak diminta Tuhan menjadi salesman, tetapi ia diminta menjadi free sample” Di dalam teori ekonomi, yang dimaksud dengan free sample sudah pasrt produk yang mutunya paling baik, sebab kalau yang free samplemutunya jelek, maka produknya tidak ada yang bakal beli. Sayang sekali, ada banyak free sample yang pada mulanya baik, namun kalau sudah menuju ke produknya, hasilnya sudah jelek. Kita tidak jarang menemukan para pedagang yang menjual Mangga atau Salak, yang memberikan contoh Mangga dan Salaknya untuk dimakan rasanya manis, namun jika kita sudah membeli sekarung, maka rasanya asem semua. Kekristenan juga demikian, pada saat permulaan kita mengenal seseorang yang di persekutuan atau gereja, maka orangnya baik sekali, dan kelihatan sangat rohani dan suci. Namun makin lama bergaul, keluarlah belangnya.
 Jadi dengan tegas saya ingin mengatakan bahwa tidak ada gunanya segudang teori, entah itu Seminar, Conference, bahkan Sekolah Alkitab yang pernah anda ikuti kalau di dalam diri ini tidak ada komitmen untuk bertumbuh maka kita akan menjadi sama seperti orang luar, dan kita sebut orang Kristen Bonsai, kepalanya boleh besar penuh dengan segudang ilmu, namun hatinya kecil dan kerdil.

      2.      Perlu adanya Pembaharuan hidup yang nyata
            Berhubung manusia sudah berdosa, maka akar manusia lama kita tetap saja lengket dalam hidup ini. Apalagi menyangkut kepentingan pribadi, maka orang percaya kadang bisa lupa diri, itu sebabnya saudara dalam Kristus pun rela dikorbankan. Nah hal-hal semacam begini yang menjadi batu sandungan bagi orang luar untuk masuk ke dalam gereja.
Kita perlu ingat, bahwa terlalu sering orang percaya sendiri menjadi penghalang utama bagi baru untuk menjadi percaya, bukan orang luar. Mengapa? Karena si orang percaya tersebut tidak ada pembaharuan dalam dirinya. Alkitab mungkin sudah berulang kali dibacanya, bahkan ada puluhan ayat yang sudah dihafal secara luar kepala. Ia juga memiliki Alkitab lebih dari satu, mulai dari meja kamar, meja kerja, meja tamu, mobil, bahkan kantong saku semua berisi Alkitab. Namun semua ini tidak menjamin kerohaniannya bertambah dewasa, karena ia tidak pernah membiarkan dirinya diperbaharui oleh firman Tuhan itu. Tatkala semuanya berjalan lancar, maka puji Tuhan; namun jika kesulitan menimpa, Tuhan pun dilupakan.
Jika hari ini kita rindu menjadi orang percaya yang dewasa, maka kekristenan kita harus didemonstrasikan atau diwujudnyatakan. Orang luar tidak perduli dengan keaktifan kita di gereja, persekutuan bahkan melayani, namun yang paling penting adalah karakter dan integritas yang nyata.

      3.      Perlu mengalami Tuhan secara pribadi
Rick Warren, pendeta senior gereja Saddleback mengatakan, “adalah suatu kekeliruan jika orang-orang berpikir bahwa kerohanian seseorang akan bertumbuh melalui studi Alkitab”. Pada saat pertama saya membaca tulisannya, saya merasa kaget juga. Namun setelah berpikir ulang saya sadar, bahwa sesungguhnya studi Alkitab tidak menjamin bahwa rohani seseorang bertumbuh. Terlalu banyak ditemukan mereka yang makin belajar Alkitab, lalu pulang ke gereja menjadi para pengkritik, bahkan ada satu dua yang mencoba-coba mengadakan reformasi di gereja.
Jika seseorang hendak bertumbuh rohaninya, maka selain Alkitab yang dibacanya, maka ia juga perlu mengalami Tuhan secara nyata, dan untuk mengalami Tuhan secara nyata maka perlu waktu, tidak dapat secara instant. Kadang kita perlu mengalami kesulitan bahkan penderitaan dan tekanan, supaya kita benar-benar merasakan dan mengalami kasih Tuhan yang nyata itu.
Tatkala Musa berumur empat puluh tahun, ia berpikir bahwa ia sudah terlatih dan memilki segalanya dari istana, sehingga dengan tekad bulat ia berusaha membebaskan bangsanya yang sedang disiksa oleh salah seorang prajurit Mesir. Namun apa lacur? Perbuatannya terbongkar, sehingga ia terpaksa harus melarikan diri dalam pengasingan, dan di sana ia mengalami kasih Tuhan. Pada saat umur seratus dua puluh tahun dia kembali diutus Tuhan untuk menghadapi Firaun untuk membebaskan orang Israel, namun pada saat itu Musa mengaku bahwa dirinya tidak ada apa-apanya. Mengapa? Orang yang sudah mengalami kasih Tuhan, walaupun ia penuh dengan segudang ilmu dan keahlian, ia tetap saja merasa rendah di hadapan Tuhan.
Studi Alkitab tidak cukup, kita perlu pengalaman menyembah Tuhan, pengalaman persekutuan satu dengan yang lain dan juga pengalaman penginjilan. Dengan demikian kita bukan hanya dibangun dan diisi secara otak, tetapi juga hati, sehingga kita benar-benar menjadi orang Kristen yang dewasa secara rohani.

MENUJU PERTUMBUHAN IMAN
Apakah Iman Anda tidak bertumbuh? Mungkinkah Iman Anda dari tahun ke tahun sedikit mengalami kemajuan, atau statis – tidak mundur, juga tidak maju? Apa yang terjadi? Hal itu dikarenakan kita gagal mengenali hambatan-hambatan yang menghalangi pertumbuhan Iman kita. Iman tidak berhenti ketika kita mengambil keputusan percaya dan bertobat kepada Yesus Kristus. Iman harus di jalani, iman harus bertumbuh, berbuah, sampai mencapai tingkat kedewasaan iman. Alkitab dalam 2 Petrus 3:18 dan Efesus 4:13-15 memerintahkan kita agar bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus, dan mencapai kedewasaan penuh.
Dalam perjalanan iman menuju kedewasaaan penuh, iblis dengan tipuan muslihatnya menyebarkan ranjau, jebakan, guna menghambat pertumbuhan iman kita. Iblis tidak akan pernah berhenti mengganggu kita sampai kita terkapar jatuh. Bagaimana mengenali hambatan-hambatan Iman. Apa saja yang menjadi hambatan-hambatan iman kita?
Mengabaikan kehidupan batin kita bersama Kristus, sementara kita memusatkan perhatian pada penampilan luar.
Sepertinya kita hidup di zaman di mana orang-orang lebih memusatkan perhatian pada penampilan luar, ketimbang ketulusan hati. Seperti ketika Anda melihat orang menjual mobil bekas yang telah disulap, yang tanpak luar mengkilap, bagus dan menarik, tetapi setelah Anda memakainya beberapa minggu kemudian, semua yang buruk yang tersembunyi mulai menampakkan diri, dan Anda pasti kecewa.
Filosofi dunia adalah: “tidak pernah mendapat kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama.” Yang penting menurut dunia adalah kesan pertama.
Prinsip di atas sangat betentangan dengan Alkitab. Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan bagian luar kita, jika itu berbeda dengan hati kita. Bahkan Tuhan mengutuk mereka yang kehidupan luarnya tanpak rohani, namun pada hakikatnya kehidupan rohani mereka kering dan gersang, bahkan penuh dengan sampah (Lukas 11:39; 1 Samuel 16:7).
Kehidupan yang sejati adalah dari dalam ke luar. Kehidupan yang dari luar ke dalam adalah kemunafikan.
Untuk terus bertumbuh dan mengenal Yang Maha Kudus, maka kita Dalam kehidupan sehari-hari, tinggal dalam Firman-Nya.
~ Menerima Firman Allah dengan hati terbuka (Lukas 8:8, 15; Kisah 17:11; 1 Tes. 2:13.
~ Membaca Alkitab setiap hari (Yosua 1:8).
~ Meneliti atau mempelajari Alkitab (Kisah 17:11).
~ Menghafal Firman Tuhan (Mazmur 119:11).
~ Merenungkan Firman Tuhan (Mazmur 1:2).
~ Menerapkan atau melakukan Firman Tuhan (Yakobus 1:22)
~ Membagikan Firman Tuhan kepada orang lain (2 Timotius 4:2).
~ Membangun Kehidupan Doa sebagai percakapan dua arah
Salah satu tanda seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah adanya kehidupan doa yang konsisten. Alkitab dan doa tidak boleh dipisahkan. Dalam doa kita berkomunikasi dengan Tuhan, dan melalui Alkitab Tuhan berkomunikasi dengan kita. Kita hanya akan mengenal seseorang jika kita berkomunikasi dengan dia, begitu juga kita dengan Tuhan dan inilah iman yang bertumbuh :

1. Iman bertumbuh oleh firman Tuhan
Firman Allah katakan bahwa iman itu timbul dari pendengaran, yaitu pendengaran akan firman Allah (Roma 10:17). Jadi supaya iman bertumbuh dan bertambah teguh, kita memerlukan setiap hari firman Tuhan untuk dibaca, direnungkan dan dipraktekkan; supaya kita mendapat kekuatan Allah. Sebab hanya kekuatan Allah yang mampu mengalahkan dunia (Roma 1:16-17; I Yohanes 5:4-5 ).

Kepada Timotius rasul Paulus menulis, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik"(2 Timotius 3:12,16,17).

Sejalan dengan perjalanan hidup dalam dunia yang semakin jahat, maka dibutuhkan iman yang bertumbuh sampai mencapai kedewasaan penuh.Karena beriman kepada Yesus Kristus sebagai TUHAN dan Juruselamat bukan saja tindakan sesaat ketika kita menghadapi persoalan, tetapi juga merupakan sikap yang berkesinambungan yang harus bertumbuh dan dikuatkan (Yoh 1:12 ).

2. Iman bertumbuh oleh pengujian
Pengujian iman adalah tindakan Allah untuk meningkatkan iman seseorang menjadi lebih berkualitas. Oleh karena iman itu hidup, maka setiap orang percaya harus juga siap menghadapi ujian-ujian yang diperlukan bagi pertumbuhannya untuk dapat memperoleh buah yang matang. Perhatikan bagaimana Ayub (Ayub 1-42);Abraham (Kejadian 22); Daniel (Daniel 6); Sadrakh, Mesdakh dan Abednego (Daniel 3) dll.

3. Iman bertumbuh dalam pencobaan
Pengujian berbeda dengan pencobaan. Pencobaan yang berasal dari Iblis bertujuan untuk menipu dan membinasakan manusia (Kejadian 3:1-5; Yohanes 10:10). Tetapi pencobaan yang dari Tuhan dipakai-Nya untuk merendahkan hati dan untuk mengetahui isi hati kita (Ulangan 8:2). Reaksi-reaksi negatif yang muncul dari pencobaan akan dipangkas oleh Tuhan. Setelah itu Tuhan akan memulihkan kita dengan penghiburan dan memberi hati yang baru, yaitu hati yang taat (Yehezkiel 11:19,20).

4. Iman bertumbuh dalam penganiayaan dan penderitaan
Tuhan Yesus mengalami penderitaan sejak bayi (Matius 2:12-15). Di sepanjang hidup dan pelayanan-Nya tidak pernah sepi dari penderitaan dan aniaya. Murid-murid-Nya dan Gereja mula-mula juga mengalami hal yang sama. Kaisar Nero menjadi pemicu aniaya terhadap Gereja Tuhan tanpa alasan (tahun 64 M). Tetapi meskipun demikian tidak ada seorang pun murid Tuhan Yesus yang murtad karena aniaya dan penderitaan. Gereja-Nya pun tidak pernah surut, tetapi sebaliknya semakin bertambah besar dan kuat. Hingga pada saatnya dunia tidak mampu lagi membendung perkembangan dan pertumbuhan Gereja dan akhirnya pada zaman Konstantinus Agung (tahun 312 M) Gereja resmi dijadikan agama negara yang satu-satunya.

Kepada Timotius rasul Paulus menulis, "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2 Timotius 3:12). Mengapa demikian? Karena penderitaan bukan saja merupakan akibat dari ibadah kita, tetapi juga merupakan sebuah panggilan dan karunia (Filemon 1:29). Terhadap dunia, penderitaan yang kita alami disebabkan oleh adanya roh kemuliaan yang ada di dalam kita (1 Petrus 4:14); tetapi terhadap diri kita sendiri setiap penderitaan yang kita alami bernilai sebagai karunia panggilan dan sebagai alat pendidikan dan untuk menumbuhkan iman kita.

5. Iman bertumbuh dalam kehidupan padang gurun
Padang gurun adalah istilah yang sering kita pakai untuk menggambarkan situasi dan keberadaan sulit yang sedang kita alami. Padang gurun adalah waktu-waktu yang sangat penting untuk menguji hati dan iman kita, apakah kita tetap melekat kepada TUHAN. Padang gurun juga merupakan perjalanan yang harus dialami oleh setiap orang percaya, sebab di sanalah karakter kita dibentuk. Kita dilatih bagaimana menghadapi persoalan dengan sikap-sikap yang baru sebagai manusia baru yang telah datang.
• Firman Tuhan dan mengalami padang gurun akan membawa pertumbuhan iman yang berkemenangan. Namun hal ini belum cukup, sebab TUHAN menghendaki kita memiliki iman yang sempurna (Yakobus 2:22). Jadi, iman diperlukan dalam perjalanan padang gurun kita masing-masing untuk pembentukan karakter kita dan demi pertumbuhan iman kita.
• Di samping itu perjalanan di padang gurun adalah pembuktian akan adanya watak asli yang kita miliki selama ini. Dan semuanya akan memancar keluar sebagai reaksi atas setiap masalah yang sedang kita hadapi, kemudian akan berganti dengan karakter yang baru.

6. Iman bertumbuh karena dipraktekkan
Surat Yakobus menulis bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yakobus 2:17.) Iman yang mati jelas tidak bertumbuh. Karena itu iman yang demikian tidak berguna.
Perbuatan-perbuatan dimaksudkan adalah perbuatan yang sejalan dengan iman yang kita miliki. Perbuatan bagi pelayanan kita kepada TUHAN dan kegiatan melayani sesama (Roma 12:11; 1 Petrus 4:10 ). Tindakan rela melayani TUHAN dan melayani sesama merupakan tindakan aktif yang menempatkan hidup kita sebagai hamba kebenaran. Menyadari bahwa hidup kita telah ditebus dengan darah yang mahal, yaitu darah Anak Domba Allah, sepatutnyalah kita tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita menjadi senjata kelaliman melainkan untuk menjadi senjata-senjata kebenaran (Roma 6 :13).

7. Iman bertumbuh dengan persoalan
Orang percaya tidak pernah lepas dari persoalan (Mazmur 34:20). Kalau cara menghadapi persoalan itu dengan sikap dan cara yang lama, pasti kita akan kalah. Sebaliknya jika kita menghadapinya dengan sikap yang baru, pasti kemenangan akan kita peroleh.

Reaksi kita atas persoalan bisa keluar melalui perkataan, tetapi bisa juga dengan tindakan. Dan reaksi yang kita lakukan itu akan menunjukkan siapa jati diri kita sebelumnya. Sebagaimana firman Tuhan katakan, bahwa pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, tetapi pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula (Lukas 6:43-45).

Pertumbuhan iman dimaksudkan bukan saja untuk kita beroleh penggenapan janji Allah, tetapi dengan iman juga akan membimbing kita untuk tetap melekatkan hati kita kepada TUHAN. Hidup berharap dan bergantung kepada TUHAN itulah yang akan membentuk hidup kita sebagai manusia rohani.
Demikian kiranya menjadi berkat dan mari kita terus bertumbuh, Tuhan Yesus memberkati.

Ref :

Senin, 04 November 2013

~ PENYEMBAHAN YANG BENAR ~

~ PENYEMBAHAN YANG BENAR ~

“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian , Yoh 4:23 “
Penyembahan yang benar menuntut suatu kehidupan yang diarahkan secara total kepada TUHAN. Penyembahan yang benar terjadi bila dilakukan dengan segenap hati dan dengan penuh kasih kepada TUHAN karena TUHAN mengasihi kita ebih dulu dan menciptakan kita segambar dengan-Nya, penyembahan yang benar terjadi tatkala kita menjadi milik-Nya.
Penyembahan Yang Benar Mencakup:
1. MUSIK YANG BENAR.
Musik kita harus benar sehingga kita dapat menyembah TUHAN di dalam roh dan kebenaran. Kekudusan dikaitkan dengan penyembahan yang benar. Alkitab mengisyaratkan agar kita menyembah TUHAN dengan berhiaskan kekudusan ( Maz 96:9 ). Jadi segala sesuatu yang berbau keduniawian tidak akan mengantarkan kita kepada penyembahan yang menyenangkan hati TUHAN dan jenis musik yang kita dengarkan dan kita mainkan berbicara banyak tentang kondisi hati dan hubungan kita dengan TUHAN.

2. HATI YANG PERCAYA.
Semua penyembahan yang benar harus keluar dari hati yang percaya. Tugas manusia yang pertama adalah mempercayai-Nya ( Yoh 6:28-29). Manusia menghina dan menghujat TUHAN bila mereka tidak percaya kepada-Nya. Tidak mempercayai TUHAN adalah berarti tidak setuju dengan TUHAN dan ini mendukakan Roh-Nya ( Am 3:3). Hati yang percaya memuaskan dan menyukakan hati TUHAN dan hal ini merupakan tujuan utama dari penyembahan yang benar. Marilah kita mengangkat tangan kita kepada TUHAN tanpa kemarahan dan keragu-raguan ( 1Tim 2:8)

3. SIKAP YANG MAU BERGANTUNG KEPADA TUHAN
Sewaktu kita datang untuk menyembah TUHAN, kita harus mendekati-Nya dengan sikap yang rendah hati dan bergantung kepada-Nya ( Mat 5:3). Penyembahan itu sepenuhnya berasal dari kasih karunia, dan kasih karunia hanya diberikan kepada orang yang rendah hati. Kerendahhatian yang mendalam dibutuhkan untuk dapat sepenuhnya mendekati TUHAN dan sampai ke dalam kenyataan-kenyataan penyembahan yang benar ( Yes 57:15). Dengan kerendahhatian akan membawa kita menuju ke gunung kudus-Nya TUHAN di dalam penyembahan di dalam roh dan kebenaran.

4. HATI YANG BERSYUKUR
Pengucapan syukur adalah sikap hati yang mengalahkan segala keegoisan dan kepahitan, sehingga dapat menyiapkan hati kita untuk mempersembahkan penyembahan yang menyukakan Pencipta kita. Mustahil bagi kita untuk menyembah TUHAN di dalam roh dan kebenaran jika tidak ada pengucapan syukur di dalam hati kita. Alkitab mengisyaratkan kita untuk “ memasuki gerbang-Nya dengan pengucapan syukur”( Maz 100:4)

5. KEHIDUPAN YANG TAAT
Ketaatan membuat kita tetap diperkenankan oleh TUHAN dan menolong kita untuk dapat masuk ke dalam penyembahan yang murni. Ketika kita menyerahkan segenap keberadaan kita kepada-Nya, sama seperti yang telah Kristus lakukan (Ef 5:2), hidup kita menjadi sesuatu yang manis bagi TUHAN. Dalam Roma 12:1, kita diperintahkan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, dan hal itu adalah ibadah yang sejati.

6. HATI YANG BERSIH TERHADAP ORANG LAIN
Sebelum kita datang ke mezbah untuk menyembah, pertama-tama TUHAN ingin agar kita menyelesaikan persoalan kita dengan orang lain ( Mat:23-24). Jika ada perasaan-perasaan jahat di dalam hati kita, maka kita tidak dapat menyembah dalam roh dan kebenaran. Jadi diperlukan pemberesan terlebih dahulu dan kita harus membuka hati kita bagi TUHAN sehingga kasih TUHAN mengalir dalam kehidupan kita.

7. MELETAKKAN KEINGINAN KITA YANG TERDALAM DI KAKI-NYA
Penyembahan artinya menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada TUHAN dan hendaklah kita memuliakan Dia sebagai yang terutama di atas segala-galanya tatkala kita meletakkan tujuan, rencana, pelayanan, pekerjaan kita dan bahkan orang yang kita kasihi. Dengan melakukan hal ini, sesungguhnya kita berkata kepada TUHAN, “ segala hal lain bukanlah hal yang utama, sebab Engkaulah adalah yang terutama di dalam hidupku “.

8. KESADARAN BAHWA KITA ADALAH MILIK TUHAN
Penyembahan yang benar mencakup sikap hidup kita, kita diciptakan oleh dan untuk Dia, untuk menyukakan-Nya. Kita diciptakan segambar dengan-Nya dan kita telah ditebus dengan darah-Nya yang kudus, dan kita bukan menjadi milik kita lagi, melainkan kita adalah milik TUHAN untuk kemuliaan nama-Nya. Penyembahan tertinggi adalah ketika kita mencintai setiap bagian dari TUHAN dengan segenap keberadaan diri kita.

9. TUNDUK KEPADA OTORITAS TUHAN
Penyembahan yang benar juga dinyatakan dengan penundukan diri terhadap otoritas-Nya dan kepada orang-orang yang telah Ia tempatkan sebagai pemimpin kita. Penyembahan itu didemonstrasikan dengan menerima sepenuhnya keadaan apa pun yang TUHAN berikan ke dalam hidup kita. Ayub adalah seorang penyembah sejati, ketika ia kehilangan semua miliknya, ia merendahkan dirinya dan menyembah TUHAN ( Ayb 1:21-22)

10. HATI YANG BERSUNAT
Menyunat artinya mengerat hal-hal yang kita bawa sejak lahir yang merupakan tabiat dosa, yang merupakan kesombongan, kekeraskepalaan dan segala macam kedagingan. Penyembahan yang benar muncul ketika hati kita telah dimerdekakan oleh Kristus, dimerdekakan oleh Pedang Roh dari ikatan-ikatan tradisi dan pikiran alamiah, dimerdekakan dari prinsif-prinsif keduniawian dan dimerdekakan dari filsafat dunia.

HalleluYah…., mari bersyukurlah selalu dalam segala hal dan tidak perlu kuatir akan hidup ini karena TUHAN kita adalah TUHAN yang hidup yang memimpin kita kepada kemenagan yang besar. Mari sembahlah Dia dalam roh dan kebenaran. Pujian dan rasa syukur kita akan membawa kita ke dalam penyembahan…
Mari bersyukurlah dalam setiap keadaan dan persembahkanlah hidup kita sebagai persembahan yang menyenangkan hati TUHAN dan demonstrasikan melalui sikap hidup kita sehingga nama TUHAN dipermuliakan. HalleluYah….

Ref : Kekristenan Sejati ( Paul G. Caram )

~ TANGAN IBLIS YANG MENCUCI OTAK ORANG PERCAYA ~

 ~ TANGAN IBLIS YANG MENCUCI OTAK ORANG PERCAYA ~
                                                  By David Yehuda.

Hari-hari ini kekristenan terus diserang dari berbagai penjuru dan bahkan dinding dan tembok-tembok doa mulai retak dari dalam yang dilakukan oleh kalangan orang percaya itu sendiri. Hari-hari ini krisis iman di tengah kehidupan kekristenan begitu nyata, mengaku sebagai orang Kristen....namun sudah melenceng dan bahkan melawan otoritas Firman Tuhan dan bahkan dengan beraninya memelintir Firman Tuhan sekehendak olah pikirnya yang terbatas. Manusia cenderung ingin mengatur Tuhan dan melahirkan pengetahuan baru tentang Tuhan dengan hasil olah pikirnya yang tanpa diterangi oleh Roh Kudus.
Artikel ini bukan untuk menyerang, namun untuk membuka tabir hitam, menyibak kabut gelap yang memayungi kekristenan masa kini. Tangan-tangan Iblis telah meracik ramuan yang membutakan mata para anak muda dan bahkan kekristenan untuk tidak melihat Tuhan di dalam kesempurnaan-Nya. Di sini saya akan memberikan gambar tangan Iblis tersebut

TEOLOGI LIBERAL

Akar dari teologi liberal (juga disebut sebagai modernisme) dapat ditelusuri sampai ke Jerman pada abad kedelapan belas, Immanuel Kant (1724-1804) biasanya dipertimbangkan sebagai bapak dari religius liberalisme modern, Kant menyangkali bukti-bukti dari eksistensi Allah, dan mempertahankan bahwa manusia hanya dapat mengetahui Allah melalui penalaran, Pendekatan ini merupakan hasil dari Pencerahan, yang memandang tradisi dan otoritas Alkitab dengan kecurigaan dan mengklaim jasa dari penalaran, Friedrich Schleiermacher (1768-1834) membawa gambaran baru pada teologi melalui penekanannya pada "perasaan" dalam agama Schleiermacher berusaha untuk membuat teologi cocok dengan pikiran modern, la mengajarkan bahwa agama tidak dapat diidentifikasi dengan kredo-kredo, melainkan dengan ekspresi dari perasaan, baik itu ekspresi seni, literatur atau yang lain, Schleiermacher mendefinisikan agama sebagai "perasaan dari kebergantungan yang absolut", Sebaliknya, ia mengidentifikasikan dosa sebagai keegoisan yang menguasai seseorang akan dunia ini, George Hegel (1770-1831) membawa pemikiran liberal ke arah lain, Hegel membawa konsep evolusi ke dalam sejarah (dan agama) pada waktu ia mengajarkan bahwa sejarah adalah pertemuan dari gerakan-gerakan yang berlawanan (tesis-antitesis) dengan percampuran dari keduanya (sintesis), Banyak orang merasakan bahwa filsafat Hegelian sangat dipengaruhi oleh Ferdinand C, Baur (1792-1860) dan Julius Wellhausen (1844-1918) di dalam hal studi kritis terhadap Alkitab. Maka, lahirlah 
higher criticism, di mana pandangan tradisional tentang penulis kitab-kitab di Alkitab dipertanyakan.

Inti dari teologi liberal termasuk sebagai berikut. Penekanan pada penalaran manusia dan pengalaman; kepercayaan-kepercayaan agama harus lulus tes penalaran manusia dan penemuan-penemuan ilmiah; dan Kekristenan harus beradaptasi pada dunia modern. Alkitab bukan tanpa salah, dan kitab yang berotoritas; Alkitab adalah catatan dari pengalaman-pengalaman orang lain; dan memiliki nilai keteladanan bukan dogmatik. Tidak ada perbedaan di antara natural dan supranatural: perbedaan antara Allah dan natur, manusia dan binatang, Kristus dan manusia dihilangkan; hasil logis dari pandangan ini adalah panteisrne.

Liberalisme merupakan pandangan yang optimistik tentang hidup yang kehilangan pengaruhnya sebagai akibat dari PD I, dan melalui kelahiran pendekatan baru pada kepercayaan-kepercayaan religius yang disebut Neo-ortodoksi.

Liberalisme menyatakan bahwa teologi-teologi yang ada, adalah hasil dari rasionalisme dan eksperimentalisme dari para filsuf dan ilmuwan, Liberalisme menempatkan penalaran manusia dan penemuan-penemuan ilmiah pada tempat utama; segala sesuatu yang tidak sepakat dengan penalaran dan ilmu pengetahuan harus ditolak, Sebagai akibatnya, liberalisme telah menolak doktrin historik dari iman Kristen, karena berhubungan dengan mukjizat dan supranatural: inkarnasi Kristus, kebangkitan tubuh Kristus, dan semacamnya, Modernisme merupakan hal yang secara umum sama dengan liberalisme, tetapi menekankan penemuan-penemuan dari ilmu pengetahuan, dan berusaha untuk merekonsiliasi ilmu pengetahuan dan Alkitab sebagaimana dalam kasus Harry Emerson Fosdick.

PARA TEOLOG PENENTANG KESAHIHAN ALKITAB
1. Friedrich Schleiermacher (1763-1834).
Teolog Protestan Jerman ini bereaksi terhadap rasionalisme yang dingin dari para filsuf, dan berusaha untuk membela Kekristenan dengan dasar perasaan la mengembangkan suatu "teologi perasaan" dan dengan itu ia disebut sebagai bapak dari neo-ortodoksi (ia juga dikenal sebagai bapak dari religius liberalisme modern), Schleiermacher menekankan bahwa agama tidak ditemukan dalam penalaran filosofis atau dalam pengakuan doktrinal (ia menolak doktrin-doktrin historik dari Kekristenan), melainkan ditemukan dalam perasaan, di mana seseorang dapat mengalami Allah, la menekankan sifat subjektifitas dari agama, yang penekanan nya kemudian ditemukan dengan ekspresi seutuhnya dalam neo-ortodoksi.

Schleiermacher menekankan suatu agama etika, yang ia definisikan sebagai "perasaan kebergantungan secara mutlak" atau "kesadaran akan Allah". la tidak menganggap dosa sebagai suatu pelanggaran terhadap hukum Allah. ia mendefinisikan dosa sebagai peristiwa "di mana manusia berusaha untuk hidup sendiri, terpisah dari alam semesta dan sesamanya". Schleiermacher juga menolak doktrin-doktrin historik seperti kelahiran dari anak dara, penebusan substitusionari, dan keilahian Kristus, Semua itu tidak penting. Ia mengajarkan bahwa Kristus adalah seorang penebus, hanya dalam arti bahwa la merupakan teladan yang ideal dan sumber dari kesadaran akan Allah yang mengatasi dosa. Orang-orang percaya mengalami regenerasi (kesadaran akan Allah dari Yesus) "dengan berpartisipasi dalam hidup persekutuan dari gereja kontemporer, bukan dengan hanya percaya kepada kematian Kristus dan kebangkitan-Nya dalam sejarah".

Teologi Schleiermacher memiliki efek dramatik pada isu otoritas. "Tidak ada otoritas eksternal, baik itu Kitab Suci, gereja. atau pernyataan kredo historik, yang mengatasi pengalaman langsung dari orang-orang percaya". Akar dari subjektivisme (dengan penekanan pada pengalaman, bukannya pada yang objektif, kebenaran doktrinal), secara prinsipil dapat dilihat dalam neo-ortodoksi, demikian pula dalam penolakan liberal pada otoritas Kitab Suci, yang ditemukan dalam teologi Schleiermacher.
2. Albrecht Ritschl (1822-1889).
Teolog ini berasal dari Protestanisme Jerman, seperti halnya Schleiermacher, ia mengajarkan bahwa agama tidak boleh teoritis, tetapi praktis. Ia menolak baik spekulasi filosofi kal dari para filsuf maupun penekanan atas pengalaman dari Schleiermacher. Ia mengajarkan kepentingan dari nilai etika. "Hal itu harus dimulai dengan pertanyaan, "Apa yang harus saya lakukan untuk diselamatkan?" tetapi apabila pertanyaan itu berarti "Bagaimana saya dapat pergi ke surga ketika saya mati?" maka hal itu merupakan pertanyaan yang bersifat teoritis. Diselamatkan berarti hidup dalam suatu kehidupan yang baru, diselamatkan dari dosa, keegoisan, ketakutan dan kebersalahan".

Ritschl menolak doktrin-doktrin tradisional dari dosa asal, inkarnasi, keilahian Kristus, penebusan substitusionari Kristus, kebangkitan tubuh Kristus, mukjizat-mukjizat, dan doktrin-doktrin kardinal lainnya, Doktrin-doktrin ini tidaklah penting karena semua itu tidak praktikal, semua doktrin itu tidak berkaitan dengan isu-isu moral. Ritschl mengevaluasi segala sesuatu berkaitan dengan penilaian dari fakta (peristiwa historis) dan penilaian dari nilai (implikasi-implikasi bagi individu), Jadi, seseorang dapat berbicara tentang fakta Yesus dan nilai Kristus. Kepentingan dari diskusi itu sekadar pada nilai Kristus bagi komunitas orang percaya, Kristus yang seperti ini dipahami melalui iman, realitas historis dari pribadi-Nya tidaklah penting, Pernyataan-pernyataan doktrinal tidaklah penting, karena semua itu tidak menolong seseorang dalam perilaku moralnya; jadi, kematian Kristus bukan merupakan kematian penebusan, tetapi suatu teladan moral tentang kesetiaan terhadap panggilan-Nya, yang seharusnya menginspirasikan orang lain untuk memiliki kehidupan yang serupa,

Sangatlah jelas bahwa Ritschl meletakkan dasar bagi dikotomi dari perbedaan antara historie (peristiwa dari sejarah) dan geschichte (cerita atau mite) yang muncul kemudian, Dengan penekanannya pada nilai moral, ia terlihat meletakkan dasar untuk "injil sosial" liberal
3. Adolph Von Harnack (1851-1930).
Teolog Jerman ini merupakan pengikut Ritschl, yang percaya "bahwa kepercayaan Kristen dibungkus oleh pemikiran Yunani yang diperkenalkan ke dalam Injil, yang kebanyakan bukan esensi iman yang sebenarnya". Von Harnack mempopulerkan pandangan Ritchi melalui buku terlarisnyaWhat ls Christianity? yang diterbitkan pada tahun 1901.

Von Harnack menyangkali bahwa Yesus pernah mengklaim keilahian-Nya, menyangkali mukjizat, dan mengatakan bahwa Paulus telah mencemarkan agama sederhana dari Yesus. Ia menekankan kebutuhan untuk kembali pada agama dari Yesus, bukan agama tentang Yesus. Jadi, adalah penting untuk kembali pada kebenaran sentral atau intinya, dengan cara mengangkat kabut budaya yang melingkupi kebenaran itu, Benih-benih dari demitologisasi Rudolf Bultmann terlihat di dalam pendekatan Von Harnack.

Kritikisme Biblikal.
1. Perjanjian Baru.
F, C. Baur (1792-1860) menolak doktrin historis Kristen dan mengembangkan metode kritik historis dengan cara menerapkan filsafat Hegel, yaitu tesis-antitesis-sintesis pada Kitab Suci. Ia mencari elemen-elemen kontradiksi dalam PB untuk mendukung teorinya. Jadi, ia berpendapat bahwa ada konflik antara teologi Petrus (Yahudi) dengan teologi Paulus (non-Yahudi). Menurut Baur, setiap kitab PB harus dipertimbangkan berdasarkan terang dari konflik antara Yahudi dan non-Yahudi pada gereja mula-mula,

David Strauss (1808-1874), seorang murid dari Baur, menyangkali keakuratan dari catatan historis Alkitab, dengan mengatakan bahwa terjadi pencemaran yang dilakukan oleh para pengikut Yesus, Jadi, ia memandang Alkitab sebagai dipenuhi oleh "mitos". suatu konsep yang diambil dari filsafat Hegel, Dalam menafsirkan PB, Strauss mengajarkan bahwa Yesus merupakan simbol dari Ide Absolut dalam umat manusia, Jadi, Allah-manusia yang sejati bukan hanya pada Yesus, melainkan pada seluruh umat manusia.


2. Perjanjian Lama.
Dalam kritikisme PL, teori hipotesa dokumentari berpendapat bahwa Pentateukh merupakan kumpulan dari dokumen-dokumen yang berbeda, yang ditulis dalam periode lima abad (bukan ditulis secara keseluruhan oleh Musa). 
Jean Astruc (1684-1766), seorang dokter Perancis berpendapat bahwa Musa menyalin dari dua dokumen yang berbeda, salah satunya yang menggunakan nama Elohim untuk Allah dan yang lain yang menggunakan Jehovah Pendapat Astruc menjadi dasar bagi hipotesa dokumentari. Eichhorn mengembangkan pendapat ini dengan membagi Kejadian dan sebagian dari Keluaran; DeWette melanjutkan pekerjaan itu dengan menerapkan tesis Astruc pada Ulangan, Ada kontribusi dari yang lainnya, dan teori terakhir menghubungkan komposisi dari Pentateukh dengan pola evolusionari dari Julius Wellhausen.

Pendekatan dari kritikal tinggi ini telah melakukan banyak hal untuk menghancurkan pandangan tentang penulisan dari kitab-kitab di Alkitab yang dipegang secara historis, Jalan telah diaspal untuk memilah-milah semua kitab di Alkitab dan secara umum menetapkan penanggalan yang lebih terkemudian pada tulisan-tulisan mereka, Contohnya, kitab-kitab di PB seperti surat-surat pastoral, Paulus sebagai penulis telah ditolak.

Horace Bushnell (1802-1876), Seorang klergi Amerika bagi orang Amerika sebagaimana halnya Schleiermacher bagi Eropa, la kemudian dikenal sebagai "bapak dan teologi liberalisme Amerika", Berbeda dengan pertobatan seketika dan dramatik yang dianut oleh para penginjil pada zamannya, Bushnell menjadi berpengaruh dalam pengajarannya bahwa anak-anak "akan bertumbuh ke dalam" Kekristenan dalam suatu periode waktu, bukan melalui pertobatan secara instan, Dalam pengajuan filsafatnya, Bushnell menolak doktrin dosa asal. Ia berpendapat bahwa anak-anak dilahirkan dalam keadaan baik dan akan tetap baik apabila dirawat dengan benar. Bushnell menolak doktrin inspirasi Alkitab (di antara doktrin-doktrin lain yang ia tolak) dan juga menganut teori keteladanan dari kematian Kristus.

Walter Rauschenbusch (1861-1918). Seorang klergi Baptis dari Amerika mengajarkan injil sosial dan kemudian dikenal sebagai "bapak dari injil sosial". Teologi Rauschenbusch dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai pendeta dari gereja Second German Baptis di kota New York, di mana ia melihat kehidupan yang penuh penderitaan dari para imigran, pengeksploitasian para buruh, dan perlakuan diskriminatif dari pemerintah terhadap orang miskin yang menderita. Ketika ia kembali untuk mengajar di Baptist Theological Seminary di Rochester, New York, ia mengajar dan menulis cukup panjang lebar berkaitan dengan kepercayaannya tentang teologi keprihatinan sosial. Ia mengkritik sistem kapitalistik yang telah dimotivasi oleh keserakahan dan penganutan dari kepemilikan properti secara kolektif (namun dia menolak Marxisme). Bagi Rauschenbush, injil bukan tentang berita keselamatan pribadi, melainkan etika kasih Yesus yang akan mentransformasi masyarakat melalui penyelesaian masalah kejahatan sosial . 

DOKTRIN LIBERAL YANG BERBAHAYA
Bibliologi.
Kaum liberal memandang Alkitab sebagai buku biasa, bukan diinspirasikan secara khusus, Kritik tinggi menganalisa kitab-kitab di Alkitab berdasarkan sudut pandang manusia, yaitu berusaha untuk menemukan faktor-faktor manusia berkaitan dengan penulisan, penanggalan, dan sumber-sumber yang dipakai dalam penulisan. Mereka tidak mempedulikan pandangan-pandangan tradisional tentang penulisan oleh Paulus, misalnya. Jadi, kitab-kitab di Alkitab secara umum diberi penanggalan yang lebih terkini, dan sering kali pandangan tradisional sehubungan dengan penulisan ditolak.

Skema evolusi diaplikasikan pada perkembangan agama di Alkitab, sehingga agama Israel tidak diakui sebagai hasil dari pewahyuan Ilahi, namun hanya sekadar dipandang sebagai perkembangan agama manusia. Jadi, agama Israel di PL dipandang sebagai suatu "agama yang haus darah" dan dalam perkembangan dilihat sebagai lebih rendah dari "etika Yesus yang lebih tinggi". Jadi, konflik yang terlihat di antara PL dan PB dijelaskan dalam agama evolusi. 

Teologi Proper.
 Liberalisme menekankan keimanenan Allah, yang mengajarkan bahwa Allah ada di mana-mana dan dalam segala sesuatu. Hasil ekstrim dari keimanenan Allah adalah panteisme (Allah adalah segala sesuatu). Dalam doktrin liberal, Allah dilihat bekerja dalam segala sesuatu, la bekerja dalam alam dan dalam proses evolusi Jadi, tidak perlu ada mukjizat. Kaum liberal menolak untuk membedakan antara natural dan supranatural.

Antropologi. 
Otoritas Kitab Suci dan wahyu Ilahi ditolak. Penalaran manusia ditinggikan di atas Kitab Suci dan doktrin-doktrin tradisional. Alkitab harus dipahami dari sudut pandang rasional. Apabila Alkitab berisi cerita-cerita yang secara rasional tidak dapat diterima oleh pemahaman manusia, maka mereka harus ditolak. Jadi, mukjizat-mukjizat di Alkitab harus dibuang.

Teologi harus praktis, karena itu, penalaran manusia dikombinasikan dengan pengalaman agama untuk menggantikan wahyu Ilahi dan otoritas dari Kitab Suci.

Sementara Kekristenan tradisional telah mengajarkan kemutlakan dalam kebenaran dan moral, maka liberalisme mengajarkan bahwa dunia merupakan sistem yang terbuka Bagi kaum liberal tidak ada kemutlakan; pernyataan dogmatik tidak dapat dibuat. Segala sesuatu dapat dipertanyakan, termasuk Alkitab dan doktrin-doktrin tradisional yang dianut selama ini. Teologi tradisional harus ditolak, karena hal itu merupakan sistem yang baku, sementara liberal mengakui kemungkinan perubahan secara konstan.

Dengan hadirnya Era Penalaran dan ilmu pengetahuan modern, kaum liberal bermaksud untuk membuat Kekristenan dapat dipahami oleh orang-orang Mereka berusaha untuk membuang istilah-istilah kuno dan menyetujui hal-hal yang sejalan dengan penalaran manusia dan ilmu pengetahuan modern. Kekristenan tidak dilihat sebagai sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman, Kekristenan liberal harus berkaitan dengan semangat zaman.

Soteriologi.
Dalam usaha liberalisme untuk relevan, penekanan pada keselamatan pribadi dari hukuman kekal ditolak, hal itu dianggap tidak relevan. Dengan semangat keoptimisan, liberalisme menetapkan untuk mendatangkan kerajaan melalui usaha manusia; jadi, injil sosial menjadi berita mereka. Kerajaan Allah bukan berkaitan dengan masa yang akan datang, masa supranatural, tetapi sudah ada di sini dan sekarang melalui penerapan prinsip-prinsip dan etika Yesus.

Adalah penting untuk mencatat bahwa tidak semua kaum liberal-setidaknya bukan di awal tahap dari liberalisme-mengajarkan berita sosial. Liberalisme pada masa permulaan adalah teoritis. Reinhold Niebuhr, seorang teologi neo-ortodoksi, melihat ketidakadilan sosial selama pelayanannya di Detroit dan menjadi seorang kritikus yang vokal dari liberalisme. Injil sosial secara luas merupakan fenomena di Amerika pada abad ke sembilan dan pada permulaan abad dua puluh.

PENEKANAN STANDAR LIBERAL
Sebagai hasil dari penekanan liberalisme pada penalaran manusia dan metode ilmiah dapat terlihat pada ditinggalkannya doktrin-doktrin historik Kristen. Doktrin depravitas total dan dosa asal ditolak; manusia tidak dilihat sebagai yang jahat tetapi sebagai yang pada dasarnya baik. Manusia dapat diarahkan untuk melakukan yang baik melalui pendidikan. Keilahian Yesus ditolak; Yesus adalah guru yang baik dan manusia yang ideal. Ia merupakan teladan bagi yang lain. Mukjizat-mukjizat di Alkitab disangkali, karena semua itu tidak harmonis dengan penalaran manusia dan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern.

PARA TEOLOG LIBERAL & PENEKANANNYA
Teolog : Schleiermacher 

Penekanan : Menekankan perasaan dan pengalaman; bapak dari religius liberalisme modern.

Pandangan tentang Doktrin-doktrin Kristen : Tolak Kejatuhan, dosa asal, kelahiran dari anak dara, dan penebusan substitusionari. Dosa adalah minat di dunia; iman adalah perasaan, bukan respons terhadap apa yang dikatakan Allah.


Teolog : Ritschl 

Penekanan : Menekankan aspek etikal dan praktikal; pengajarannya menjadi dasar bagi injil sosial.

Pandangan tentang Doktrin-doktrin Kristen : Tolak dosa asal, inkarnasi, keilahian, penebusan, dan kebangkitan Kristus. Sangkal mukjizat. Definisikan dosa sebagai keegoisan.


Teolog : Harnack 

Penekanan : Mengajarkan bahwa Paulus mencemarkan pengajaran Yesus dan Kekristenan. Ajarkan "kebapakan dari Allah dan persaudaraan di antara manusia."

Pandangan tentang Doktrin-doktrin Kristen : Sangkali keilahian Kristus dan penebusan substitusionari-Nya. Ajarkan bahwa Paulus mencemarkan agama Yesus.


Teolog : Baur 

Penekanan : Mengembangkan metode kritik historis. Tekankan evolusi historikal dari PB.

Pandangan tentang Doktrin-doktrin Kristen : Sangkali wahyu, inkarnasi, dan kebangkitan tubuh Kristus. Ajaran Kekristenan adalah konflik antara kelompok Yahudi (Petrus) dan non-Yahudi (Paulus).


Teolog : Bushnell 

Penekanan : Anak-anak dilahirkan baik dan dapat diajar untuk bertumbuh ke dalam Kekristenan.

Pandangan tentang Doktrin-doktrin Kristen : Melawan pertobatan seketika. Sangkali penebusan substitusionari Kristus; kematian-Nya hanya suatu teladan.


Teolog : Rauschenbush 

Penekanan : Menekankan injil sosial; kasih Yesus akan mentransformasi masyarakat.

Pandangan tentang Doktrin-doktrin Kristen : Mengajarkan bahwa injil adalah keprihatinan sosial, kepemilikan kolektif, dan distribusi barang sama rata. Tolak penebusan substitusionari dari Kristus, kedatangan-Nya kedua kali, dan neraka secara harfiah.

~ NEO LIBERALISME ~
Pengaruh Perang Dunia I menghembuskan kematian pada garis liberalisme yang lama" Setelah itu, liberalisme yang baru, yang disebut "teoloqi realistik" dibentuk.

1. Harry Emerson Fosdick (1878-1969).
Merupakan "bapak pendiri" dari liberalisme baru" la mendapatkan pendidikan dari Union Theological Seminary yang liberal di New York City" Fosdick menjadi pengkhotbah yang sangat populer di Riverside Church di New York. Ia menulis lebih dari tigapuluh buku, dan setiap minggu mengisi acara di radio, dan sebagai pendeta yang populer di New York, maka ia menjadi jurubicara neo-liberalisme yang paling populer pada zamannya

Fosdick menyerang baik fundamentalis dan liberal. Ia menjadi terlibat dalam perdebatan liberal-fundamentalis dan pada tahun 1922 berkhotbah (dan kemudian diterbitkan) tentang topik "Shall the Fundamentalists Win?" Tahun 1935, ia mengkhotbahkan khotbahnya yang terkenal di New York berjudul "The Church Must Go Beyond Modernism" la menuduh modernisme telah terlalu dipengaruhi oleh intelektualisme, terlalu sentimentil, terlalu menurunkan konsep dari Allah, dan terlalu baik diharmonisasikan dengan dunia modern. Ini menandai arah baru dari liberalisme, dan sebagai hasil dari tantangan Fosdick, maka lahirlah neo-liberalisme. Neo-liberalisme menolak filsafat idealistik dan subjektivisme dari liberalisme lama; neo-liberalisme mencari Allah di luar manusia, bukan di tengah manusia.

2. Walter M. Horton.
Merupakan pelopor lain yang mengarahkan ulang liberalisme.
Meskipun Horton menetapkan untuk mempertahankan beberapa dari liberalisme, namun ia bersama dengan neo-liberal yang lain, tidak memperlihatkan suatu pandangan manusia yang optimistik. Ia mengakui bahwa keterpisahan manusia dari Allah telah mengakibatkan perang dan penderitaan manusia. John C. Bennett adalah tipikal dari penganut neo-liberal yang memperhitungkan dosa secara lebih serius. Bennett juga menolak "skeptikisme, subjektivisme, dan arbritarinasi" dan menekankan kepentingan dari suatu "keputusan iman". la melihat ketidakcukupan dari "humanisme religius yang cukup pada dirinya dan naturalisme reduktif" dan membuka pintu pada kemungkinan pewahyuan. Selain itu, Bennett tidak mau mengakui ide tentang tema Kristologi dalam PL. Ia juga bersedia untuk menerima inti dari kritikisme tinggi.

Organisasi di seluruh dunia yang pada mulanya menyatukan kaum teologi liberal adalah Federal Council of Churches pada tahun 1908. Organisasi ini didahului oleh World Council of Churches, yang didirikan pada tahun 1948 dengan dukungan utamanya dari denominasi-denominasi tradisi Protestan yang berpegang pada pandangan liberal secara teologis

DOKTRINAL DARI NEO-LIBERALISME 
Bibliologi.
 Alkitab diperhitungkan lebih serius dalam neo-liberalisme, sebagaimana terlihat pada studi yang serius dari orang-orang seperti C H. Dodd (1884-1973). Namun demikian presuposisi dari liberalisme lama, yaitu kritikisme tinggi dan penyangkalan tentang inspirasi, tetap dianut oleh neo-liberal.

Antropologi.
 Neo-liberal mempertahankan kepercayaan dasar dari liberal yang lama berkaitan dengan natur manusia. Mereka melihat manusia pada dasarnya adalah baik, tidak jahat, tetapi "sesuatu yang baik, yang tercemar" Namun, neo-liberal tidak optimis tentang membangun suatu utopia di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh liberal yang lama.

Hamartiologi. 
Neo-liberal lebih realistik tentang dosa daripada liberal yang lama.
Untuk menyelesaikan dilema dari manusia, John C. Bennett mengusulkan pengakuan sebagai berikut: (1) "konsep dosa, yang seringkali merupakan pemilihan yang salah disebabkan oleh penipuan terhadap diri sendiri"; (2) "kehadiran dosa pada setiap tahap dari pertumbuhan moral dan spiritual"; (3) "kemungkinan untuk menyelesaikan semua masalah manusia satu kali dan untuk seterusnya dengan suatu perubahan dalam masyarakat adalah suatu ilusi"; (4) "keharusan untuk pertobatan yang terus-menerus". Namun, neo-liberal tidak mengakui dosa asal dan total depravitas dari umat manusia.

Kristologi. 
Neo-liberal memiliki pandangan yang lebih tinggi tentang Kristus daripada liberal yang lama, Neo-liberal berbicara tentang "keilahian" dari Kristus (meskipun mereka menolak pernyataan ortodoksi akan kepenuhan dan ketidakcacatan keilahian-Nya); namun demikian, mereka menolak konsep bahwa referensi akan keilahian Kristus menuntut kepercayaan terhadap kelahiran anak dara. Tanpa mengakui penebusan substitusionari, neo-liberal memberikan pengakuan yang lebih besar akan kematian Kristus, dengan menyatakan bahwa melalui kematian-Nya, gereja telah lahir dan individu-individu diinfus dengan kuasa Allah.
Penekanan NEO LEBERAL:
Sebagai kontras dengan liberalisme lama, neo-liberal memiliki pandangan yang lebih rendah tentang manusia dan pandangan yang lebih tinggi tentang Allah. Namun, mereka tidak kembali pada liberalisme lama. Pada intinya, Neo-Liberalisme tetap mempertahankan esensi dari liberalisme lama.

Demikianlah beberapa hal yang perlu kita ketahui dan waspadai bahwa tangan-tangan Iblis sudah meramu serta meracik suatu racun berbahaya untuk mencuci otak orang-orang percaya. Waspadalah...waspadalah. Gereja harus tetap berdiri dengan pengajaran yang benar dan tetap teguh berdiri dan menggembalakan jemaat dengan benar sesuai firman Tuhan.


Ref ;
~ Paul Enns, The Moody Handbook of Theology, Buku Pegangan Teologi, Saat, Malang, 2007, p 92-93, 195 – 207.

~ TEOLOGI NEO-ORTODOKSI, di 
teologi-neo-ortodoksi-vt2082.html

Sabtu, 02 November 2013

KEPEMIMPINAN KRISTEN

KEPEMIMPINAN KRISTEN  ( By David Yehuda )


I. PENGERTIAN
Pemimpin berasal dari
kata asing “ Leader “ & Kepemimpinan > Leadership

Pemimpin > seorang pribadi yg memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan & kekuasaan untuk menggerakkan org lain.

Kepemimpinan > proses mempengaruhi aktivitas seseorang / kelompok org untuk mencapai tujuan & sasaran dalam situasi tertentu.
II. PREMIS / DALIL DASAR KEPEMIMPINAN
Premis atau dalil dasar kepemimpinan Kristen adalah berlandaskan ajaran Alkitab. Secara khusus, peremis mengenai pemimpin dalam kepemimpinan meliputi tiga hal penting, yaitu antara lain:  Satu, Panggilan Sebagai Pemimpin Kristen;  Dua, Dasar Teologi Kepemimpinan Kristen;  dan Tiga, Dasar Etika-Moral Kepemimpinan Kristen.
A. Panggilan Sebagai Pemimpin Kristen

Kepemimpinan Kristen didasarkan atas premis utama, yaitu bahwa TUHAN, oleh kehendak-Nya yang berdaulat, menetapkan serta memilih setiap pribadi dalam lingkup dan konteks pelayanan menjadi pemimpin Kristen. Pemimpin yang dipanggil oleh TUHAN ini adalah untuk pelayanan memimpin.
“Pemimpin Kristen adalah seseorang yang telah dipanggil TUHAN sebagai PEMIMPIN yang ditandai oleh adanya:
1. Kapasitas memimpin dan
2. Tanggung jawab pemberian TUHAN.
Untuk
3. Memimpin suatu kelompok umat TUHAN (gereja)
4. Mencapai TUJUANNYA bagi, serta melalui kelompok ini”

B. Dasar Teologis Filosofis Kepemimpinan Kristen

Dasar teologis-filosofis yang harus dipahami dan harus ada pada seorang pemimpinan Kristen ialah:
1. Pemimpin Kristen harus memahami dasar kepemimpinan Kristen bahwa ia terpanggil sebagai – “pelayan-hamba” (Makus 10:42-45). Sebagai pelayan, pemimpin terpanggil kepada tugas yang olehnya ia menjadi pemimpin. Sebagai hamba, ia terpanggil dengan status menghamba kepada TUHAN, yang harus diwujudkan dalam sikap, sifat, kata, dan perbuatan.
2. Pemimpin Kristen harus memiliki motif dasar kepemimpinan Kristen yaitu;
Satu: “membina hubungan” dengan orang yang dipimpinnya dan orang lain pada umumnya (Markus 3:13-19; Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16). Dalam kaitan ini, perlulah disadari bahwa kadar hubungan-hubunganlah yang menentukan keberhasilan seseorang sebagai pemimpin.
 Dua: “mengutamakan pengabdian” (Lukas 17:7-10). Mengutamakan pengabdian menekankan bahwa “kerja” adalah fokus, prioritas, sikap serta tekanan utama, sehingga ia akan mengabdikan diri untuk melakonkan tugas kepemimpinan dengan sungguh-sungguh.
3. Pemimpin Kristen harus memahami PROSES KEPEMIMPINAN serta ketrampilan memimpin, antara lain:
a. Ia harus mengetahui tujuan (tujuan Tuhan, tujuan organisasi, tujuan operasi kerja) dari institusi/organisasi yang dipimpinnya.
b. Ia perlu mengenal tanggung jawab serta tugas yang dipercayakan kepadanya.
c. Ia harus memahami dan mengenal fungsi pengelolaan kerja (manajemen) – (Lukas 14:28-30).
d. Ia harus berupaya mengenal setiap orang yang dipimpinnya untuk mempermudah penggalangan serta pembinaan hubungan antara pemimpin-bawahan, sebagai dasar untuk melaksanakan kinerja kepemimpinan yang berkualitas. Kondisi hubungan baik antara pemimpin dengan para bawahan sangat menentukan pelaksanaan kerja yang dapat dilakukan dengan baik pula.
e. Ia harus mengerti dengan baik bagaimana caranya mencipta hubungan, kondisi yang kondusif, serta pemenuhan kebutuhan dari bawahannya dalam upaya memperlancar upaya dan kinerja kepemimpinan.

C. Dasar Etika-Moral Kepemimpinan Kristen
Kepemimpinan Kristen memiliki dasar etika-moral yang Alkitabiah. Dalam kepemimpinan Kristen, presuposisi dasar etika-moral dilandaskan atas fakta dan dinamika “teladan Yesus Kristus (Yohanes 1:1-14, 18; Filipi 2:1-11). Konsep inkarnasi dalam kepemimpinan Kristen yang dibangun di atas fakta “keteladanan Yesus Kristus” yang memiliki kisi kebenaran.
1. Dasar perilaku etika-moral kepemimpinan Kristen adalah pribadi Yesus Kristus, termasuk: kehidupan, karya, ajaran dan perilaku-Nya, di mana seluruh kerangka kepemimpinan Kristen dibangun di atas dasar ini (I Yohanes 2:6).
2. Orientasi dan pendekatan etika-moral kepemimpinan Kristen bersifat partisipatif yang berlaku dalam penerapan kepemimpinan Kristen pada segala bidang hidup (Lukas 4:18-19).
3. Dinamika etika-moral kepemimpinan Kristen terwujud oleh adanya transformasi hidup (individu/masyarakat) yang dibuktikan dengan pertobatan/pembaharuan/pemulihan hidup dan semangat kerja (individu/korporasi; banding: Roma 12:1-2, 8, 9-21).
4. Perwujudan dasar etik-moral kepemimpinan Kristen haruslah dinyatakan dalam sikap hati, kata dan perbuatan serta bakti setiap pemimpin Kristen secara nyata dalam bidang hidup berikut:
a. Pemimpin Kristen harus membuktikan diri sebagai pemimpin bertanggung jawab (Ibrani 13:17).
b. Pemimpin Kristen harus menemukan diri sebagai pemimpin yang bertumbuh (Kolose 2:6-7; 3:5-17).
c. Pemimpin Kristen harus menjadi pemimpin model dalam keteladanan hidup dan kinerja (Ibrani 13:7-8).
d. Pemimpin Kristen harus memiliki: motivasi dasar Pelayan-Hamba (Markus 10:42-45), yang senantiasa menyadari akan status dan perannya sebagai pemimpin.
Motivasi dasar seseorang pemimpin seperti ini akan sangat menentukan sikap, perilaku, kata ddan tindakan dari orang tersebut, baik terhadap diri, orang lain maupun pekerjaan. Karena itu, seorang pemimpin Kristen perlu memastikan apakah ia memiliki dasar etika-moral, orientasi dan motivasi yang sesuai dengan Firman Tuhan.

III. TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
1. BERDASARKAN SIKAP PEMIMPIN TERHADAP ORGANISASI
2. BERDASARKAN KEKUASAAN
3. BERDASARKAN ORIENTASI PEMIMPIN
4. BERDASARKAN SEGI LANDASAN PENGARUH
5. BERDASARKAN KEPRIBADIAN
Maksud dari tipe-tipe kepemimpinan ini adalah sbb :
~ BERDASARKAN SIKAP PEMIMPIN TERHADAP ORGANISASI.
a. Climbers
Climbers, ialah tipe pemimpin yang selalu haus akan kekuasaan, prastige dan kemajuan diri, berusaha maju terus menerus dengan kekuasaan sendiri, oportunistis, agresif, suka dan mendorong perubahan dan perkembangan dan berusaha berombak terus menerus.
b. CONSERVERS
Conservers, ialah tipe pemimpin yang mementingkan jaminan dan keenakan, mempertahankan statusquo memperkuat posisi yang telah dicapai, menolak perubahan, deFensiFda statis.
c. ZEALOTS
Zealots, ialah tipe pemimpin yang bersemangat untuk memperbaiki organisasi, mengutamakan tercapainya tujuan, mempunyai visi, menyendiri aktif, agresif, bersedia menghadapi segala permusuhan dan pertentangan, tegas, mempunyai dorongan yang keras untuk maju, tidak sabaran untuk mengadakan perbaikan dan menentukan sesuatu yang baru, mementingkan kepekaan daripada human relations.
d. ADVOCATES
Advocates, ialah tipe pemimpin yang ingin mengadakan perbaikan organisasi, terutama bagiannya sendiri, mementingkan kepentingan keseluruhan organisasi daripada kepentingan diri sendiri, pejuang yang gigih dan bersemangat untuk kepentingan orang-orang dan programnya, bersedia menghadapi pertentangan apabila mendapat dukungan dari kolega-koleganya, sangat responsif terhadap ide-ide dan pengaruh orang lain, keluar bersedia mempertahankan kelompok dengan tindakan partisan, ke dalam bersikap jujur dan tidak menyebelah.
e. STATESMEN
Statesmen, ialah tipe pemimpin yang mementingkan tujuan organisasi secara keseluruhan dan misi organisasi, berusaha berdiri di atas kepentingan-kepentingan, tidak menyukai pertentangan yang merugikan pihak-pihak yang bersangkutan, berusaha mempertemukan pertentangan.

2. BERDASARKAN KEKUASAAN

a. AUTORAIC LEADER
Autoraic leader, ialah tipe pemimpin yang menggantungkan terutama pada kekuasaan formalnya, organisasi dipandang sebagai milik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, hak dan wewenang adalah milik pribadi. Leadership adalah hak pribadi, bawahan adalah alat, ia harus mengikuti saja, tidak memberi kesempatan kepada bawahan untuk ikut mengambil bagian dalam pengambilan keputusan, tidak mau menerima kritik, saran atau pendapat, tidak mau berunding dengan bawahan, keputusan diambil sendiri, memusatkan kekuasaan untuk mengambil keputusan, mempergunakan intimidasi, paksaan atau kekuatan dan mengagungkan diri.
b. PARTCIPATIVE LEADER
Partcipative leader, juga disebut pemimpin yang demokratis, ialah tipe pemimpin yang memandang manusia adalah manusia yang termulia, memimpin dengan persuasi dan memberikan contoh, memperhatikan perasaan pengikut, mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi pengikut, mengutamakan kepentingan organisasi dan kepentingan pengikut, senang menerima saran, pendapat atau kritik, menerima partisipasi informil dari kelompok, memanfatkan pendapat-pendapat kelompok, menunggu persetujuan kelompok, menunggu persetujuan kelompok, berunding dengan pengikut, mengutamakan kerja sama, mendesentralisasikan wewenang, memberikan kebebasan untuk bawahan untuk bertindak, menstimulir inisiatif, mendorong partisipasi pengikut dalam pengambilan keputusan, memberikan informasi yang luas kepada pengikut, membuat pengikut lebih sukses.
c. FREE REIN LEADER
Free rein leader, disebut juga pemimpin yang liberal, ialah tipe pemimpin yang menghindari kekuasaan, tergantung pada kelompok anggota, kelompok memotivasikan diri sendiri, hanya bertindak sebagai perantara dengan dunia luar untuk menyajikan informasi kepada kelompok, tidak berhasil memahami sumbangan management, tidak dapat memahami peranan motivasi yang diberikan dan melakukan pengendalian yang minimal

3. BERDASARKAN ORIENTASI PEMIMPIN
a.  Yang berorientasi pada pengikut / pegawai.
       pemimpin yg terfokus kepada pengikut dan lebih menyenangkan pengikut daripada hasil karena takut kehilangan simpati.

 b.   Yang berorientasi pada produksi.
       Pemimpin yang mengutamakan hasil dari pekerjaan / produksi diutamakan di atas kepentingan pengikut demi kepuasan dari sebuah pekerjaan.
4. BERDASARKAN CARA MEMOTIVASI
Dalam hal ini, terbagi dalam tipe pemimpin yang positif dan pemimpin yang negatif. Pemimpin yang negatif, ialah tipe pemimpin yang menekankan kepada perangsang yang bersifat negatif, misalnya ancaman, hukuman dan lain-lain. Sedangkan tipe pemimpin yang positif, ialah pemimpin yang dalam memotivasikan pengikutnya menekankan pada pemberian hadiah.
5. BERDASARKAN SEGI LANDASAN YG DIPERGUNAKAN UNTUK MEMPENGARUHI PENGIKUT
Pemimpin tradisional, berusaha mempengaruhi pengikutnya berdasarkan tradisi yang ada.
Pemimpin yang kharismatik, mempergunakan kharismanya
Pemimpin rasional, kadang-kadang disebut pemimpin birokratis oleh karena pemimpin tipe ini biasanya terdapat di dalam organisasi birokratis, mempergunakan rasio untuk mempengaruhi pengikutnya.
6. BERDASARKAN KEPRIBADIAN
a) Tipe ekonomis, tipe yang perhatiannya dicurahkan kepada segala sesuatu yang bermanfaat dan praktis.
b) Tipe aesthetis, yaitu tipe yang berpendapat bahwa nilai yang tertinggi terletak pada harmoni dan individualitas.
c) Tipe teoritis, yaitu tipe yang perhatian utamanya ialah menemukan kebenaran hanya untuk mencapai kebenaran, perbedaan dan rasionalitas.
d) Tipe sosial, yakni tipe pecinta orang lain, tujuan akhirnya adalah orang lain. Berhubungan dengan sifatnya yang ramah tamah, simpatik, dan tidak mementingkan diri sendiri.
e) Tipe politis, yaitu tipe yang perhatian utamanya diarahkan kepada kekuasaan, menginginkan kekuasaan perseorangan, pengaruh dan reputasi.
F) Tipe religious, yaitu tipe yang berpendapat bahwa bahwa nilai yang tertinggi ialah pengalaman yang memberikan kepuasan tertinggi dalam kehidupan spritual dan bersifat mutlak.

IV. PERSYARATAN-PERSYARATAN SEORANG PEMIMPIN
~ PERSYARATAN MORAL :
1. SEORANG YANG TAK BERCACAT
2. HARUS SUAMI DARI SATU ISTERI
 3. STABIL / MAMPU MENGUASAI DIRI
 4. BUKAN PEMARAH
5.  BUKAN HAMBA UANG
     ( 1 Tim 3:1-7 )

~ DOMINAN POSITIF :
1. SOPAN
2.  SUKA MEMBERI TUMPANGAN
3.  CAKAP MENGAJAR
 4. DAPAT DIPERCAYA & BERTANGGUNGJAWAB
 5. BIJAKSANA
 6. ANTUSIAS DAN PEKA

~ MEMILIKI KEDEWASAAN ROHANI :
1. TAKUT AKAN TUHAN
2.  BUKAN SEORANG YANG BARU BERTOBAT
 3. MENYATU PERKATAAN & TINDAKAN

V. SIKAP PRAKTIS SEORANG PEMIMPIN KRISTEN
          A. MEMANDANG POSITIF KESULITAN YANG ADA
Bagi seseorang yang berpandangan luas, tidak terlalu sulit untuk menganalisis suatu perkara dengan positif. Umumnya, kesulitan yang timbul itu memungkinkan seseorang pemimpin mulai membuat sejarah baru dalam kepemimpinannya. Sisi lain dari setiap kesulitan ialah bahwa kesulitan dapat membawa kita kepada ketidakmampuan, yang akhirnya frustasi. Tetapi, pemimpin yang sesungguhnya ialah yang senantiasa melihat kesulitan, sebagai kesempatan untuk menemukan perkara yang baru dalam membuat satu sejarah. Sedang pemimpin yang melihat kesulitan sebagai "satu kesulitan" ialah pemimpin yang pesimis.
          B. MENGHINDARI KETEGANGAN
Di dalam kepemimpinan -- yang besar maupun kecil, hal-hal yang sering menganggu kelancaran kerja ialah "ketegangan" dalam berpikir. Banyak pemimpin menempuh cara yang salah untuk menghindari penyakit ini, dengan alasan "mengendurkan saraf". Cara yang tepat untuk menghindari ketegangan ialah "humor". Kedengarannya istilah ini terlalu sepele, tapi jangan keliru. Humor merupakan pemberian Tuhan. Humor yang dimaksudkan di sini ialah humor yang dapat dikendalikan, sebab humor yang tidak dapat dikendalikan akan merusak nilai kepemimpinan.
           C. MENGONTROL AMARAH
seorang pemimpin perlu juga marah. Dalam Alkitab terdapat dua macam kemarahan -- kemarahan yang adalah dosa dan kemarahan yang suci. Dosa marah yang dimaksud adalah kemarahan yang hanya berpusat pada diri sendiri, nafsu, daging -- semuanya berpusat pada kepentingan diri
Kemarahan yang suci ialah kemarahan yang berpusat kepada kemuliaan TUHAN. Alkitab berbicara tentang Tuhan Yesus marah dua kali. Tapi dua-duanya mempunyai nilai untuk kemuliaan Bapa.


VI. BAGAIMANA MENJADI PEMIMPIN YANG VISIONER
~MEMILIKI  SUMBER KEKUATAN DENGAN LANDASAN IMAN & FIRMAN TUHAN.
~MELIHAT SEGALA SESUATU DENGAN KACA MATA TUHAN.
~TAAT KEPADA RENCANA TUHAN.
~MELIBATKAN ORANG LAIN UNTUK MENCAPAI TUJUAN.
~MERENCANAKAN SEGALA SESUATU DENGAN MATANG & MENERAPKANNYA DENGAN BAIK.

VII.  PEMIMPIN SEBAGAI MENTOR
a. MELIHAT KUALITAS-KUALITAS BAIK
Kualitas pertama seorang mentor adalah melihat sesuatu yang ideal dalam hidup mentori. Kita tidak mungkin menginvestasikan diri kita kepada orang yang menurut kita tidak layak mendapatkan investasi.
CONTOH : Paulus memperlihatkan kemampuannya memandang melampaui permukaan hidup Timotius dan bersaksi tentang kualitas-kualitas baik, yang dengan mudah terabaikan oleh orang lain.
b. MENDORONG MENTORI AGAR MEMELIHARA KARUNIANYA
Paulus menyatakan bahwa Timotius harus "memelihara harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya" dalam hidupnya (2 Timotius 1:14). Dalam 2 Timotius 2:1-7, kita menemukan Paulus memberikan petunjuk yang jelas kepada anak didiknya tentang cara untuk menginvestasikan karunia istimewanya. Secara khusus, Paulus menggunakan tiga analogi untuk menyampaikan pesan pemeliharaan ini. Pertama, Timotius harus berpikir seperti seorang prajurit yang mengetahui bahwa kesetiaan utamanya adalah kepada komandannya. Kedua, Timotius harus berpikir seperti seorang olahragawan yang menyerahkan hidupnya kepada kedisiplinan yang akan membangun parameter-parameter tingkah laku dan kebiasaan di dalam kehidupannya. Yang terakhir, dia harus berpikir seperti seorang petani yang memahami bahwa pada akhirnya, ia akan menikmati segala hasil usahanya
c. MEMBERI PERINGATAN TENTANG KELEMAHAN-KELEMAHAN MENTORI
Kita melihat Paulus memperingatkan Timotius tentang bidang-bidang yang menjadi kelemahannya. Dalam 2 Timotius 2:20-23, Paulus meninjau bidang-bidang yang dapat menjadi kekuatannya dan bidang-bidang lain yang dapat menyebabkan kelemahannya.
Paulus langsung menantang Timotius bahwa beberapa sifatnya akan melemahkan hidupnya sampai pada titik ketidakefektifan, sementara itu kualitas-kualitas yang lain akan memperkuatnya. Sebagai mentor yang bijaksana, Paulus menekankan bahwa kualitas-kualitas karakter ini terletak dalam tanggung jawab Timotius sendiri.
d. MENYATAKAN PERLUNYA KEGIGIHAN
Mentoring yang bijaksana tidak hanya menunjukkan puncak kehidupan yang dijalani dengan baik, tetapi juga kebenaran bahwa kegigihan dalam menjalankan tugas-tugas yang sangat berat pun sangat diperlukan.
Secara realistis Paulus menunjukkan cakupan kesulitan yang harus dihadapi Timotius dalam 2 Timotius 3:1-9. Hal ini mencerminkan bahwa Paulus memahami konteks pelayanan Timotius seringkali dapat terasa berat.
e. MENJADI TELADAN
Paulus menunjukkan bahwa dirinya sendiri adalah teladan yang baik bagi Timotius. Tidak ada ucapan "lakukan seperti apa yang kukatakan, jangan seperti apa yang kulakukan" dari Paulus. Sebaliknya, dia dengan tegas menyarankan agar Timotius mengikuti teladan tentang bagaimana dia berinvestasi dalam hidupnya, dan bahwa dia tidak akan kecewa (2 Timotius 3:14).
Paulus menggunakan frasa bahwa dia "sudah mulai dicurahkan sebagai anggur persembahan" (2 Timotius 4:6). Nilai utama Paulus dalam memuliakan Tuhan ditampilkan kepada Timotius saat dia menjelaskan pemahamannya bahwa ia siap menjadi anggur persembahan.

VIII.  PEMIMPIN SEBAGAI GEMBALA
Secara garis besar prinsip-prinsip kepemimpinan gembala adalah “4 M”, yang terdiri dari :
M = Mengenal.
M = Mengasuh.
M = Mengayomi.
M = Melindungi.

a. MENGENAL
“Mengenal” dalam filosofi gembala tidaklah sekadar mengetahui atau memahami keberadaan fisik secara visual semata, namun aspek yang lebih penting justru unsur lain yang tersembunyi di balik fisik tersebut, seperti naluri,  karakter, atau tabiat. Mengenal secara fisik barulah sebagian dari eksistensi ternak secara utuh. Gembala yang baik adalah gembala yang mengenal ternak yang digembalakannya secara utuh. Namun, agar seorang gembala mampu mengenal ternaknya secara utuh, maka mau tidak mau, ia harus memiliki hubungan emosional yang intim dengan ternak gembalaannya.
b. MENGASUH
Mengasuh adalah falsafah kepemimpinan gembala berkaitan dengan tanggung jawabnya yang menyeluruh terhadap kesehatan psikis maupun fisis seluruh ternak yang digembalakannya. Mengasuh meliputi memberikan  makanan yang bergizi kepada ternak, merawat sehingga terhindar dari kemungkinan terserang berbagai sakit-penyakit, memelihara pertumbuhan dan perkembangan mereka serta mendidik mereka agar menjadi ternak yang tertib, teratur, dan memiliki disiplin. Seorang gembala tidak akan pernah membiarkan ternak-ternaknya berkeliaran tanpa pengawasan, menghabiskan makanan tanpa kendali, mati kelaparan, atau terserang sakit-penyakit karena tidak terurus dengan baik.
c. MENGAYOMI
Mengayomi, mengandung makna memberikan perlindungan penuh  tanpa batas sehingga menciptakan rasa aman dan nyaman terhadap komunitas yang dipimpin. Tindakan mengayomi dapat diibaratkan laksana induk ayam yang mengerami anak-anaknya di bawah kepak sayapnya. Dengan demikian, anak-anaknya tidak hanya merasakan adanya jaminan keamanan dari sang induk terhadap gangguan musuh, tetapi juga kenyamanan karena mendapatkan kehangatan dari tubuh sang induk.
Untuk melakukan pengayoman, seorang pemimpin harus melaksanakan tindakan-tindakan sebagai berikut:
Melayani tanpa pandang bulu, Melayani secara adil., Menghilangkan intrik-intrik,Menghilangkan diskriminatif.

IX.  HAL YANG UTAMA DALAM KEPEMIMPINAN GEREJA
1. Memandang budaya dari perspektif menyeluruh orang Kristen.
2. Memiliki fokus hidup, baik secara individu maupun dalam persekutuan dengan orang lain, untuk memuliakan Tuhan.
3. Memiliki wawasan Alkitab yang melibatkan sebuah hierarki doktrin, komitmen pada otoritas mutlak Alkitab, dan rasa hormat yang besar pada orang lain yang mungkin tidak setuju dengan interpretasinya yang mungkin keliru.
4. Penyerahan seluruh aspek kehidupan kepada Kristus -- termasuk karakter, iman, dan sikap -- secara progresif.
5. Hidup yang mengubahkan, kerinduan untuk tidak hanya mengomunikasikan kebenaran, namun kebenaran yang menghasilkan buah dalam hidup orang lain.
6. Kesediaan untuk keluar dari zona nyaman demi kepentingan Injil. Hal ini membutuhkan kesediaan untuk mengembangkan gereja menurut cara Tuhan dan mengenali sifat gereja yang pada dasarnya heterogen.
7. Komitmen untuk terlibat secara pribadi dengan orang lain. Hidupnya haruslah hidup yang dapat dipertanggungjawabkan pada tingkat ilahi yang paling intim.
8. Seorang pemimpin haruslah mudah menerima kritik, sederhana, dan toleran.

X.  SIFAT-SIFAT PRIBADI DALAM KEPEMIMPINAN
~ KEINGINAN BERPRESTASI.
     Ambisi dikenal dengan banyak nama: motivasi, dorongan, antusiasme, atau harapan untuk meraih prestasi. Apa pun namanya, sifat ini penting karena keinginan adalah dasar seseorang untuk memacu diri sendiri. Jika tidak, orang tersebut akan berpuas diri menjadi pengikut, alih-alih pemimpin.
     Seseorang yang mempunyai tujuan dan cita-cita yang jelas mengetahui ke mana arah langkahnya. Dia akan mencapai lebih banyak hal daripada orang-orang yang tidak memunyai tujuan yang jelas. Para pemimpin mendapatkan kepuasan terbesar saat mereka mencapai tujuan-tujuan mereka; mereka selalu mencari dunia-dunia baru untuk ditaklukkan. Mereka biasanya memunyai ego yang kuat.
~ MENERIMA OTORITAS
Keberhasilan dalam kepemimpinan membutuhkan kepekaan yang kuat dalam menggunakan otoritas tepat pada waktunya. Hal ini tercermin dalam kemampuan pemimpin untuk memberikan perubahan dalam kelompok atau perorangan. Ketika seseorang membuat penilaian yang tepat, dia dapat memberikan motivasi atau bertindak tepat pada waktu yang tepat. Kemampuan inilah yang membentuk otoritas seseorang untuk mengelola kelompoknya.
~ DISIPLIN DIRI
Kedisiplinan adalah persyaratan untuk kepemimpinan yang berhasil. Untuk mengendalikan orang lain, seorang pemimpin harus memunyai kendali diri yang baik. Kualitas ini penting karena hanya orang yang memunyai disiplin diri yang baik, yang dapat mengukur tingkatan kedisiplinannya. Lewat pengalaman, dia telah mempelajari cara menunjukkan ketegasan, pengorbanan, dan permintaannya.
~ KREATIVITAS
Orang yang berpikir kreatif adalah orang yang mampu membuat gagasan yang orisinal. Berpikir kreatif melibatkan imajinasi yang dikelola menurut rencana dari inisiatif diri sendiri. Pemimpin kreatif mengumpulkan ide dari berbagai sumber dan mengintegrasikannya sampai mencapai hasil akhir.
Berpikir kreatif bukanlah melamun, tetapi usaha yang nyata untuk mewujudkan aktivitas mental. Psikolog mengatakan bahwa karya kreatif bisa menjadi sebuah kebiasaan oleh orang yang tekun melatih diri untuk berpikir kreatif.
~ DELEGASI
Pemimpin yang baik tidak akan menerapkan cara-cara otoriter untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lawan dari metode otoriter adalah delegasi: seorang pemimpin yang mengizinkan bawahannya untuk bertanggung jawab atas tugas yang diterimanya. Kepemimpinan yang berkualitas tidak dapat dipertahankan jika seorang manajer merasa bahwa dia harus melakukan semuanya.

XI.  HARGA SEBUAH KEPEMIMPINAN
~ KRITIKAN.
Kritik adalah sebuah harga mahal yang dibayar oleh para pemimpin. Jika seseorang tidak dapat mengelola kritik, hal itu berarti pada dasarnya ia belum matang secara emosional. Kekurangan ini pada akhirnya akan muncul dan menghalangi kemajuannya dan kelompoknya mencapai tujuan bersama. Setiap pemimpin harus mengantisipasi beberapa hal semacam itu. Namun, kritik bisa berujung pada kebaikan jika sang pemimpin mampu menerimanya.
~ KELETIHAN
Pemimpin yang bijaksana akan berusaha untuk menemukan keseimbangan dan mencari kesibukan lain -- sebuah perubahan irama hidup -- untuk mengurangi stres. Ia harus mencari beberapa hiburan yang menyenangkan. Para pemimpin sejati harus bersedia bangun lebih awal dan belajar lebih lama daripada orang lain. Beberapa orang mempunyai stamina luar biasa, tetapi keletihan sering kali muncul saat mereka ingin mencapai tujuan organisasi mereka dan muncul dalam tanggung jawab kepemimpinan mereka. Perawatan kesehatan, istirahat, dan keseimbangan hidup yang tepat akan membantu pemimpin menjaga kemampuannya untuk bertahan. Namun, seorang pemimpin harus siap untuk menerima harga yang harus dibayarnya, baik secara emosional maupun jasmaniah.
~ WAKTU UNTUK BERPIKIR
Harga lain yang harus dibayar oleh para pemimpin Kristen adalah waktu yang harus disisihkan untuk berpikir kreatif dan merenung. Kita jarang menganggapnya sebagai harga yang harus dibayar, namun demikianlah adanya. Kebanyakan upaya yang berhasil hanya diraih setelah berjam-jam pemikiran yang mendalam dan penelitian yang cermat.
~ WAKTU UNTUK SENDIRI
Harga keempat yang harus dibayar oleh pemimpin -- yang jarang kita perhatikan -- adalah kesediaan untuk sendirian karena ia telah kehilangan kebebasannya dengan melayani orang lain. Seorang pemimpin sejati mendukung minat, gagasan, dan cita-cita para anggotanya. Pada saat yang sama, pemimpin yang efektif harus berjuang untuk menunaikan potensi dan cita-citanya tanpa terserap ke dalam kelompok. Ini membuatnya hidup dalam kesendirian yang seimbang, berada di antara dirinya dengan kelompoknya, karena dia perlu memerhatikan orang lain sekaligus mengasingkan diri dari mereka. Semua pemimpin tangguh bersikap demikian karena mereka mampu menyamakan diri dengan kelompoknya tanpa menjadi "salah satu dari mereka." Seorang pemimpin harus siap untuk melangkah menjauh dari rombongan dan menyendiri.
~ IDENTIFIKASI
Seorang pemimpin tidak saja harus menjadi seorang diri dan terasing pada waktu yang bersamaan, namun secara berlawanan ia juga harus menyamakan diri dengan kelompoknya. Ia harus selalu berada di depan kelompoknya, namun secara bersamaan berjalan bersama orang-orang yang dipimpinnya. Ini dapat menjadi suatu perbedaan tipis. Pasti ada jarak antara sang pemimpin dan para anggotanya. Penting bagi sang pemimpin untuk mengetahui prinsip ini, namun tetap mampu berhubungan dengan rekan-rekannya. Supaya efektif, sang pemimpin tidak dapat berlari terlalu jauh mendahului kelompoknya. Alkitab dipenuhi ilustrasi yang menggambarkan para pemimpin yang menyamakan diri dengan kelompoknya. Contoh yang paling tepat adalah Tuhan Yesus, yang sering berbagi sukacita maupun dukacita dengan orang-orang.

XII.  HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN & PELATIHAN YANG DIBUTUHKAN OLEH PEMIMPIN
~ MEMILIKI STAMINA EMOSIONAL
Memimpin gereja bisa jadi sangat menguras emosi. Tingkat pengurasan emosi tergantung dari posisi pemimpin, orang-orang yang harus bekerja dengan sang pemimpin, atmosfer emosi gereja pada saat itu, dan apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Tekanan emosi dan fisik mungkin terjadi berbarengan, karena itu, ia mungkin dapat melakukan sesuatu untuk meningkatkan stamina fisiknya dan melanjutkan tugas sebagai pemimpin. Namun, ada saat-saat suatu tugas benar-benar menguras fisik. Maka ia harus memandang tugas itu dengan realistis dan membuat keputusan objektif untuk mengundurkan diri. Hal ini harus ia lakukan dengan penuh sukacita dan tanpa penyesalan. Ia tidak akan memberikan banyak manfaat pada gereja jika ia tertekan secara emosi. Kekuatan dan stabilitas emosi adalah hal mutlak bagi kepemimpinan yang efektif.
~ MEMILIKI STAMINA MORAL
Hampir semua orang menyadari kelemahannya. Hanya Anda yang tahu apakah Anda cocok secara moral untuk memimpin gereja.   Anda tahu kelemahan Anda, dan Anda tahu kapan biasanya kelemahan itu muncul. Jangan menanggung posisi kepemimpinan gereja yang sepertinya akan memberi peluang bagi Anda untuk berbuat dosa. Paulus menjelaskan hal ini dalam 1 Timotius 6. Pada ayat 9 dan 10, ia mencatat beberapa godaan yang dapat membenamkan seorang pemimpin gereja dengan mudah. Pada ayat 11, ia berkata, "Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu ...." "Menjauhi semuanya itu" berarti menjauhkan diri dengan segala upaya yang mampu kita lakukan agar kita tidak tergoda.
~ MEMILIKI PELATIHAN YANG CUKUP
*Pelatihan Alkitab
     Apakah masuk akal untuk seseorang harus memiliki wawasan menyeluruh tentang Alkitab sebelum ia melakukan tugas kepemimpinan gereja? Jelas masuk akal
*Pelatihan Teologi
     Penting sekali untuk seorang pemimpin gereja mengerti doktrin sehingga mereka dapat mengambil keputusan doktrinal, mengajar sesuatu yang doktrinal, dan melaksanakan perannya dengan cara yang doktrinal
*Pelatihan lain-lain.
    Memiliki kemampuan dari pelatihan-pelatihan lain dan untuk menampah ketrampilan untuk mendukung kepemimpinan.

XIII.  BAHAYA-BAHAYA KHUSUS BAGI SEORANG PEMIMPIN
~ KESOMBONGAN. Dosa yang paling tidak disadari oleh korbannya adalah kesombongan. Jika tidak dibendung, kesombongan akan menghalangi perkembangan pelayanan Kerajaan Tuhan karena setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN(Amsal 16:5).
~ MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI. Salah satu penyataan dari kesombongan adalah mementingkan diri sendiri, yaitu berpikir dan berbicara banyak mengenai diri sendiri maupun kebiasaan untuk membesar-besarkan prestasi dan kepentingan diri sendiri.
~ IRI HATI. Orang yang iri hati bersikap kuatir dan curiga terhadap saingannya. Iri hati ini juga erat hubungannya dengan kesombongan
~ KEPOPULERAN. Para pengikut yang memberi hormat secara berlebih-lebihan kepada para pemimpin gereja merupakan ciri ketidakmatangan rohani dan kedagingan. Kelemahan yang sama juga ditunjukkan apabila pemimpin menerima penghormatan yang berlebihan tersebut. Para pemimpin rohani memang harus sungguh-sungguh dijunjung dalam kasih karena pekerjaan mereka, tetapi penghargaan seperti itu tidak boleh menjadi pemujaan yang berlebihan.
~ TIDAK BERSALAH.  Menganggap diri tidak dapat bersalah menyebabkan hilangnya keyakinan. Bahaya untuk jatuh secara tidak disadari ke dalam bahaya yang halus, yaitu kurang kemungkinannya untuk berbuat salah.
~ MERASA SANGAT DIPERLUKAN. Banyak orang yang besar pengaruhnya telah jatuh menghadapi pencobaan dengan berpendirian bahwa mereka tidak dapat diganti oleh orang lain, dan bahwa demi pekerjaan, mereka tidak dapat melepaskan kedudukan mereka. Mereka tetap memegang kekuasaan itu lama setelah pekerjaan itu sepatutnya diserahkan kepada orang-orang yang lebih muda.
~ KEGIRANGAN & KEMURUNGAN. Seorang pemimpin mungkin sekali terlalu murung karena suatu hal dan terlalu girang karena yang lainnya. Tidak mudah untuk menemukan jalan tengah.
~ PENOLAKAN. Suatu sikap takut terhadap penolakan setelah melakukan berbagai pekerjaan dan berprestasi baik oleh lingkungan maupun orang lain.

XIV.  RAHASIA KEBERHASILAN MEMIMPIN
~ Takut akan Tuhan & peka terhadap suara Roh Kudus.
~ Mengoptimalkan seluruh kemampuan.
~ Memiliki Kemampuan berorganisasi.
~ Memberdayakan orang lain dalam mencapai tujuan dan bekerjasama  dengan baik.
~ Memiliki kredibilitas dan disiplin.
~ Memiliki prinsip pantang menyerah.


 " Demikian kiranya bisa menjadi berkat. Tuhan Yesus memberkati "